Modal Nekat, Pengusaha Tempe Blitar Ini Kini Produksi 80 Kg Sehari

M. Subchan Abdullah • Dipublikasikan Kamis, 8 Oktober 2026 | 13:00 WIB
ENERGI : Nasruddin mengolah kedelai menjadi tempe yang akan dijual ke masyarakat.
ENERGI : Nasruddin mengolah kedelai menjadi tempe yang akan dijual ke masyarakat.

 

BLITAR KAWENTAR - Perjalanan pengusaha tempe Blitar Nasruddin membangun bisnis dari dapur sederhana menjadi kisah tentang ketekunan menghadapi persaingan dan kenaikan biaya produksi.

Berawal dari modal nekat pada 2023, produksi yang semula hanya lima kilogram kedelai per hari kini berkembang hingga mencapai sekitar 80 kilogram.

Usaha tempe tersebut dijalankan Nasruddin di Desa Kemloko, Kecamatan Nglegok.

Baca Juga: Rehab SDN Tlogo Blitar Segera Dikebut, Anggaran Rp376 Juta Disiapkan untuk Perbaikan Atap Sekolah

Dari tempat produksi sederhana itu, ia mengolah kedelai hingga menjadi tempe yang dipasarkan untuk memenuhi kebutuhan pangan masyarakat Blitar.

Perkembangan usaha tersebut tidak terjadi secara instan. Ketika pertama kali memulai bisnis pada 2023, kemampuan produksinya masih sangat terbatas.

 Peralatan dapur seadanya hanya mampu mengolah sekitar lima kilogram kedelai setiap hari.

Baca Juga: PMI Asal Sutojayan Meninggal di Hong Kong, Jenazah Sudah Dipulangkan dan Dimakamkan di Kampung

Kini, kapasitas produksi sudah meningkat menjadi sekitar 80 kilogram kedelai per hari.

 Artinya, kemampuan produksi meningkat sekitar 16 kali lipat dibandingkan ketika pertama kali merintis usaha.

Nasruddin menyebut perkembangan jumlah pelanggan tidak lepas dari upaya menjaga rasa dan kebersihan produk. Pada masa awal usaha, promosi dilakukan dari mulut ke mulut.

Konsistensi tersebut perlahan membuat semakin banyak pembeli mengenal produknya. Bagi Nasruddin, menjaga kualitas bukan hanya soal menghasilkan tempe, tetapi juga memastikan proses pengolahan dilakukan secara higienis.

Sanitasi menjadi salah satu perhatian utama dalam proses produksi. Mulai dari pencucian kedelai, perebusan, peragian, hingga pengemasan dilakukan dengan memperhatikan kebersihan.

Cara tersebut diyakini menjadi salah satu alasan pelanggan kembali membeli produk buatannya. Tempe yang dihasilkan memiliki tekstur padat, rasa gurih, dan dapat bertahan lebih lama.

Baca Juga: Sertifikat Tanah Hilang, Apakah Hak Kepemilikan Ikut Hilang? Ini Penjelasannya

Bagi Nasruddin, tempe bukan sekadar komoditas olahan kedelai. Produk tersebut merupakan panganan yang dikonsumsi masyarakat sehingga proses pembuatannya harus benar-benar diperhatikan.

Meski permintaan meningkat, perjalanan usaha Nasruddin tidak sepenuhnya mulus. Kenaikan biaya operasional dan fluktuasi harga bahan penunjang produksi turut memengaruhi keuntungan bersih.

Kondisi tersebut membuat peningkatan kapasitas produksi tidak otomatis membuat keuntungan semakin besar. Ketika skala usaha membesar, biaya yang harus dikeluarkan juga ikut meningkat.

Baca Juga: KGB PPPK Blitar Tak Kunjung Turun Sejak 2022, Guru Desak Pemkab Segera Beri Kepastian

Nasruddin sebenarnya memiliki ruang untuk menaikkan harga jual. Namun, ia memilih mempertahankan harga tempe di angka Rp4 ribu per bungkus.

Keputusan tersebut diambil karena ia khawatir kenaikan harga membuat pelanggan berkurang.

Baginya, mempertahankan kepercayaan konsumen yang sudah terbangun selama tiga tahun menjadi pertimbangan penting.

Baca Juga: Evaluasi SOP SPPG di Kota Blitar Diperketat Imbas Dugaan Keracunan 22 Siswa, Dinkes Audit hingga Dis

Nasruddin mengakui pilihan mempertahankan harga membuat margin keuntungan menjadi lebih tipis. Namun, ia tetap memilih bertahan di tengah kenaikan biaya produksi.

Kepercayaan pelanggan menjadi modal penting bagi pengusaha tempe tersebut. Setelah membangun usaha selama tiga tahun, ia tidak ingin keputusan menaikkan harga justru membuat konsumen beralih.

Perjalanan dari produksi lima kilogram menjadi 80 kilogram kedelai per hari menunjukkan perkembangan signifikan usaha Nasruddin. Namun, tantangan berikutnya bukan sekadar meningkatkan produksi.

Baca Juga: Honda CB150R Tampil Makin Agresif, Desain Streetfighter dan Fitur Modern Bikin Penasaran

Ia juga harus menjaga kualitas, mempertahankan pelanggan, serta menghadapi biaya operasional yang terus menekan margin.

Di tengah kondisi tersebut, Nasruddin memilih mempertahankan prinsip yang sejak awal menjadi bagian penting usahanya: menjaga kebersihan dan kualitas tempe.

Bagi pengusaha tempe Blitar itu, mempertahankan kepercayaan konsumen menjadi cara untuk terus bertahan.

Baca Juga: Bonsai Kimeng Dibentuk dari Batang yang Menyatu, Cabang Kecil Diperbesar dengan Teknik Tempel

Dari modal nekat dan dapur sederhana, usahanya kini mampu memenuhi permintaan hingga puluhan kilogram setiap hari. (*/c1/ady)

Editor : Ratna Anggi Puspita Sari
nasruddin tempe blitar pengusaha tempe usaha tempe produksi tempe