BLITAR – Cabai Sniper menjadi perbincangan di kalangan petani setelah hasil panen dari lahan di Cianjur, Jawa Barat, viral di media sosial. Dalam sekali petik, tanaman cabai dari lahan seluas sekitar 900 lubang tanam atau sekitar 1.800 pohon mampu menghasilkan hingga 189 kilogram cabai. Angka tersebut sempat memicu perdebatan karena dianggap sulit dipercaya.
Namun, setelah dilakukan peninjauan langsung ke lokasi, hasil tersebut terbukti berasal dari buah cabai yang dipanen, bukan rekayasa seperti dugaan sebagian warganet. Kondisi tanaman memang tampak berbeda dibanding kebun cabai pada umumnya. Daunnya tidak terlalu rimbun, tetapi dipenuhi buah dengan tingkat produktivitas tinggi.
Keberhasilan itu berasal dari petani muda asal Cianjur bernama Iwan Suandli. Meski baru dua kali menanam cabai, ia mampu mencatat hasil panen yang jauh di atas rata-rata berkat disiplin menerapkan teknik budidaya dan menjaga kesehatan lahan sejak awal tanam.
Fokus Membesarkan Batang Sebelum Mengejar Buah
Iwan menjelaskan bahwa langkah pertama yang dilakukan bukan mengejar pembentukan buah, melainkan memperkuat batang tanaman terlebih dahulu. Menurutnya, batang yang kokoh akan mampu menopang buah dalam jumlah banyak hingga masa panen berlangsung lama.
Baca Juga: Trik Menjaga Baterai iPhone agar Tetap Awet, 20 Pengaturan yang Bisa Membuat Daya Tahan Lebih Lama
Ia mengaku sebagian besar perawatan mengikuti standar budidaya yang telah dipelajari. Meski demikian, terdapat beberapa penyesuaian berdasarkan kondisi tanaman di lapangan, terutama saat memasuki fase generatif.
Salah satu strategi yang diterapkan adalah membuat tanaman mengalami kondisi stres ringan agar mampu menggugurkan daun yang dianggap tidak lagi produktif. Cara tersebut membuat energi tanaman lebih banyak dialihkan untuk pembentukan bunga dan buah.
Tanaman Sempat Tanpa Pupuk Selama Puluhan Hari
Hal yang menarik, Iwan mengaku sempat menghentikan pemberian pupuk selama kurang lebih 50 hari ketika tanaman memasuki fase generatif. Selama periode tersebut, perhatian difokuskan untuk menjaga kondisi tanah, kestabilan pH, serta kesehatan akar menggunakan mikroba dan kalsium.
Menurutnya, tanaman yang sedang mengalami gangguan tidak akan mampu menyerap pupuk secara optimal. Karena itu, pemulihan kondisi lahan lebih diutamakan sebelum kembali memberikan nutrisi lengkap.
Setelah kondisi tanaman membaik, pemupukan kembali dilakukan secara bertahap. Hasilnya mulai terlihat pada panen berikutnya dengan peningkatan jumlah buah secara signifikan.
Produksi Terus Meningkat Hingga 189 Kilogram
Panen perdana dilakukan saat tanaman berumur sekitar 83 hari setelah tanam dengan hasil sekitar 4 kilogram. Panen kedua meningkat menjadi sekitar 13 kilogram.
Produktivitas kemudian terus bertambah hingga memasuki petikan ke-20. Pada fase tersebut, produksi mencapai 189 kilogram dalam sekali panen dari sekitar 1.800 tanaman.
Menariknya, meski tanaman sempat mengalami serangan bercak daun pada awal pertumbuhan, tingkat kematian tanaman tetap sangat rendah. Hanya dua tanaman yang dilaporkan mati selama masa budidaya.
pH Tanah Dianggap Menjadi Faktor Penentu
Selain pemupukan, Iwan menilai kestabilan pH tanah menjadi salah satu faktor paling penting dalam budidaya cabai. Ia rutin mengontrol kondisi tanah agar tidak mengalami penurunan pH yang dapat menghambat penyerapan unsur hara.
Menurutnya, tanaman yang tumbuh di lahan dengan pH stabil akan lebih mudah menyerap nutrisi sehingga lebih tahan terhadap serangan penyakit.
Di sisi lain, kebersihan lahan juga menjadi perhatian utama. Gulma dibersihkan secara rutin agar tidak menjadi tempat berkembangnya hama sekaligus mengurangi persaingan penyerapan nutrisi.
Ajir Harus Lebih Kuat Menahan Beban Buah
Melimpahnya jumlah buah membuat tanaman membutuhkan penyangga atau ajir yang lebih kuat dibanding tanaman cabai biasa. Beberapa tanaman bahkan menggunakan dua ajir karena beban buah yang cukup berat.
Meski buah sangat lebat, kondisi batang tetap kokoh sehingga tanaman mampu terus berproduksi hingga petikan berikutnya.
Keberhasilan tersebut menunjukkan bahwa produktivitas tinggi tidak selalu ditentukan oleh banyaknya daun, melainkan oleh kesehatan akar, kestabilan tanah, dan keseimbangan nutrisi selama masa budidaya.
Di akhir wawancara, Iwan mengajak petani untuk lebih memperhatikan kualitas tanah daripada hanya berfokus pada pemberian pupuk. Menurutnya, ketika pH tanah terjaga dan mikroba menguntungkan berkembang dengan baik, tanaman akan tumbuh lebih sehat dan menghasilkan panen maksimal.
Editor : Maylanni Diana Fitri