Desil 9 dan 10 Bukan Berarti Kaya Raya, Ini Penjelasan BPS soal Data Sosial Ekonomi

M. Helmi Nurhisam • Dipublikasikan Senin, 7 September 2026 | 18:20 WIB
Desil 9 dan 10 tidak otomatis berarti kaya raya. BPS menjelaskan desil ditentukan dari berbagai indikator sosial ekonomi keluarga.(Pinterest)
Desil 9 dan 10 tidak otomatis berarti kaya raya. BPS menjelaskan desil ditentukan dari berbagai indikator sosial ekonomi keluarga.(Pinterest)

JAKARTA - Desil 9 dan 10 tengah menjadi perbincangan setelah sejumlah masyarakat mengeluhkan hasil pemeringkatan dalam Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN). Ada yang mengaku masuk desil 9 atau 10 meski masih tinggal di rumah kontrakan dan hanya memiliki penghasilan beberapa juta rupiah per bulan.

Kondisi tersebut memunculkan pertanyaan, apakah desil 9 dan 10 otomatis menunjukkan seseorang sebagai orang kaya? Badan Pusat Statistik (BPS) menjelaskan bahwa anggapan tersebut tidak tepat.

Desil merupakan pembagian keluarga ke dalam 10 kelompok berdasarkan peringkat kondisi sosial ekonomi. Desil 1 berada pada kelompok dengan kondisi sosial ekonomi terendah, sedangkan desil 10 berada pada peringkat tertinggi. Namun, posisi tersebut tidak ditentukan hanya dari besarnya penghasilan.

Baca Juga: Cara Cek Desil Bansos di Cekbansos.go.id, Begini Posisi Desil 1 sampai 10

Desil Tidak Ditentukan dari Penghasilan Saja

BPS menjelaskan bahwa penentuan desil menggunakan berbagai indikator yang menggambarkan kondisi sosial ekonomi sebuah keluarga. Faktor yang diperhitungkan antara lain kondisi tempat tinggal, kepemilikan aset, pendidikan, pekerjaan, usaha, hingga kondisi kesehatan.

Karena menggunakan banyak indikator, tidak ada batas penghasilan tertentu yang secara otomatis membuat sebuah keluarga masuk ke desil tertentu.

Artinya, seseorang dengan penghasilan beberapa juta rupiah per bulan tidak bisa langsung menyimpulkan dirinya seharusnya berada di desil tertentu. Begitu pula seseorang yang memiliki penghasilan lebih tinggi belum tentu hanya berdasarkan angka tersebut langsung ditempatkan pada desil 9 atau 10.

Pemeringkatan juga dilakukan terhadap keluarga, bukan individu. Dengan demikian, penghasilan satu anggota keluarga bukan menjadi satu-satunya dasar dalam menentukan posisi desil.

Kondisi tersebut menjelaskan mengapa seseorang yang secara pribadi merasa memiliki kemampuan ekonomi terbatas tetap bisa berada pada kelompok desil yang relatif tinggi.

Desil 10 Tidak Selalu Berarti Orang Kaya

BPS juga menjelaskan bahwa kondisi ekonomi keluarga yang masuk desil 10 dapat sangat beragam. Kelompok tersebut bisa mencakup keluarga kelas menengah hingga keluarga dengan tingkat kekayaan yang sangat besar.

Dengan demikian, desil 9 dan 10 tidak dapat digunakan sebagai label yang secara otomatis menyatakan seseorang kaya raya.

Desil pada dasarnya menunjukkan posisi relatif suatu keluarga dibandingkan keluarga lainnya berdasarkan berbagai indikator sosial ekonomi. Posisi tersebut berbeda dengan kategori sederhana yang hanya membagi masyarakat berdasarkan besarnya pendapatan.

Karena itu, seseorang yang masuk desil 9 belum tentu memiliki kondisi ekonomi yang sama dengan keluarga lain yang juga berada pada desil tersebut. Begitu pula keluarga yang berada di desil 10 dapat memiliki tingkat kemampuan ekonomi yang berbeda-beda.

Baca Juga: Cara Cek Desil Bansos Lewat HP, Cukup Pakai NIK KTP Tanpa Aplikasi

Berkaitan dengan Kebijakan Pemerintah

Data desil juga menjadi penting karena digunakan dalam berbagai kebijakan pemerintah. Dalam pembahasan yang beredar, data tersebut dikaitkan dengan rencana pembatasan subsidi bahan bakar minyak (BBM).

Penggunaan data sosial ekonomi untuk kebijakan membuat pemahaman mengenai desil menjadi penting. Masyarakat tidak seharusnya langsung memberikan label kaya atau miskin kepada seseorang hanya berdasarkan posisi desil.

Jika seseorang tercatat dalam desil 9 atau 10, posisi tersebut menunjukkan peringkat kondisi sosial ekonomi keluarganya dalam data, bukan pernyataan bahwa keluarga tersebut pasti memiliki kekayaan besar.

Begitu pula jika seseorang berada pada desil rendah, hal itu merupakan hasil pemeringkatan berdasarkan sejumlah indikator yang digunakan dalam data sosial ekonomi.

Dengan demikian, perdebatan mengenai desil sebaiknya tidak hanya melihat besarnya pendapatan bulanan. Kondisi rumah, aset, pendidikan, pekerjaan, usaha, kesehatan, serta kondisi anggota keluarga turut menjadi bagian dari gambaran sosial ekonomi.

Pemahaman tersebut menjadi penting agar masyarakat tidak salah mengartikan hasil pemeringkatan DTSEN. Desil 9 dan 10 bukan label otomatis bahwa seseorang kaya raya, melainkan posisi relatif kondisi sosial ekonomi sebuah keluarga berdasarkan sejumlah indikator.

 

Editor : M. Helmi Nurhisam
Sumber : KONTAN TV
desil 9 dan 10 desil BPS data sosial ekonomi subsidi BBM DTSEN