BLITAR - Pengolahan lahan cabai menjadi faktor yang paling menentukan keberhasilan budidaya, bahkan dinilai lebih penting dibanding pengobatan saat tanaman sudah terserang penyakit. Hal itu dibuktikan petani milenial asal Desa Donorejo, Kecamatan Secang, Kabupaten Magelang, Ivan Choirul Anam, yang berhasil menjaga tanaman cabainya tetap produktif meski cuaca ekstrem.
Di usia baru 20 tahun, Ivan mengaku lebih mengutamakan pengolahan lahan cabai sejak sebelum tanam dibanding mengandalkan pestisida ketika tanaman mulai terserang penyakit. Menurutnya, pondasi lahan yang baik akan menghasilkan sistem perakaran kuat sehingga tanaman lebih tahan terhadap layu, busuk batang, hingga antraknosa.
Pendekatan tersebut membuat tanaman cabainya tetap menghasilkan buah melimpah meski sebagian daun terlihat menguning. Tingkat kelayuan bahkan disebut hampir nol, sementara produktivitas tanaman tetap tinggi hingga masa panen.
Berawal dari Modal Rp2,6 Juta
Ivan mulai terjun ke dunia pertanian setelah lulus dari SMK Pertanian pada usia 19 tahun. Saat itu, ia memanfaatkan sisa uang Rp600 ribu dan meminjam modal Rp2 juta dari sang ayah untuk memulai budidaya sekitar 400 batang cabai.
Panen pertama sempat memberikan hasil menggembirakan ketika harga cabai mencapai sekitar Rp60 ribu per kilogram. Namun tak lama kemudian harga turun hingga sekitar Rp20 ribu akibat pembatasan aktivitas saat pandemi.
Meski demikian, keuntungan dari panen pertama terus diputar menjadi modal usaha hingga kini mampu mengelola tiga lahan budidaya cabai.
Pondasi Lahan Jadi Prioritas Utama
Ivan menilai kesalahan banyak petani adalah terlalu fokus mengobati tanaman yang sakit, padahal akar persoalannya berada pada kondisi lahan.
Baca Juga: Body Lotion Terbaik untuk Mencerahkan Kulit, Ini Rekomendasi dari Belasan Produk Populer
Karena itu, ia lebih mengutamakan sanitasi kebun, sistem drainase, tingkat keasaman tanah, hingga penggunaan pupuk organik yang telah difermentasi sebelum proses tanam dimulai.
Menurutnya, tanaman yang memiliki sistem perakaran sehat akan lebih mampu menyerap nutrisi sekaligus bertahan menghadapi perubahan cuaca ekstrem.
Membuat Bokashi dari Delapan Bahan
Untuk meningkatkan kualitas tanah, Ivan membuat pupuk bokashi sendiri berbahan dasar kotoran kambing.
Dalam proses pembuatannya, ia mencampurkan kotoran kambing dengan bekatul, arang sekam, dolomit, asam humat, EM4, molase, serta Trichoderma sebagai agen hayati.
Seluruh bahan disusun berlapis kemudian disiram larutan aktivator sebelum didiamkan hingga proses fermentasi berlangsung.
Menurutnya, pupuk dinyatakan siap digunakan ketika mulai muncul rumput di permukaannya sebagai tanda proses penguraian telah berjalan optimal.
PH Tanah Dijaga di Kisaran Ideal
Selain bahan organik, Ivan juga menaruh perhatian besar terhadap tingkat keasaman tanah.
Ia menyebut pH ideal untuk tanaman cabai berada di kisaran 6 hingga 6,5. Jika pH turun terlalu rendah, penyerapan unsur hara akan terganggu sehingga tanaman lebih mudah terserang penyakit.
Karena itu, dolomit dan asam humat menjadi bagian penting dalam pengolahan lahan.
Asam humat tidak hanya membantu memperbaiki sifat fisik, kimia, dan biologi tanah, tetapi juga menjaga kestabilan pH, terutama saat musim hujan ketika tanah cenderung menjadi lebih asam.
Minim Nitrogen Saat Awal Tanam
Hal lain yang cukup menarik adalah keputusan Ivan untuk tidak memberikan pupuk dengan kandungan nitrogen tinggi pada tahap awal penanaman.
Menurutnya, pemberian nitrogen berlebihan saat musim hujan justru berpotensi memicu perkembangan jamur penyebab penyakit tanaman.
Sebagai gantinya, ia lebih mengutamakan penggunaan bahan organik dan agen hayati agar mikroorganisme baik berkembang lebih dahulu di dalam tanah.
Strategi tersebut diyakini mampu membangun "pertahanan alami" sehingga serangan patogen dapat ditekan sejak awal.
Petani Muda Jangan Minder Terjun ke Pertanian
Selain berbagi teknik budidaya, Ivan juga mengajak generasi muda agar tidak malu memilih profesi sebagai petani.
Ia mengaku sempat menjadi bahan pembicaraan ketika memutuskan bertani setelah lulus sekolah. Namun hasil panen yang diperoleh akhirnya menjadi jawaban atas keraguan banyak orang.
Kini, metode budidaya yang diterapkannya mulai diikuti sejumlah petani di wilayah sekitar Magelang.
Menurut Ivan, selama pekerjaan yang dilakukan memberikan manfaat dan tidak merugikan orang lain, tidak ada alasan bagi anak muda untuk merasa gengsi menekuni sektor pertanian.
Baginya, keberhasilan bertani berawal dari kemauan untuk terus belajar, memperbaiki kualitas lahan, dan memahami bahwa mencegah penyakit jauh lebih efektif daripada mengobatinya setelah tanaman terlanjur terserang.
Editor : Maylanni Diana Fitri