BLITAR - Cara menanam bawang merah dari awal sampai panen tidak hanya sebatas menanam umbi di lahan. Petani juga harus memperhatikan tahapan perawatan, mulai dari pengolahan tanah, pemupukan rutin, penyemprotan hama dan penyakit, hingga menentukan waktu panen yang tepat agar hasil produksi maksimal.
Budidaya bawang merah membutuhkan perawatan yang konsisten sejak awal tanam. Kesalahan pada salah satu tahapan dapat memengaruhi pertumbuhan tanaman, bahkan meningkatkan risiko serangan penyakit seperti moler yang sering menjadi momok bagi petani.
Melalui panduan cara menanam bawang merah dari awal sampai panen, petani dapat mengetahui urutan perawatan tanaman sejak persiapan lahan hingga panen pada usia sekitar 57 hari setelah tanam (HST).
Pengolahan Lahan Menjadi Tahap Awal Budidaya
Sebelum penanaman dilakukan, lahan terlebih dahulu dibuat menjadi bedengan agar sistem drainase lebih baik. Pada tahap ini tanah juga diberi kapur dolomit untuk membantu menjaga tingkat keasaman tanah tetap stabil.
Baca Juga: Kelebihan dan Kekurangan Setiap Provider Paket Internet, Kenali Dulu Sebelum Menentukan Pilihan
Bedengan kemudian diratakan dan diberi garis tanam supaya posisi umbi lebih teratur. Jika kondisi tanah cukup keras, lubang tanam dibuat terlebih dahulu agar proses penanaman lebih mudah.
Umbi yang akan dijadikan bibit dipotong sekitar seperempat bagian ujungnya sebelum ditanam. Cara ini bertujuan mempercepat pertumbuhan tunas sehingga tanaman dapat berkembang lebih seragam.
Setelah umbi dimasukkan ke dalam lubang tanam, permukaannya ditutup tipis menggunakan tanah agar tetap kokoh.
Penyemprotan Dimulai Saat Tanaman Berumur Delapan Hari
Enam hari setelah tanam, tunas bawang merah mulai tumbuh secara merata. Pada fase ini tanaman belum mendapatkan perlakuan khusus karena masih berada dalam masa awal pertumbuhan.
Penyemprotan mulai dilakukan ketika tanaman memasuki usia delapan hari setelah tanam. Tujuannya untuk mencegah serangan hama sekaligus mengurangi risiko penyakit yang dapat menghambat pertumbuhan tanaman.
Aplikasi pestisida dilakukan menggunakan dosis ringan, tetapi dengan frekuensi yang cukup rapat, yakni setiap dua hingga tiga hari sekali. Pergantian jenis insektisida juga diterapkan agar pengendalian hama tetap efektif.
Pemupukan Dilakukan Bertahap Sesuai Umur Tanaman
Memasuki umur 10 HST, tanaman memperoleh pemupukan pertama menggunakan pupuk NPK 16-16-16 yang dipadukan dengan pupuk pendamping.
Setelah pemupukan selesai, tanah digemburkan melalui proses pendangiran. Langkah ini berfungsi meningkatkan sirkulasi udara di dalam tanah, menutup pupuk agar tidak mudah menguap, sekaligus membersihkan gulma yang tumbuh di sekitar tanaman.
Pemupukan kedua dilakukan sekitar satu minggu kemudian dengan tambahan pupuk KCl. Selanjutnya, pemupukan dilakukan secara berkala setiap tujuh hari agar kebutuhan unsur hara tanaman tetap terpenuhi selama masa pertumbuhan.
Fokus Mencegah Penyakit Moler
Saat tanaman memasuki umur sekitar 20 hingga 22 HST, perhatian petani mulai difokuskan pada pencegahan penyakit moler.
Pada fase ini dilakukan penyemprotan menggunakan campuran beberapa bahan yang bertujuan menjaga kesehatan tanaman sekaligus memperkuat batang agar tidak mudah rebah.
Memasuki umur 27 HST, tanaman kembali mendapat pemupukan ketiga menggunakan pupuk fosfat. Berbeda dengan tahap sebelumnya, kali ini tidak dilakukan pendangiran karena tanaman telah tumbuh lebih tinggi.
Dua hari setelah pemupukan tersebut, lahan kembali diberi kapur dolomit. Langkah ini dilakukan untuk menjaga pH tanah tetap stabil setelah hujan deras yang berpotensi meningkatkan keasaman tanah.
Pemupukan Kocor Membantu Pembentukan Umbi
Saat umur tanaman mencapai 34 HST, metode pemupukan diubah menjadi sistem kocor menggunakan campuran pupuk NPK dan KCl.
Cara ini diterapkan ketika kondisi lahan tidak diguyur hujan sehingga pupuk sekaligus berfungsi sebagai penyiraman.
Keesokan harinya tanaman kembali disemprot menggunakan nutrisi daun yang bertujuan merangsang pembentukan umbi. Fase ini menjadi salah satu tahap penting karena ukuran dan kualitas umbi mulai terbentuk.
Panen Dilakukan Saat Daun Mulai Rebah
Pada umur sekitar 43 HST dilakukan pemupukan terakhir. Umbi mulai terlihat berkembang dan terus membesar hingga memasuki usia 50 hari setelah tanam.
Sekitar lima hingga tujuh hari berikutnya ukuran umbi semakin optimal. Saat tanaman mencapai umur 57 HST, daun mulai rebah secara alami.
Kondisi tersebut menjadi indikator bahwa bawang merah telah siap dipanen. Proses panen dilakukan dengan mencabut tanaman secara langsung dari lahan.
Perawatan yang dilakukan secara bertahap sejak pengolahan lahan, pemupukan rutin, pengendalian hama, hingga menjaga kondisi tanah menjadi faktor penting untuk menghasilkan panen bawang merah yang sehat, berkualitas, dan berproduksi tinggi.
Editor : Maylanni Diana Fitri