JAKARTA - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok 10,76 persen ke level 5.233 pada sesi pertama perdagangan Jumat, 16 Oktober 2026. Pelemahan tajam ini terjadi bersamaan dengan aksi jual yang mendominasi pasar, membuat 771 saham terkoreksi dan 30 saham menyentuh batas auto rejection bawah (ARB). Sejumlah saham, termasuk AKRA, SSIA, FORU, dan CBDK, masuk dalam daftar saham dengan penurunan harga terdalam.
Data Bursa Efek Indonesia (BEI) menunjukkan IHSG kehilangan 630,77 poin selama sesi perdagangan tersebut. Indeks bergerak dalam rentang 5.193 hingga 5.404 sebelum berakhir di level 5.233. Besarnya penurunan memperlihatkan tekanan jual yang kuat di pasar saham domestik.
Koreksi tersebut juga menekan indeks saham unggulan LQ45 yang tercatat turun sekitar 12 persen. Sejumlah saham bahkan mengalami penurunan harga mendekati 15 persen pada sesi pertama perdagangan.
Baca Juga: Review MSCI Terbaru, Dana Asing Rp110 Triliun Keluar dan IHSG Menanti Kepastian hingga 2027
IHSG Anjlok, 771 Saham Bergerak Melemah
Tekanan pasar terlihat dari luasnya jumlah saham yang mengalami penurunan. Dari keseluruhan saham yang diperdagangkan, sebanyak 771 saham melemah. Sebaliknya, hanya 14 saham yang menguat, sedangkan tiga saham bergerak stagnan.
Komposisi tersebut menunjukkan bahwa pelemahan tidak hanya terjadi pada sejumlah saham tertentu, tetapi meluas ke sebagian besar saham di bursa. Ketika mayoritas saham bergerak turun secara bersamaan, tekanan terhadap IHSG semakin besar karena indeks mencerminkan pergerakan harga saham yang tercatat di pasar.
Aktivitas transaksi juga berlangsung dalam volume besar. Sepanjang sesi pertama, sebanyak 38,67 miliar lembar saham diperdagangkan dengan nilai transaksi mencapai Rp17,83 triliun. Frekuensi perdagangan tercatat sebanyak 1.354.139 kali transaksi.
Besarnya volume dan frekuensi transaksi tersebut terjadi di tengah dominasi saham yang melemah. Namun, data transaksi itu sendiri tidak menjelaskan secara pasti penyebab setiap investor melakukan pembelian atau penjualan.
AKRA hingga CBDK Masuk Daftar Saham Top Losers
Sebanyak 30 saham dilaporkan menyentuh batas auto rejection bawah atau ARB dan masuk daftar saham dengan penurunan harga terdalam (top losers). Beberapa di antaranya adalah AKRA, SSIA, FORU, dan CBDK.
Penurunan saham-saham tersebut berlangsung bersamaan dengan anjloknya IHSG. Sejumlah saham mencatatkan koreksi mendekati 15 persen pada sesi pertama perdagangan, mencerminkan kuatnya tekanan jual yang terjadi di pasar.
ARB merupakan mekanisme pembatasan penurunan harga saham dalam satu hari perdagangan sesuai ketentuan BEI. Mekanisme ini membatasi penurunan harga ketika saham mencapai ambang batas yang berlaku.
Dengan adanya ARB, harga saham tidak dapat terus turun tanpa batas dalam sesi perdagangan yang sama. Meski demikian, menyentuh batas ARB tetap menandakan tekanan jual yang kuat terhadap saham bersangkutan pada saat itu.
Investor perlu membedakan antara penurunan harga saham secara umum dan saham yang sudah mencapai batas ARB. Keduanya menunjukkan pelemahan, tetapi ARB memiliki arti khusus karena berkaitan dengan ketentuan batas pergerakan harga harian di bursa.
Baca Juga: Review MSCI Terbaru, Dana Asing Rp110 Triliun Keluar dan IHSG Menanti Kepastian hingga 2027
Tekanan Pasar Terlihat Meluas
Kombinasi penurunan IHSG sebesar 10,76 persen, koreksi LQ45 sekitar 12 persen, serta dominasi 771 saham yang melemah memperlihatkan skala tekanan pasar pada sesi pertama perdagangan tersebut.
Meski begitu, data yang tersedia belum cukup untuk memastikan pemicu utama kejatuhan IHSG maupun memproyeksikan kapan pasar akan pulih. Informasi mengenai transaksi, pergerakan indeks, dan daftar saham yang terkena ARB menggambarkan kondisi perdagangan, bukan penjelasan lengkap mengenai penyebabnya.
Dalam situasi pasar yang bergejolak, investor perlu mempertimbangkan informasi perusahaan dan perkembangan pasar sebelum mengambil keputusan. Penurunan harga yang tajam tidak otomatis berarti seluruh saham memiliki kondisi fundamental yang sama.
Pergerakan pada sesi berikutnya juga perlu dicermati untuk melihat apakah tekanan jual berlanjut atau mulai mereda. Untuk sementara, perdagangan Jumat tersebut menjadi gambaran betapa kuatnya tekanan yang melanda pasar saham Indonesia pada sesi pertama.
Editor : Muhammad Rusdian Nuzula