Cara Menanam Bawang Merah dari Awal Sampai Panen, Rahasia Perawatan 57 Hari agar Hasil Maksimal

Maylanni Diana Fitri • Dipublikasikan Minggu, 2 Agustus 2026 | 17:20 WIB
Cara menanam bawang merah dari awal sampai panen membutuhkan perawatan bertahap. Simak panduan lengkap mulai olah lahan, pemupukan, penyemprotan hingga panen umur 57 HST.
Cara menanam bawang merah dari awal sampai panen membutuhkan perawatan bertahap. Simak panduan lengkap mulai olah lahan, pemupukan, penyemprotan hingga panen umur 57 HST.

BLITAR - Cara menanam bawang merah dari awal sampai panen membutuhkan tahapan budidaya yang tidak bisa dilakukan secara sembarangan. Selain menyiapkan lahan yang baik, petani juga perlu menerapkan jadwal pemupukan, penyemprotan, serta pengendalian penyakit secara rutin agar tanaman tumbuh sehat hingga masa panen.

Budidaya bawang merah dikenal cukup sensitif terhadap perubahan cuaca dan serangan penyakit, terutama moler. Karena itu, setiap fase pertumbuhan memerlukan perlakuan yang berbeda, mulai dari awal tanam hingga umbi siap dipanen.

Melalui penerapan cara menanam bawang merah dari awal sampai panen yang tepat, tanaman dapat dipanen pada usia sekitar 57 hari setelah tanam (HST) dengan ukuran umbi yang optimal dan kualitas yang lebih baik.

Penanaman Diawali dengan Pengolahan Bedengan

Tahapan pertama dimulai dengan membuat bedengan sebagai media tanam. Lahan kemudian diberi kapur dolomit untuk membantu menjaga tingkat keasaman tanah agar tetap ideal bagi pertumbuhan bawang merah.

Baca Juga: Kelebihan dan Kekurangan Setiap Provider Paket Internet, Kenali Dulu Sebelum Menentukan Pilihan

Setelah bedengan diratakan, dibuat garis tanam supaya posisi setiap umbi lebih rapi. Pada lahan yang memiliki tekstur keras, lubang tanam dibuat lebih dahulu agar proses penanaman berlangsung lebih mudah.

Sebelum ditanam, bagian ujung umbi dipotong sekitar seperempat bagian. Teknik ini bertujuan mempercepat munculnya tunas sehingga pertumbuhan tanaman lebih seragam.

Umbi kemudian ditancapkan ke dalam tanah dan ditutup tipis agar tetap stabil selama proses pertumbuhan awal.

Fase Awal Pertumbuhan Berjalan Tanpa Perlakuan Khusus

Memasuki usia enam hari setelah tanam, tunas mulai muncul hampir bersamaan. Kondisi tersebut menjadi tanda bahwa bibit mampu beradaptasi dengan baik di lahan.

Baca Juga: Body Lotion Pencerah Kulit Paling Bagus, 7 Produk Ini Dapat Nilai Sempurna dari Pengguna

Pada tahap awal ini belum dilakukan pemupukan maupun penyemprotan. Perawatan intensif baru dimulai ketika tanaman memasuki usia delapan hari.

Penyemprotan dilakukan menggunakan insektisida dan fungisida dengan dosis ringan. Aplikasi dilakukan setiap dua hingga tiga hari sekali disertai pergantian jenis insektisida secara bergantian agar pengendalian hama tetap efektif.

Pemupukan Pertama Dilanjutkan Pendangiran

Saat tanaman berumur 10 HST, dilakukan pemupukan pertama menggunakan pupuk NPK 16-16-16 yang dikombinasikan dengan pupuk pendukung.

Usai pemupukan, tanah langsung digemburkan melalui proses pendangiran. Langkah ini memiliki beberapa fungsi, yakni memperbaiki struktur tanah, menutup pupuk agar tidak mudah menguap, sekaligus membersihkan gulma yang tumbuh di sekitar tanaman.

Seminggu kemudian, pemupukan kedua dilakukan menggunakan NPK dengan tambahan KCl. Jadwal pemupukan selanjutnya tetap dipertahankan setiap satu minggu sekali untuk menjaga ketersediaan unsur hara.

Penyakit Moler Diantisipasi Sejak Umur 20 Hari

Memasuki umur sekitar 22 HST, tanaman mulai memasuki fase yang rentan terhadap serangan penyakit moler.

Untuk mengurangi risiko tersebut, dilakukan penyemprotan menggunakan kombinasi beberapa bahan pendukung, termasuk unsur kalsium yang berfungsi memperkuat batang sehingga tanaman tidak mudah rebah.

Pada umur 27 HST dilakukan pemupukan ketiga. Berbeda dari sebelumnya, kali ini tidak dilakukan pendangiran karena tinggi tanaman sudah meningkat sehingga dikhawatirkan mengganggu perkembangan umbi.

Dua hari setelah pemupukan, lahan diberi tambahan kapur dolomit guna menjaga pH tanah tetap stabil setelah diguyur hujan deras.

Pemupukan Disesuaikan dengan Kondisi Cuaca

Saat tanaman memasuki umur 34 HST, pemupukan dilakukan dengan metode kocor menggunakan campuran NPK dan KCl.

Metode ini diterapkan ketika cuaca sedang kering atau tidak turun hujan selama beberapa hari. Selain memberikan nutrisi, pengocoran juga membantu memenuhi kebutuhan air tanaman.

Setelah itu, tanaman kembali disemprot menggunakan nutrisi daun untuk membantu mempercepat pembentukan umbi. Pada fase ini, perkembangan umbi mulai terlihat semakin jelas.

Umbi Membesar Hingga Siap Dipanen

Pemupukan kelima dilakukan ketika tanaman berumur 43 HST. Pada usia tersebut umbi mulai terbentuk dan terus berkembang hingga memasuki umur sekitar 50 hari.

Menjelang usia 55 HST, ukuran umbi telah membesar. Dua hari kemudian atau sekitar umur 57 HST, daun mulai rebah secara alami yang menjadi tanda bawang merah siap dipanen.

Panen dilakukan dengan cara mencabut tanaman secara langsung dari bedengan.

Rangkaian budidaya tersebut menunjukkan bahwa keberhasilan menanam bawang merah tidak hanya bergantung pada kualitas bibit, tetapi juga disiplin dalam melakukan pemupukan, menjaga kondisi tanah, mengendalikan hama dan penyakit, serta menyesuaikan perawatan dengan kondisi cuaca selama masa tanam.

Editor : Maylanni Diana Fitri
Budidaya bawang merah Cara menanam bawang merah Perawatan bawang merah Pemupukan bawang merah Panen bawang merah