Kisah Muhammad Alfa, Siswa SMK yang Raup Omzet Rp100 Juta per Bulan dari Bisnis Sayur dan Jamur

M. Helmi Nurhisam • Dipublikasikan Sabtu, 15 Agustus 2026 | 19:55 WIB
Siswa SMK sukses bisnis sayur, Muhammad Alfa Priandito raup omzet lebih dari Rp100 juta per bulan sambil membantu petani di Gunungkidul.(Pinterest)
Siswa SMK sukses bisnis sayur, Muhammad Alfa Priandito raup omzet lebih dari Rp100 juta per bulan sambil membantu petani di Gunungkidul.(ScYoutube)

JAKARTA – Siswa SMK sukses bisnis sayur menjadi bukti bahwa usia muda bukan penghalang untuk meraih kesuksesan. Muhammad Alfa Priandito, siswa kelas 12 jurusan Rekayasa Perangkat Lunak (RPL) di SMK Al Hikmah Gubuk Rubuh, Gunungkidul, Yogyakarta, berhasil membangun usaha distribusi hasil pertanian dengan omzet rata-rata lebih dari Rp100 juta per bulan.

Di usianya yang baru 17 tahun, Muhammad Alfa Priandito tidak hanya membantu perekonomian keluarga, tetapi juga menjadi penghubung antara petani lokal dengan pasar. Bisnis yang dirintis sejak masih sekolah itu bahkan sempat menghasilkan omzet harian mencapai Rp6 juta hingga Rp8 juta ketika hasil panen sedang melimpah.

Perjalanan siswa SMK sukses bisnis sayur ini bermula dari kebiasaannya berjualan sejak duduk di bangku sekolah dasar. Saat kelas 4 SD, Alfa sudah menjajakan aneka jajanan pasar seperti donat dan martabak. Jiwa berdagang tersebut terus terbawa hingga remaja.

Baca Juga: Instrumen Investasi Terbaik untuk Pensiun 2026, Deposito hingga Bitcoin Diranking, Mana Paling Cuan?

Berawal dari Membantu Ayah Mencari Sayur

Alfa menceritakan, usaha yang dijalankannya lahir setelah pandemi Covid-19 ketika sang ayah mengalami kesulitan mendapatkan pasokan sayuran untuk dijual di pasar.

Atas saran orang tua, ia mulai mendatangi petani di sekitar Gunungkidul untuk membeli hasil panen yang belum memiliki pembeli. Sayuran tersebut kemudian dijual kembali kepada ayahnya sebelum dipasarkan ke berbagai pasar tradisional.

Awalnya, ia juga sempat berjualan jamur tiram menggunakan sepeda motor. Setiap pulang sekolah, Alfa membawa puluhan kilogram jamur menuju Pasar Wonosari. Seiring waktu, pelanggan bertambah hingga banyak pedagang yang memesan langsung melalui WhatsApp.

Ketika produksi jamur mulai menurun akibat cuaca, Alfa beralih menjadi distributor berbagai hasil pertanian seperti gambas atau oyong, pare, timun, terong, cabai, hingga jamur tiram.

Omzet Pernah Capai Rp150 Juta per Bulan

Menurut Alfa, beberapa bulan lalu usahanya mampu mencatat omzet lebih dari Rp150 juta dalam sebulan. Bahkan, transaksi harian sempat berada di kisaran Rp6 juta hingga Rp8 juta.

Namun, kondisi cuaca yang tidak menentu membuat hasil panen petani menurun drastis sehingga omzet ikut terkoreksi.

"Kalau sekarang rata-rata sekitar Rp60 juta sampai Rp90 juta per bulan. Kalau dirata-rata masih sekitar Rp100 juta lebih," ujarnya.

Saat ini, hasil pertanian yang dikumpulkan dipasarkan ke sejumlah pasar di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta, seperti Pasar Wonosari, Prambanan, hingga Muntilan.

Selain membeli hasil panen, Alfa juga membantu petani memperoleh modal tanam agar produksi tetap berjalan.

Bantu Petani Kecil Berkembang

Berbeda dengan pedagang pada umumnya, Alfa mengaku hanya mengambil keuntungan dalam jumlah kecil. Baginya, tujuan utama usaha tersebut adalah membantu petani kecil memperoleh harga jual yang layak.

Ia juga mengatakan pernah berperan dalam menjaga stabilitas harga gambas di wilayah Yogyakarta ketika pasokan dari luar daerah berkurang.

Ke depan, Alfa menargetkan memperluas jaringan petani binaan yang saat ini berjumlah sekitar 10 hingga 15 orang menjadi puluhan petani. Bahkan, mulai awal tahun mendatang ia mengaku telah menyiapkan proyek distribusi sekitar 30 ton gambas setiap bulan.

Baca Juga: Ranking Investasi Terbaik untuk Pensiun 2026, Saham AS dan Bitcoin Ungguli Deposito?

Pernah Diejek Tukang Sayur, Kini Jadi Inspirasi

Perjalanan bisnis Alfa tidak selalu berjalan mulus. Saat masih mengantar jamur menggunakan motor, ia sering mendapat ejekan dari teman-temannya.

Julukan seperti "tukang jamur" atau "tukang sayur" sempat diterimanya ketika berangkat latihan futsal maupun saat pulang sekolah.

Namun, ia memilih mengabaikan cibiran tersebut dan fokus membangun usahanya.

"Turunkan gengsimu. Pakailah malumu di saat mudamu. Nanti ketika kamu sudah sukses, orang lain yang akan bertanya bagaimana caranya," pesannya.

Ingin Ciptakan Lapangan Kerja

Meski masih berstatus pelajar, Alfa sudah memiliki karyawan yang membantu mengelola keuangan dan operasional usaha.

Ia juga pernah meraih penghargaan Wirausahawan Belia tingkat Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta pada 2023.

Setelah lulus SMK, Alfa berencana melanjutkan kuliah di bidang bisnis atau pertanian sambil terus mengembangkan usaha distribusi hasil pertanian hingga membuka lapangan pekerjaan baru.

Menurutnya, definisi sukses bukan sekadar bekerja kepada orang lain, melainkan mampu menciptakan pekerjaan bagi banyak orang.

Di akhir pesannya, Alfa mengajak generasi muda untuk tidak malu berwirausaha, membantu orang tua, serta selalu bersyukur kepada Allah dalam setiap kondisi.

 

Editor : M. Helmi Nurhisam
Sumber : Pecah Telur
wirausaha muda siswa SMK sukses Muhammad Alfa Priandito bisnis sayur petani Gunungkidul