Pengolahan Lahan Cabai yang Benar, Petani Muda Magelang Buktikan Tanaman Tetap Produktif di Cuaca Ekstrem

Maylanni Diana Fitri • Dipublikasikan Minggu, 2 Agustus 2026 | 17:30 WIB
Pengolahan lahan cabai menjadi kunci sukses petani muda Magelang. Simak cara membuat bokashi, menjaga pH tanah, hingga menghasilkan cabai tetap produktif saat cuaca ekstrem.(pinterest)
Pengolahan lahan cabai menjadi kunci sukses petani muda Magelang. Simak cara membuat bokashi, menjaga pH tanah, hingga menghasilkan cabai tetap produktif saat cuaca ekstrem.(pinterest)

BLITAR - Pengolahan lahan cabai menjadi rahasia di balik keberhasilan petani muda asal Kabupaten Magelang, Ivan Choirul Anam, dalam menghasilkan tanaman yang tetap produktif meski menghadapi cuaca ekstrem. Di usia 20 tahun, lulusan SMK Pertanian tersebut lebih memilih fokus membangun kualitas tanah dibanding mengandalkan pestisida saat tanaman mulai terserang penyakit.

Menurut Ivan, keberhasilan budidaya cabai tidak hanya ditentukan oleh pemupukan dan penyemprotan setelah tanam. Justru, pengolahan lahan cabai sebelum penanaman menjadi pondasi utama agar akar berkembang sempurna, penyerapan nutrisi optimal, dan tanaman lebih tahan terhadap penyakit layu maupun busuk batang.

Pendekatan tersebut terbukti memberikan hasil. Meski sebagian daun tanaman tampak menguning akibat cuaca, tanaman tetap menghasilkan buah dalam jumlah banyak dengan tingkat kerontokan yang rendah.

Modal Kecil Berujung Kelola Tiga Lahan

Ivan mulai menekuni dunia pertanian setelah lulus sekolah pada 2023. Saat itu ia hanya memiliki sisa uang Rp600 ribu dan tambahan pinjaman Rp2 juta dari ayahnya untuk memulai budidaya cabai.

Baca Juga: Hal-Hal yang Perlu Diperhatikan Saat Memiliki iPhone, Pengaturan Wajib agar Pengalaman Pakai Lebih Maksimal

Modal tersebut digunakan menanam sekitar 400 batang cabai. Hasil panen pertama kemudian terus diputar menjadi modal hingga luas usaha taninya berkembang menjadi tiga lahan.

Menurutnya, perjalanan sebagai petani tidak selalu berjalan mulus. Harga cabai yang sempat menyentuh Rp60 ribu per kilogram pernah turun drastis menjadi sekitar Rp20 ribu sehingga keuntungan ikut tertekan.

Namun kondisi itu tidak membuatnya berhenti mengembangkan usaha tani.

Pengolahan Tanah Dilakukan Sebelum Tanam

Ivan menilai banyak petani terlalu fokus mencari obat ketika tanaman mulai terserang penyakit.

Baca Juga: Body Lotion Pencerah Kulit Paling Bagus, 7 Produk Ini Dapat Nilai Sempurna dari Pengguna

Padahal, persoalan utamanya sering kali berasal dari kondisi tanah yang kurang sehat sejak awal.

Karena itu, sebelum penanaman dilakukan, ia memastikan drainase, sanitasi lahan, hingga tingkat keasaman tanah berada dalam kondisi yang baik.

Baginya, akar tanaman merupakan fondasi utama. Jika sistem perakaran berkembang optimal, tanaman akan lebih kuat menghadapi tekanan lingkungan maupun serangan penyakit.

Bokashi Jadi Andalan Menyuburkan Tanah

Salah satu teknik yang diterapkan Ivan adalah membuat pupuk bokashi sendiri.

Bahan utamanya berasal dari kotoran kambing yang dipadukan dengan bekatul, arang sekam, dolomit, molase, EM4, asam humat, serta Trichoderma.

Semua bahan disusun secara berlapis dan difermentasi hingga matang sebelum diaplikasikan ke lahan.

Pupuk tersebut kemudian dimasukkan ke bedengan bersama sedikit pupuk dasar sebelum lahan ditutup menggunakan mulsa.

Menurut Ivan, penggunaan bokashi membantu memperbaiki struktur tanah sekaligus meningkatkan aktivitas mikroorganisme yang menguntungkan bagi tanaman.

Asam Humat dan Dolomit Jaga Kesehatan Tanah

Selain bokashi, Ivan juga rutin menggunakan asam humat dan dolomit.

Asam humat diaplikasikan sebelum pemasangan mulsa untuk membantu memperbaiki sifat fisik, kimia, dan biologi tanah.

Sementara dolomit berfungsi menjaga pH tanah agar tetap berada pada kisaran ideal sekitar 6 hingga 6,5.

Menurutnya, pH yang stabil membuat unsur hara lebih mudah diserap akar sehingga tanaman dapat tumbuh lebih optimal.

Sebaliknya, tanah yang terlalu asam akan meningkatkan risiko munculnya berbagai penyakit tanaman.

Kurangi Nitrogen Saat Musim Hujan

Ivan juga menerapkan strategi berbeda dalam pemupukan awal.

Ia mengurangi penggunaan pupuk dengan kandungan nitrogen tinggi, terutama saat musim hujan.

Menurutnya, nitrogen berlebih justru dapat memicu perkembangan jamur apabila kondisi lahan terlalu lembap.

Sebagai gantinya, ia mengutamakan pembentukan ekosistem tanah yang sehat melalui pemberian bahan organik dan mikroorganisme menguntungkan.

Pendekatan tersebut dinilai mampu menekan serangan penyakit tanpa harus bergantung sepenuhnya pada pestisida.

Ajak Anak Muda Tidak Malu Menjadi Petani

Selain membagikan teknik budidaya, Ivan juga mendorong generasi muda agar tidak gengsi terjun ke sektor pertanian.

Ia mengaku sempat menerima komentar negatif ketika memilih menjadi petani setelah lulus sekolah. Namun hasil yang diperolehnya menjadi bukti bahwa pertanian tetap memiliki prospek menjanjikan jika dikelola secara serius.

Menurut Ivan, anak muda harus berani belajar, terus mencoba, dan tidak takut memulai dari skala kecil.

Ia meyakini keberhasilan bertani bukan hanya ditentukan besarnya modal, melainkan kemampuan memahami kondisi lahan, menjaga kesehatan tanah, dan menerapkan teknik budidaya secara konsisten sejak awal penanaman.

Editor : Maylanni Diana Fitri
budidaya cabai Pengolahan lahan cabai Pupuk bokashi Petani muda Magelang Asam humat