Rupiah Tembus Rp17.000 per Dolar AS, Pemerintah Bantah Indonesia Menuju Krisis di Tengah Konflik Timur Tengah

Ahmad Fadhil Gusnaashir • Dipublikasikan Rabu, 5 Agustus 2026 | 14:42 WIB
IHSG Anjlok 1,34 Persen Ditengah Sentimen Tarif Trump dan Konflik Timur Tengah yang Panas
IHSG Anjlok 1,34 Persen Ditengah Sentimen Tarif Trump dan Konflik Timur Tengah yang Panas

JAKARTA – Rupiah tembus Rp17.000 per dolar AS dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ikut melemah pada awal pekan. Pemerintah menegaskan kondisi tersebut belum menunjukkan Indonesia memasuki fase krisis maupun resesi. Di sisi lain, konflik yang terus memanas di Timur Tengah dinilai turut memberi tekanan terhadap pasar keuangan global. 

Rupiah dan IHSG Melemah, Pemerintah Sebut Dipicu Sentimen Pasar

Nilai tukar rupiah dibuka di kisaran Rp17.000 per dolar Amerika Serikat atau melemah sekitar 90 poin dibanding penutupan perdagangan pada Jumat pekan sebelumnya.

Pada saat yang sama, IHSG juga turun hingga berada di level 7.374 atau terkoreksi hampir lima persen.

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menilai pelemahan tersebut dipicu sentimen negatif yang berkembang di kalangan pelaku pasar. Menurutnya, muncul narasi bahwa ekonomi Indonesia sedang menuju krisis sehingga memengaruhi pergerakan pasar.

Meski demikian, ia menegaskan fundamental ekonomi nasional masih kuat dan pemerintah terus memantau perkembangan pasar sebelum mengambil langkah lanjutan apabila diperlukan.

“Yang jelas kita monitor dari waktu ke waktu dan saya enggak akan terlambat mengambil keputusan kalau diperlukan,” ujar Purbaya.

Baca Juga: Mengenal Jatingarang Nogo Tahun Menurut Primbon Jawa, Hari yang Dianjurkan Dihindari untuk Hajatan Besar

Purbaya membantah anggapan bahwa daya beli masyarakat telah melemah drastis maupun Indonesia sedang menuju krisis ekonomi.

Ia mengatakan pemerintah terus menjaga konsumsi masyarakat agar aktivitas ekonomi tetap tumbuh. Menurutnya, kondisi ekonomi nasional masih berada pada fase ekspansi.

“Boro-boro krisis, jangankan krisis, resesi aja belum, melambatnya aja belum. Kita masih ekspansi, masih akselerasi,” kata Purbaya.

Pernyataan tersebut disampaikan di tengah meningkatnya kekhawatiran akibat gejolak global, khususnya konflik di Timur Tengah yang berdampak terhadap pasar keuangan internasional.

Pemerintah menyatakan akan terus menjaga stabilitas ekonomi serta daya beli masyarakat dalam beberapa pekan ke depan agar pertumbuhan ekonomi tetap terjaga.

Konflik Timur Tengah Memanas, Serangan Berlanjut di Iran dan Lebanon

Di tengah tekanan terhadap pasar global, konflik di Timur Tengah kembali memanas.

Kementerian Pertahanan Uni Emirat Arab mengklaim berhasil menangani 16 rudal balistik dan 113 drone yang diduga berasal dari Iran. Satu rudal dilaporkan jatuh ke laut, sementara empat drone jatuh di wilayah Uni Emirat Arab.

Sebelumnya, Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyatakan negaranya tidak berniat menyerang negara-negara tetangga. Pernyataan tersebut muncul setelah meningkatnya ketegangan di kawasan Teluk.

Sementara itu, Israel melancarkan serangan ke sejumlah fasilitas penyimpanan dan kilang minyak di Teheran. Serangan tersebut memicu kebakaran besar dan menyebabkan kebocoran minyak yang dilaporkan menjalar hingga ke sejumlah ruas jalan.

Baca Juga: IHSG Berbalik Hijau di Tengah Isu Mundurnya Gubernur BI dan Sentimen Global Pekan Ini

Media Iran menyebut sedikitnya tiga depot minyak menjadi sasaran serangan, sedangkan militer Israel menyatakan operasi tersebut bertujuan melemahkan infrastruktur militer Iran.

Serangan juga terjadi di sebuah hotel di Beirut, Lebanon. Militer Israel mengklaim serangan itu menargetkan komandan Pasukan Quds dari Garda Revolusi Iran. Sedikitnya empat orang dilaporkan tewas dan sepuluh lainnya mengalami luka-luka.

Di Eropa, ratusan demonstran menggelar aksi di Wina, Austria, menuntut dihentikannya serangan Israel dan Amerika Serikat terhadap Iran. Aksi serupa juga berlangsung di Paris, Prancis, bertepatan dengan peringatan Hari Perempuan Internasional, yang turut menyerukan perlindungan bagi perempuan dan korban perang.

Kondisi geopolitik yang terus memanas menjadi salah satu faktor yang meningkatkan ketidakpastian pasar global. Namun pemerintah Indonesia menegaskan kondisi ekonomi nasional masih berada dalam jalur yang stabil dan terus dipantau secara ketat. 

Editor : Ahmad Fadhil Gusnaashir
nilai tukar rupiah Rupiah Rp17.000 IHSG Melemah ekonomi indonesia konflik timur tengah