BLITAR - Pengolahan lahan cabai sebelum tanam menjadi langkah yang tidak boleh diabaikan apabila ingin menghasilkan tanaman sehat dan produktif. Petani milenial asal Desa Donorejo, Kecamatan Secang, Kabupaten Magelang, Ivan Choirul Anam, membuktikan bahwa kualitas lahan menjadi faktor utama dalam menekan serangan penyakit, bahkan di tengah cuaca yang tidak menentu.
Di usia 20 tahun, Ivan lebih memilih memperkuat kondisi tanah dibanding mengandalkan penyemprotan pestisida setelah tanaman terserang penyakit. Menurutnya, pengolahan lahan cabai sebelum tanam merupakan investasi awal yang menentukan kekuatan akar, penyerapan nutrisi, hingga produktivitas tanaman selama masa panen.
Strategi tersebut menghasilkan tanaman cabai dengan batang kokoh, sistem perakaran kuat, serta tingkat kelayuan yang sangat rendah. Meski sebagian daun tampak menguning akibat perubahan cuaca, tanaman tetap mampu menghasilkan buah dalam jumlah melimpah.
Berani Bertani di Usia 20 Tahun
Ivan memulai usaha tani cabai setelah lulus dari SMK Pertanian. Saat itu ia hanya bermodalkan tabungan Rp600 ribu ditambah pinjaman Rp2 juta dari ayahnya.
Baca Juga: Trik Menjaga Baterai iPhone Agar Tetap Awet Seharian Penuh dan Tidak Cepat Drop
Modal tersebut digunakan untuk menanam sekitar 400 batang cabai. Hasil panen pertama kemudian diputar kembali menjadi modal hingga kini ia mampu mengembangkan budidaya di beberapa lahan.
Keputusan menjadi petani sempat mendapat cibiran karena sebagian besar anak muda memilih bekerja di sektor lain. Namun Ivan memilih membuktikan pilihannya melalui hasil panen yang terus berkembang.
Pengolahan Tanah Menjadi Pondasi Tanaman
Menurut Ivan, kesalahan yang sering dilakukan petani adalah baru bertindak ketika tanaman mulai menunjukkan gejala penyakit.
Baca Juga: Kelebihan dan Kekurangan Setiap Provider Paket Internet, Kenali Dulu Sebelum Menentukan Pilihan
Padahal, kondisi tanah yang kurang sehat menjadi penyebab utama munculnya berbagai gangguan seperti layu, busuk batang, maupun antraknosa.
Karena itu, ia selalu memulai budidaya dengan memperbaiki struktur tanah, mengatur saluran drainase, serta memastikan pH tanah berada pada kondisi ideal.
Baginya, tanaman yang tumbuh di atas tanah sehat akan memiliki daya tahan lebih tinggi dibanding tanaman yang hanya mengandalkan perawatan setelah tanam.
Bokashi Racikan Sendiri Jadi Andalan
Untuk memperbaiki kesuburan tanah, Ivan membuat pupuk bokashi menggunakan kotoran kambing sebagai bahan utama.
Bahan tersebut kemudian dicampur dengan bekatul, arang sekam, dolomit, molase, EM4, Trichoderma, dan asam humat.
Campuran itu difermentasi hingga matang sebelum dimasukkan ke bedengan sebagai pupuk dasar.
Menurut Ivan, bokashi membuat unsur hara lebih mudah tersedia bagi tanaman sekaligus meningkatkan populasi mikroorganisme yang bermanfaat di dalam tanah.
Jaga pH Tanah agar Nutrisi Mudah Diserap
Selain bokashi, penggunaan dolomit dan asam humat menjadi bagian penting dalam sistem budidayanya.
Dolomit membantu menjaga tingkat keasaman tanah, sedangkan asam humat berfungsi memperbaiki sifat fisik, kimia, dan biologi tanah.
Ivan menyebut pH ideal untuk tanaman cabai berada pada kisaran 6 hingga 6,5. Pada kondisi tersebut, penyerapan unsur hara berlangsung lebih optimal sehingga tanaman tumbuh lebih sehat.
Sebaliknya, apabila pH terlalu rendah, tanaman akan lebih mudah mengalami gangguan pertumbuhan dan terserang penyakit.
Kurangi Risiko Penyakit Sejak Awal
Pendekatan yang diterapkan Ivan lebih menitikberatkan pada upaya pencegahan dibanding pengobatan.
Ia bahkan mengurangi penggunaan pupuk berkadar nitrogen tinggi pada tahap awal tanam, terutama saat musim hujan.
Menurutnya, pemberian nitrogen secara berlebihan dapat memicu perkembangan jamur apabila kondisi lahan terlalu lembap.
Sebagai gantinya, ia membangun ekosistem tanah yang sehat terlebih dahulu melalui bahan organik dan agen hayati sehingga tanaman memiliki ketahanan alami terhadap serangan patogen.
Anak Muda Diminta Tidak Gengsi Bertani
Selain membagikan pengalaman budidaya, Ivan juga mengajak generasi muda untuk tidak ragu memilih profesi sebagai petani.
Ia menilai pertanian memiliki prospek yang baik apabila ditekuni dengan ilmu dan kemauan belajar.
Menurutnya, cibiran yang sempat diterima saat memulai usaha tani justru menjadi motivasi untuk terus berkembang.
Kini, metode budidaya yang diterapkannya mulai dipelajari oleh petani lain di wilayah Magelang. Bagi Ivan, keberhasilan bertani bukan ditentukan besarnya modal, melainkan keseriusan dalam membangun kualitas lahan sejak sebelum benih ditanam.
Editor : Maylanni Diana Fitri