JAKARTA – Investasi kini semakin mudah dijangkau, bahkan dengan modal mulai Rp16 ribu per hari. Salah satu instrumen yang mulai banyak dibahas adalah Exchange Traded Fund (ETF), yang disebut-sebut cocok bagi investor pemula karena menawarkan diversifikasi tinggi dan biaya pengelolaan yang relatif rendah.
Dalam sebuah pembahasan mengenai edukasi investasi, ETF diperkenalkan sebagai alternatif bagi masyarakat yang ingin mulai membangun aset jangka panjang tanpa harus memilih saham satu per satu.
Baca Juga: Cara Meraih Kesuksesan Melalui Dunia Online Makin Terbuka, Ini 8 Peluang yang Bisa Dicoba
Mengapa Investasi Penting?
Salah satu alasan utama seseorang perlu mulai berinvestasi adalah untuk mengimbangi laju inflasi. Nilai uang cenderung menurun dari waktu ke waktu karena harga barang dan jasa terus meningkat.
Dengan berinvestasi, dana yang dimiliki diharapkan dapat berkembang sehingga pertumbuhannya mampu melampaui kenaikan inflasi. Selain itu, investasi juga memungkinkan seseorang memperoleh keuntungan dari pertumbuhan nilai aset dalam jangka panjang melalui efek compound interest atau bunga berbunga.
Konsep ini membuat keuntungan yang diperoleh akan kembali menghasilkan keuntungan baru sehingga nilai investasi dapat tumbuh lebih cepat seiring berjalannya waktu.
ETF Dinilai Cocok untuk Investor Pemula
Berbeda dengan membeli saham individual yang memiliki risiko lebih tinggi, ETF memungkinkan investor memiliki kepemilikan pada puluhan hingga ratusan perusahaan sekaligus dalam satu produk investasi.
Sebagai contoh, ETF yang mengikuti indeks S&P 500 berisi sekitar 500 perusahaan besar di Amerika Serikat. Dengan membeli satu unit ETF, investor secara tidak langsung memiliki sebagian kecil dari seluruh perusahaan yang terdapat dalam indeks tersebut.
Diversifikasi seperti ini dinilai dapat mengurangi risiko apabila salah satu perusahaan mengalami penurunan kinerja, karena masih ada perusahaan lain yang menopang nilai investasi secara keseluruhan.
Selain itu, biaya pengelolaan ETF umumnya lebih rendah dibandingkan sejumlah produk investasi lainnya sehingga dinilai lebih efisien untuk investasi jangka panjang.
Sebelum Investasi, Perhatikan Dua Hal Ini
Sebelum mulai berinvestasi, terdapat dua hal yang sebaiknya diprioritaskan.
Pertama, melunasi utang dengan bunga tinggi seperti pinjaman online atau kartu kredit. Beban bunga yang besar dapat menggerus kemampuan finansial sehingga lebih baik diselesaikan terlebih dahulu.
Kedua, menyiapkan dana darurat minimal tiga hingga enam bulan pengeluaran rutin. Dana ini penting agar investor tidak perlu menjual aset investasi ketika menghadapi kondisi darurat atau kebutuhan mendesak.
Kapan Waktu Terbaik Memulai Investasi?
Dalam dunia investasi terdapat ungkapan bahwa waktu terbaik untuk mulai berinvestasi adalah "20 tahun lalu", sedangkan waktu terbaik berikutnya adalah "hari ini".
Semakin dini seseorang mulai berinvestasi, semakin besar peluang memperoleh manfaat dari pertumbuhan investasi jangka panjang melalui efek bunga berbunga.
Simulasi sederhana menunjukkan bahwa seseorang yang mulai berinvestasi lebih awal meskipun dengan nominal lebih kecil berpotensi memiliki hasil akhir yang lebih besar dibandingkan mereka yang mulai lebih lambat tetapi menyetor dana lebih banyak.
Baca Juga: Cara Meraih Kesuksesan Melalui Dunia Online Ternyata Bukan Sekadar Jualan di Media Sosial
Investasi Jangka Panjang Lebih Disarankan
Investor pemula juga disarankan untuk memiliki orientasi investasi jangka panjang, minimal lima hingga sepuluh tahun.
Pergerakan harga aset dalam jangka pendek memang bisa mengalami fluktuasi yang cukup tinggi. Namun secara historis, investasi pada indeks pasar saham dalam periode panjang cenderung menunjukkan tren pertumbuhan positif, meskipun hasil masa lalu tidak menjamin kinerja di masa depan.
Karena itu, disiplin berinvestasi secara rutin dinilai menjadi salah satu kunci membangun kekayaan dalam jangka panjang.
Modal Kecil Bisa Menjadi Besar
Dengan strategi investasi yang konsisten, modal kecil dapat berkembang secara signifikan seiring waktu.
Sebagai ilustrasi, investasi rutin Rp16 ribu per hari atau sekitar Rp480 ribu per bulan pada instrumen yang memberikan tingkat pengembalian tertentu dapat menghasilkan akumulasi dana yang jauh lebih besar dalam puluhan tahun berkat efek compounding.
Meski demikian, hasil investasi tetap dipengaruhi oleh kondisi pasar dan tidak ada instrumen yang dapat menjamin keuntungan pasti. Oleh karena itu, setiap investor tetap perlu memahami profil risiko masing-masing sebelum mengambil keputusan investasi.
Editor : M. Helmi Nurhisam