BLITAR - Perbedaan tanam bawang merah umbi dan biji TSS menjadi pertimbangan penting bagi petani sebelum memulai musim tanam. Kedua metode tersebut sama-sama mampu menghasilkan panen bawang merah, namun memiliki perbedaan mencolok dari sisi biaya produksi, kecepatan panen, hingga risiko serangan penyakit.
Selama ini, sebagian besar petani masih mengandalkan bibit umbi karena dianggap lebih praktis dan cepat menghasilkan. Namun, penggunaan True Shallot Seed (TSS) atau benih bawang merah dari biji mulai berkembang sebagai alternatif yang lebih hemat sekaligus menawarkan bibit yang lebih sehat.
Memahami perbedaan tanam bawang merah umbi dan biji TSS sangat penting agar petani dapat menentukan metode budidaya sesuai kondisi modal, luas lahan, dan target hasil panen.
Tanam Umbi Jadi Metode yang Paling Banyak Digunakan
Metode tanam menggunakan umbi sudah lama menjadi pilihan utama petani bawang merah di Indonesia. Bibit diperoleh dari umbi hasil panen sebelumnya yang dipilih, kemudian bagian ujungnya dipotong sebelum ditanam langsung di bedengan.
Baca Juga: Per Hari Ini PJT I Larang Akses Kendaraan Roda Empat Masuk Jalan Bendungan Lahor
Keunggulan sistem ini terletak pada proses pertumbuhan yang relatif cepat. Umbi yang telah memiliki calon tunas membuat tanaman lebih mudah tumbuh sehingga tingkat keberhasilannya juga cukup tinggi.
Selain itu, masa panen juga lebih singkat. Dalam kondisi normal, bawang merah sudah dapat dipanen sekitar 55 hingga 60 hari setelah proses penanaman dilakukan.
Kecepatan panen tersebut membuat sistem umbi cocok bagi petani yang ingin mempercepat perputaran modal.
Kekurangan Sistem Umbi Ada pada Biaya Bibit
Meski praktis, penggunaan umbi membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Pengadaan bibit dapat menyerap hingga sekitar 40 persen dari keseluruhan biaya produksi budidaya bawang merah.
Baca Juga: Tips Sukses Kuliah untuk Mahasiswa Baru Wajib Tahu Persiapan Ini
Besarnya biaya ini menjadi tantangan tersendiri, terutama bagi petani skala kecil yang memiliki keterbatasan modal.
Selain faktor biaya, bibit umbi juga berpotensi menjadi media penyebaran penyakit. Virus maupun jamur dari musim tanam sebelumnya bisa terbawa melalui umbi sehingga meningkatkan risiko gangguan pada tanaman.
Karena itu, pemilihan bibit berkualitas menjadi langkah penting untuk menjaga produktivitas lahan.
Sistem Biji TSS Mulai Menarik Minat Petani
Di sisi lain, metode tanam menggunakan True Shallot Seed (TSS) semakin banyak diperkenalkan kepada petani sebagai alternatif budidaya yang lebih efisien.
Berbeda dengan sistem umbi, metode ini memanfaatkan biji sebagai sumber bibit. Benih harus disemai terlebih dahulu hingga berumur sekitar 40 sampai 45 hari sebelum dipindahkan ke lahan tanam.
Tahapan tambahan tersebut memang membutuhkan waktu lebih lama, namun menawarkan sejumlah keuntungan yang tidak dimiliki sistem umbi.
Lebih Hemat dan Menghasilkan Bibit Berkualitas
Salah satu daya tarik utama metode TSS adalah biaya benih yang jauh lebih murah.
Dibandingkan bibit umbi, kebutuhan biaya benih hanya sekitar seperempatnya. Kondisi ini membantu petani mengurangi pengeluaran pada awal musim tanam.
Bibit yang berasal dari biji juga dinilai lebih sehat karena memiliki peluang lebih kecil membawa penyakit dari musim sebelumnya.
Selain itu, umbi hasil panen cenderung memiliki ukuran yang lebih seragam sehingga kualitas produk menjadi lebih baik.
Keunggulan tersebut membuat sistem TSS mulai dipandang sebagai solusi budidaya bawang merah yang lebih efisien dalam jangka panjang.
Masa Tanam Lebih Lama dan Butuh Perawatan Intensif
Meski memiliki banyak kelebihan, metode TSS juga memiliki tantangan yang harus diperhatikan.
Karena melalui proses persemaian, waktu yang dibutuhkan hingga panen menjadi lebih panjang dibandingkan sistem umbi.
Tanaman umumnya baru siap dipanen setelah berumur sekitar 70 hingga 90 hari.
Selain itu, proses penyemaian membutuhkan ketelatenan lebih tinggi. Petani harus memastikan bibit tumbuh optimal sebelum dipindahkan ke lahan agar hasil panen tetap maksimal.
Sesuaikan Pilihan dengan Modal dan Target Panen
Baik sistem umbi maupun TSS memiliki keunggulan masing-masing. Tidak ada metode yang sepenuhnya lebih baik karena semuanya bergantung pada kebutuhan petani.
Sistem umbi lebih tepat dipilih apabila mengutamakan panen cepat dan memiliki modal yang cukup untuk membeli bibit.
Sebaliknya, metode TSS menjadi pilihan menarik bagi petani yang ingin menghemat biaya benih, memperoleh bibit lebih sehat, dan membangun budidaya yang lebih berkelanjutan meski harus menunggu panen lebih lama.
Dengan memahami karakteristik kedua metode tersebut, petani diharapkan dapat menentukan strategi budidaya bawang merah yang paling sesuai dengan kondisi usaha taninya.
Editor : Maylanni Diana Fitri