BLITAR – Cabai Sniper kembali menjadi sorotan setelah seorang petani di Cianjur, Jawa Barat, berhasil membuktikan produktivitas tinggi dari lahan seluas sekitar 900 lubang tanam atau setara 1.800 tanaman. Dalam satu kali panen, kebun tersebut mampu menghasilkan hingga 189 kilogram cabai, capaian yang sempat viral di media sosial karena dianggap sulit dipercaya.
Saat dikunjungi langsung, kondisi kebun memang terlihat berbeda dari tanaman cabai pada umumnya. Daun tanaman tidak terlalu rimbun, tetapi setiap cabang dipenuhi buah. Tingkat kerontokan rendah dan hampir tidak ditemukan tanaman mati akibat serangan penyakit.
Pemilik lahan, Iwan Suandli, mengaku baru dua kali menanam cabai. Sebelumnya, ia berprofesi sebagai pelaku usaha di luar sektor pertanian. Namun, dengan menerapkan teknik budidaya yang disiplin dan melakukan penyesuaian sesuai kondisi lahan, hasil panennya mampu menarik perhatian banyak petani.
Mengutamakan Kesehatan Tanah Sebelum Mengejar Produksi
Iwan mengatakan kunci utama bukan terletak pada banyaknya pupuk yang diberikan, melainkan memastikan kondisi tanah tetap sehat selama masa pertumbuhan tanaman.
Menurutnya, tanah dengan pH stabil membuat akar bekerja lebih optimal dalam menyerap unsur hara. Karena itu, pengelolaan pH dilakukan secara rutin agar tanaman tidak mudah mengalami stres berlebihan akibat perubahan cuaca.
Selain menjaga pH, kondisi mikroorganisme di dalam tanah juga diperhatikan. Langkah tersebut dinilai membantu menekan risiko munculnya penyakit yang menyerang akar maupun batang tanaman.
Tanaman Sengaja Dibuat Stres
Salah satu metode yang diterapkan adalah membuat tanaman mengalami stres ringan pada fase generatif. Cara ini dilakukan agar tanaman secara alami menggugurkan sebagian daun yang tidak lagi produktif.
Setelah proses tersebut, tanaman difokuskan untuk membentuk bunga dan buah. Selama fase pemulihan, pemberian pupuk sempat dihentikan sementara dan diganti dengan perawatan yang lebih menitikberatkan pada kesehatan akar serta kestabilan kondisi tanah.
Menurut Iwan, tanaman yang belum pulih tidak akan mampu memanfaatkan pupuk secara maksimal. Karena itu, pemupukan baru dilakukan kembali setelah kondisi tanaman benar-benar membaik.
Produksi Terus Naik Hingga Petikan ke-20
Panen pertama dilakukan saat tanaman berumur sekitar 83 hari setelah tanam dengan hasil sekitar 4 kilogram. Hasil tersebut meningkat menjadi sekitar 13 kilogram pada panen kedua.
Produksi kemudian terus bertambah pada setiap periode panen hingga mencapai puncaknya di petikan ke-20. Pada fase inilah hasil panen mencapai sekitar 189 kilogram dalam sekali petik dari sekitar 1.800 tanaman.
Meski sempat mengalami serangan bercak daun di awal pertumbuhan, tingkat kehilangan tanaman sangat rendah. Dari seluruh populasi, hanya dua tanaman yang dilaporkan mati selama masa budidaya.
Buah Lebih Banyak daripada Daun
Secara visual, tanaman cabai di lahan tersebut tampak tidak terlalu tinggi dan daunnya tidak terlalu lebat. Namun, hampir setiap ruas batang dipenuhi buah sehingga produktivitas tetap tinggi.
Beban buah yang besar bahkan membuat sebagian tanaman membutuhkan dua ajir sebagai penyangga agar batang tidak roboh saat memasuki masa panen.
Menurut Iwan, kondisi tersebut menjadi bukti bahwa keberhasilan budidaya tidak selalu ditentukan oleh tampilan tanaman yang rimbun, melainkan oleh kemampuan akar menyerap nutrisi secara optimal.
Peluang Bisnis Cabai Masih Terbuka
Keberhasilan panen tersebut menunjukkan peluang usaha cabai masih terbuka lebar bagi petani yang mampu menerapkan budidaya secara konsisten. Selain menjaga pH tanah, kebersihan lahan dari gulma dan pemantauan kesehatan tanaman juga menjadi bagian penting dalam menjaga produktivitas.
Iwan pun berpesan kepada petani agar tidak hanya berorientasi pada pemberian pupuk dalam jumlah besar. Menurutnya, memperbaiki kondisi tanah dan menjaga keseimbangan ekosistem di sekitar akar justru menjadi investasi utama untuk memperoleh hasil panen yang tinggi dan berkelanjutan.
Editor : Maylanni Diana Fitri