BLITAR - Potensi kopi Arabika Indonesia dinilai masih sangat menjanjikan. Tingginya permintaan pasar, baik dari dalam maupun luar negeri, membuka peluang besar bagi petani untuk mengembangkan usaha kopi bernilai tinggi, terutama di segmen specialty coffee.
Optimisme tersebut disampaikan Satrea Almambi, petani yang tergabung dalam Kelompok Tani Kopi Wanoja di Desa Laksana, Kecamatan Ibun, Kabupaten Bandung. Bersama kelompoknya, ia berhasil membangun usaha kopi dari skala kecil hingga mampu menembus pasar ekspor.
Keberhasilan itu tidak diraih dalam waktu singkat. Satrea mengaku mulai serius menggeluti budidaya kopi pada 2018 setelah melihat besarnya potensi komoditas tersebut di kawasan Kamojang yang memiliki kondisi alam ideal untuk pengembangan kopi Arabika.
Dari Kebun Kecil Menjadi Puluhan Hektare
Satrea menceritakan, awal mula keluarganya memiliki kebun kopi terjadi setelah sang ibu membeli lahan usai pensiun pada 2012. Saat itu ia hanya membantu mengelola kebun sambil mempelajari karakter tanaman kopi.
Sebelumnya, ia sempat bekerja di bidang konstruksi dan industri kayu. Namun setelah melakukan berbagai perhitungan mengenai peluang usaha kopi, ia memutuskan kembali ke kampung halaman dan fokus menjadi petani.
Keputusan tersebut membuahkan hasil. Lahan yang awalnya hanya sekitar 1,5 hektare kini berkembang menjadi sekitar 20 hektare yang dikelola langsung olehnya. Sementara total lahan anggota Kelompok Tani Kopi Wanoja mencapai sekitar 100 hektare.
Di kawasan Kamojang sendiri, berbagai varietas kopi Arabika dibudidayakan, mulai dari Typica, Kartika, Lini, Sigararutang hingga Andungsari.
Beralih ke Green Bean Specialty
Perjalanan bisnis kopi Wanoja juga mengalami perubahan signifikan.
Pada awalnya mereka hanya menjual buah kopi segar atau cherry. Setelah itu berkembang menjadi penjualan gabah kopi sebelum akhirnya berani memasarkan green bean specialty.
Saat ini pemasaran dilakukan melalui berbagai jalur, mulai dari roastery, agregator, eksportir hingga penjualan secara daring melalui e-commerce.
Menurut Satrea, strategi tersebut membuat nilai jual kopi meningkat sekaligus memperluas jangkauan pasar.
Kopi Bandung Tembus Pasar Internasional
Keseriusan menjaga kualitas produk akhirnya membuka jalan menuju pasar ekspor.
Promosi mulai dilakukan pada 2020 dan pengiriman perdana berhasil terealisasi pada 2021.
Hingga kini, sekitar lima ton green bean specialty telah dikirim ke berbagai negara, termasuk Jepang, Uni Emirat Arab (UEA), dan Jerman.
Meski volume ekspor masih terbatas, Satrea menilai respons konsumen cukup baik sehingga peluang peningkatan permintaan pada tahun-tahun mendatang masih sangat terbuka.
Proses Produksi Dilakukan Secara Terintegrasi
Kelompok Tani Wanoja menerapkan pengelolaan kopi mulai dari pembibitan hingga pengolahan pascapanen.
Bibit diproduksi sendiri untuk menjaga kualitas tanaman. Setelah ditanam, kopi membutuhkan waktu sekitar tiga tahun hingga menghasilkan buah yang siap dipanen.
Buah kopi kemudian dikumpulkan secara kolektif dan diolah menjadi berbagai jenis specialty coffee seperti natural, honey, semi wash, maupun full wash.
Seluruh proses mulai dari panen, pengeringan, hulling, sortasi hingga penyimpanan membutuhkan waktu sekitar satu hingga dua bulan sebelum green bean siap dipasarkan.
Menurut Satrea, proses panjang tersebut menjadi alasan mengapa kopi specialty memiliki nilai jual yang lebih tinggi dibanding kopi biasa.
Permintaan Kopi Diperkirakan Terus Naik
Satrea melihat prospek industri kopi masih sangat cerah.
Selain karena beberapa negara produsen mengalami penurunan produksi dalam beberapa tahun terakhir, konsumsi kopi di Indonesia juga terus meningkat seiring bertambahnya jumlah penikmat kopi.
Kondisi tersebut dinilai menjadi peluang besar bagi petani yang mampu menghasilkan kopi berkualitas tinggi.
Ia menegaskan bahwa keberhasilan bertani bukan hanya ditentukan luas lahan, tetapi juga kemampuan mengadopsi teknologi, meningkatkan kualitas produk, dan mengikuti perkembangan pasar.
Peran Pemerintah Membantu Percepatan Usaha
Satrea mengakui perkembangan Kelompok Tani Wanoja tidak lepas dari dukungan pemerintah.
Kelompoknya memperoleh berbagai bantuan berupa mesin pulper, huller, mesin pencacah hingga Unit Pengolahan Hasil (UPH) dari pemerintah daerah maupun Kementerian Pertanian.
Selain fasilitas, pembinaan sumber daya manusia juga dinilai membantu meningkatkan kemampuan petani dalam menghasilkan kopi specialty yang mampu bersaing di pasar ekspor.
Karena itu, ia mengajak generasi muda tidak ragu terjun ke sektor pertanian. Menurutnya, dengan pengelolaan yang baik dan pemanfaatan teknologi, bertani kopi mampu memberikan penghasilan yang menjanjikan sekaligus membuka lapangan kerja di daerah.
Editor : Maylanni Diana Fitri