Bank Indonesia Pertahankan BI Rate 5,75 Persen, Fokus Jaga Rupiah dan Dorong Ekonomi

Muhammad Rusdian Nuzula • Dipublikasikan Selasa, 15 September 2026 | 18:03 WIB
Bank Indonesia mempertahankan BI Rate 5,75 persen untuk menjaga rupiah dan inflasi sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi. (PINTEREST)
Bank Indonesia mempertahankan BI Rate 5,75 persen untuk menjaga rupiah dan inflasi sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi. (PINTEREST)

JAKARTA - Bank Indonesia mempertahankan BI Rate sebesar 5,75 persen. Keputusan tersebut diambil dalam Rapat Dewan Gubernur sebagai bagian dari upaya menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, mengendalikan inflasi, sekaligus tetap mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.

Selain BI Rate, Bank Indonesia mempertahankan suku bunga Deposit Facility sebesar 4,75 persen dan Lending Facility sebesar 6,5 persen. Kebijakan tersebut dinilai tetap sejalan dengan kondisi ekonomi global yang masih penuh ketidakpastian.

Bank Indonesia melihat prospek perekonomian global masih lemah. Pertumbuhan ekonomi dunia diperkirakan sekitar 3 persen, sementara tekanan inflasi global berada di kisaran 4,5 persen. Kondisi tersebut turut mendorong kebijakan moneter global menjadi lebih ketat.

Salah satu perhatian Bank Indonesia adalah arah kebijakan moneter Amerika Serikat. Suku bunga Federal Funds Rate diperkirakan tetap tinggi dan berpotensi meningkat pada triwulan keempat. Imbal hasil US Treasury juga diperkirakan berada pada level tinggi seiring ekspektasi kebijakan suku bunga dan kondisi defisit anggaran Amerika Serikat.

Situasi tersebut berdampak terhadap pasar keuangan global. Ketidakpastian yang masih tinggi membuat preferensi investor terhadap aset portofolio di negara berkembang tertahan. Penguatan dolar Amerika Serikat juga menjadi salah satu faktor yang perlu diantisipasi.

Baca Juga: UUPA 1960 Jadi Tonggak Sejarah Pertanahan Indonesia, Akhiri Dualisme Hukum Agraria

Bank Indonesia Tetap Dorong Pertumbuhan Ekonomi

Di tengah tekanan global, kondisi ekonomi Indonesia dinilai masih terjaga. Pertumbuhan ekonomi pada kuartal kedua tercatat 5,29 persen secara tahunan.

Pertumbuhan tersebut antara lain ditopang stimulus fiskal yang mendorong konsumsi pemerintah dan investasi. Konsumsi pemerintah tumbuh tinggi, termasuk melalui belanja pegawai serta belanja barang dan jasa yang berkaitan dengan program makan bergizi gratis.

Investasi juga menjadi salah satu faktor yang mendukung pertumbuhan. Bank Indonesia melihat adanya perbaikan investasi, baik pada sektor bangunan maupun nonbangunan. Perkembangan tersebut disebut berkaitan dengan mulai berjalannya sejumlah proyek strategis pemerintah.

Untuk keseluruhan tahun, Bank Indonesia memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia berada dalam kisaran 4,9 hingga 5,7 persen. Bank Indonesia juga menyebut titik tengah proyeksi pertumbuhan mulai bergerak menuju batas atas.

Untuk mendukung pertumbuhan tanpa mengabaikan stabilitas, Bank Indonesia menggunakan instrumen kebijakan makroprudensial dan likuiditas. Salah satunya melalui Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial atau KLM.

Kredit perbankan pada periode terakhir tumbuh 13,58 persen secara tahunan. Bank Indonesia menilai perkembangan tersebut menunjukkan intermediasi perbankan masih berjalan kuat.

Rupiah dan Inflasi Tetap Jadi Perhatian

Bank Indonesia juga terus memperkuat stabilisasi nilai tukar rupiah. Nilai tukar rupiah tercatat menguat 0,78 persen secara point to point dibandingkan level akhir periode sebelumnya, hingga berada di posisi Rp17.855 per dolar Amerika Serikat.

Untuk menarik aliran modal asing, Bank Indonesia memperluas insentif lindung nilai. Insentif swap jual lindung nilai dinaikkan menjadi 12,5 persen, sedangkan insentif DNDF jual lindung nilai diberikan sebesar 15 persen.

Kebijakan tersebut kemudian diperluas sehingga transaksi lindung nilai tidak hanya berkaitan dengan portofolio asing, tetapi juga pinjaman luar negeri yang dilakukan bank dan foreign direct investment.

Di sisi inflasi, Indeks Harga Konsumen tercatat 2,88 persen secara tahunan, turun dari 3,34 persen pada periode sebelumnya. Inflasi inti berada di level 2,76 persen, sementara volatile food melambat menjadi 2,52 persen.

Baca Juga: UUPA 1960 Jadi Tonggak Sejarah Pertanahan Indonesia, Akhiri Dualisme Hukum Agraria

Bank Indonesia menyebut perkembangan tersebut turut dipengaruhi panen sejumlah komoditas hortikultura, termasuk cabai dan bawang merah.

Ke depan, Bank Indonesia tetap mewaspadai risiko El Nino dan dampaknya terhadap pasokan pangan. Koordinasi dengan pemerintah melalui TPIP, TPID, serta gerakan pengendalian inflasi dan pangan akan terus diperkuat.

Selain kebijakan moneter dan makroprudensial, Bank Indonesia juga melanjutkan pengembangan sistem pembayaran digital. Volume transaksi pembayaran digital tercatat tumbuh 28,69 persen secara tahunan.

Bank Indonesia menegaskan rupiah secara fisik dan transaksi digital bukanlah sesuatu yang saling menggantikan, melainkan menjadi pilihan yang saling melengkapi bagi masyarakat.

Melalui kebijakan tersebut, Bank Indonesia berupaya menjaga stabilitas rupiah dan inflasi, sekaligus menciptakan ruang yang lebih besar untuk mendukung pertumbuhan ekonomi Indonesia secara berkelanjutan.

 

Editor : Muhammad Rusdian Nuzula
Sumber : Bank Indonesia Channel
Inflasi Indonesia BI Rate rupiah bank indonesia ekonomi indonesia