Instrumen Investasi Terbaik untuk Pensiun 2026, Deposito hingga Bitcoin Diranking, Mana Paling Cuan?

M. Helmi Nurhisam • Dipublikasikan Sabtu, 15 Agustus 2026 | 19:20 WIB
Instrumen investasi terbaik untuk pensiun dibandingkan mulai dari deposito, obligasi, saham, properti, emas hingga Bitcoin. Mana yang paling menguntungkan?(Pinterest)
Instrumen investasi terbaik untuk pensiun dibandingkan mulai dari deposito, obligasi, saham, properti, emas hingga Bitcoin. Mana yang paling menguntungkan?(Pinterest)

JAKARTA – Instrumen investasi terbaik untuk pensiun menjadi topik yang semakin banyak dibahas di tengah meningkatnya kekhawatiran masyarakat menjelang masa pensiun. Banyak pekerja berusia di atas 50 tahun mulai mencari cara mengelola dana pensiun agar tetap mampu memenuhi kebutuhan hidup sekaligus menjaga nilai kekayaan dari dampak inflasi.

Dalam sebuah diskusi yang menghadirkan praktisi investasi Alex Cayadi dan Candra, berbagai instrumen investasi dibandingkan berdasarkan potensi keuntungan, risiko, serta kecocokannya untuk profil investor konservatif hingga agresif. Menariknya, keduanya memiliki sudut pandang berbeda karena berasal dari generasi yang berbeda pula.

Pembahasan mengenai instrumen investasi terbaik untuk pensiun tersebut bertujuan memberikan gambaran bagi calon pensiunan maupun investor muda agar lebih memahami kelebihan dan kekurangan setiap pilihan investasi, mulai dari deposito, obligasi, saham, properti, emas hingga aset kripto.

Baca Juga: Cara Meraih Kesuksesan Melalui Dunia Online Makin Terbuka, Ini 8 Peluang yang Bisa Dicoba

Deposito Dinilai Kurang Menarik

Alex Cayadi menempatkan deposito rupiah bank umum pada peringkat terendah. Menurutnya, bunga deposito yang berkisar 4–5 persen per tahun belum mampu mengimbangi kenaikan biaya hidup maupun inflasi sehingga daya beli uang terus mengalami penurunan.

Meski demikian, Candra menilai deposito masih dapat dipertimbangkan bagi investor dengan profil risiko sangat konservatif. Namun, ia mengakui bahwa imbal hasil deposito saat ini jauh lebih rendah dibandingkan beberapa instrumen investasi lainnya.

Pandangan serupa juga muncul terhadap deposito BPR. Walaupun menawarkan bunga sedikit lebih tinggi, instrumen ini dinilai memiliki risiko lebih besar sehingga tetap kurang menarik bagi investor yang mengincar pertumbuhan aset jangka panjang.

Reksa Dana dan Obligasi Jadi Pilihan Menengah

Untuk instrumen seperti reksa dana pasar uang, Surat Berharga Negara (SBN), hingga obligasi pemerintah maupun korporasi, kedua narasumber memberikan penilaian yang relatif moderat.

Alex menilai instrumen dengan imbal hasil di bawah 10 persen kurang mampu mengejar peningkatan kebutuhan hidup keluarga. Sebaliknya, Candra masih memandang reksa dana dan obligasi sebagai pilihan aman karena didukung fundamental ekonomi Indonesia yang menurutnya masih memiliki prospek jangka panjang.

Menurutnya, gejolak pasar dan pelemahan nilai tukar rupiah tidak selalu mencerminkan kondisi ekonomi secara keseluruhan. Oleh sebab itu, investor tetap perlu melihat fundamental sebelum mengambil keputusan investasi.

 

Saham Dividen Jadi Favorit

Berbeda dengan deposito, saham-saham blue chip pembagi dividen memperoleh penilaian tinggi.

Keduanya sepakat bahwa saham perbankan besar yang memiliki fundamental kuat masih layak dipertimbangkan sebagai investasi jangka panjang, terlebih ketika harga saham sedang mengalami koreksi.

Mereka juga menilai saham luar negeri, khususnya perusahaan besar di Amerika Serikat, memiliki prospek lebih baik karena didukung pertumbuhan ekonomi serta penguatan dolar AS terhadap rupiah.

Menurut Alex, investasi saham luar negeri memberikan peluang keuntungan tambahan dari apresiasi nilai mata uang selain kenaikan harga saham itu sendiri.

Baca Juga: 7 Cara Meraih Kesuksesan Melalui Dunia Online yang Bisa Jadi Sumber Penghasilan

Properti Masih Diperdebatkan

Perbedaan pendapat cukup terlihat pada sektor properti.

Alex menilai harga properti saat ini cenderung stagnan dan kurang likuid sehingga tidak lagi menjadi pilihan utama bagi generasi muda.

Sebaliknya, Candra yang telah mengalami beberapa siklus pasar properti tetap percaya aset fisik seperti tanah, ruko, maupun bangunan akan terus mengalami kenaikan nilai dalam jangka panjang.

Ia menilai properti masih menjadi salah satu instrumen investasi yang mampu melindungi kekayaan dari inflasi meskipun membutuhkan waktu lebih lama untuk memperoleh keuntungan.

Emas dan Bitcoin Semakin Dilirik

Pembahasan juga menyentuh emas fisik, emas digital, hingga aset kripto.

Candra tetap menempatkan emas fisik sebagai salah satu investasi terbaik karena telah terbukti menjaga nilai aset selama puluhan bahkan ratusan tahun.

Di sisi lain, Alex lebih memilih emas digital berbasis blockchain karena dianggap lebih praktis, mudah dipindahkan, dan lebih cepat dicairkan ketika dibutuhkan.

Sementara itu, Bitcoin dan aset kripto memperoleh penilaian tinggi dari Alex. Ia menilai teknologi blockchain membuka peluang investasi baru yang lebih fleksibel, termasuk memanfaatkan aset kripto sebagai jaminan untuk memperoleh likuiditas.

Meski awalnya skeptis, Candra mengaku mulai membuka diri terhadap perkembangan teknologi keuangan digital. Menurutnya, generasi yang lebih tua perlu mulai mempelajari inovasi tersebut agar tidak tertinggal oleh perubahan zaman.

Diskusi tersebut menegaskan bahwa tidak ada satu instrumen investasi yang cocok untuk semua orang. Pilihan terbaik tetap bergantung pada usia, tujuan keuangan, profil risiko, serta jangka waktu investasi masing-masing individu.

 

Editor : M. Helmi Nurhisam
Sumber : Success Before 30
deposito instrumen investasi terbaik investasi pensiun saham dividen bitcoin