JAKARTA - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terpuruk di bawah level 6.000 setelah mencatatkan penurunan lebih dari 30 persen sepanjang 2026. Meski valuasinya berada di titik terendah sejak 2011, investor belum bisa langsung menganggap kondisi ini sebagai kesempatan membeli saham. Arus keluar dana asing, pelemahan rupiah, dan proyeksi pertumbuhan laba menjadi sejumlah faktor yang perlu diperhatikan sebelum mengambil keputusan investasi.
Dalam pembahasan pasar saham yang disampaikan Martha melalui program Market Minute, IHSG disebut tertinggal jauh dibandingkan sejumlah bursa global. Situasi tersebut memunculkan pertanyaan mengenai potensi pemulihan pasar saham Indonesia serta risiko penurunan yang masih mungkin berlanjut.
Penilaian terhadap IHSG tidak cukup hanya berdasarkan harga yang sudah turun. Investor juga perlu mempertimbangkan kinerja perusahaan, pergerakan modal asing, kondisi nilai tukar, serta prospek pertumbuhan laba pada tahun berikutnya.
Baca Juga: Review MSCI, Benix Bantah Isu Denda Emiten dan Ramal Saham Ini ke Rp1.200
IHSG Tertinggal dari Bursa Global, Ini Penyebabnya
Kinerja pasar saham Indonesia berbanding terbalik dengan sejumlah bursa internasional. Hingga September 2026, indeks Taiwan mencatatkan kenaikan 65 persen, sedangkan indeks Korea Selatan atau KOSPI meningkat 62 persen.
Di kawasan Asia Tenggara, indeks Thailand naik 23,8 persen dan Singapura menguat 22 persen. Sementara itu, indeks Nasdaq dan S&P 500 di Amerika Serikat masing-masing mencatatkan kenaikan 15 persen dan 11 persen.
India menjadi salah satu pasar yang memiliki kondisi serupa dengan Indonesia. Indeks saham negara tersebut mengalami penurunan sekitar 15 persen, seiring tekanan akibat keluarnya dana asing.
Salah satu faktor yang mendorong penguatan bursa Taiwan dan Korea Selatan adalah perkembangan teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Taiwan memiliki Taiwan Semiconductor Manufacturing Company (TSMC), sedangkan Korea Selatan mempunyai perusahaan teknologi seperti Samsung dan SK Hynix.
Perusahaan-perusahaan tersebut menjadi bagian dari industri semikonduktor yang mendapat perhatian investor global. Indonesia, menurut pembahasan tersebut, belum memiliki perusahaan semikonduktor berskala global yang sebanding dengan pemain utama di Taiwan dan Korea Selatan.
Selain faktor teknologi, pasar saham Indonesia juga menghadapi tekanan nilai tukar rupiah dan persoalan terkait MSCI.
Sepuluh Saham Beri Tekanan Besar terhadap IHSG
Penurunan IHSG sepanjang 2026 juga dipengaruhi oleh pelemahan sejumlah saham berkapitalisasi besar. Berdasarkan pemaparan dalam video, sepuluh saham dengan kontribusi penurunan terbesar memberikan tekanan sekitar 1.400 poin terhadap indeks.
Saham DSSA menjadi salah satu penyumbang penurunan terbesar, dengan kontribusi sekitar 263 poin atau 19 persen dari total tekanan sepuluh saham tersebut.
Sementara itu, saham-saham dalam grup PP, termasuk TPIA dan BRPT, secara keseluruhan disebut menyumbang penurunan 467 poin. Angka tersebut setara dengan sekitar 33 persen dari total kontribusi sepuluh saham yang dibahas.
Sektor perbankan juga memberikan tekanan signifikan. Saham BCA, BRI, dan Bank Mandiri secara gabungan menyumbang penurunan sekitar 362 poin atau 26 persen dari total tersebut.
Tekanan terhadap saham perbankan sejalan dengan besarnya arus jual bersih investor asing. Dalam pemaparan itu, net sell asing pada ketiga saham perbankan tersebut disebut melampaui Rp60 triliun, sementara total net sell asing mencapai sekitar Rp111 triliun.
Dampaknya tidak hanya terasa pada indeks utama. Sebelas indeks sektoral juga dilaporkan mengalami pelemahan.
Baca Juga: Review MSCI, Benix Bantah Isu Denda Emiten dan Ramal Saham Ini ke Rp1.200
Valuasi Murah Belum Menjadi Jaminan Pemulihan
Dari sisi valuasi, IHSG berada pada rasio harga terhadap laba atau price to earnings ratio (PER) sekitar 13,2 kali. Angka tersebut jauh di bawah median PER sepuluh tahun terakhir yang mencapai 19,1 kali dan disebut sebagai level terendah sejak 2011.
Di sisi lain, pertumbuhan laba perusahaan dalam indeks masih diperkirakan sekitar 9,6 persen per tahun. Untuk 2027, pertumbuhan laba IHSG diproyeksikan mencapai 13 persen.
Namun, proyeksi tersebut masih lebih rendah dibandingkan Taiwan yang diperkirakan mencatatkan pertumbuhan 31 persen dan Korea Selatan sebesar 36 persen. Perbedaan prospek ini menjadi salah satu pertimbangan investor ketika memilih pasar saham.
Strategi Investor Menghadapi IHSG di Bawah 6.000
Ada sejumlah indikator yang perlu diperhatikan sebelum investor meningkatkan kepemilikan saham. Pertama, arus dana asing perlu menunjukkan pemulihan. Meski tekanan jual asing dalam tiga hari terakhir disebut mulai berkurang, posisinya masih mencatatkan net sell.
Kedua, rupiah perlu bergerak lebih stabil agar tekanan terhadap investor asing berkurang. Ketiga, prospek pertumbuhan laba perusahaan perlu menunjukkan perbaikan yang berkelanjutan.
Untuk mengelola risiko, investor disarankan melakukan diversifikasi ke instrumen lain, seperti reksa dana pasar uang, reksa dana pendapatan tetap, atau obligasi. Pembelian saham secara bertahap juga dapat dipertimbangkan daripada menginvestasikan seluruh dana sekaligus hanya karena valuasi terlihat murah.
Investor pun perlu lebih selektif memilih saham dan mempertimbangkan realisasi keuntungan sesuai tujuan keuangan.
Dengan demikian, IHSG di bawah 6.000 bukan otomatis menjadi sinyal bahaya maupun kesempatan membeli seluruh saham yang sedang turun. Valuasi yang menarik perlu diikuti pemulihan sentimen, arus modal, dan prospek perusahaan sebelum peluang investasi dapat dinilai lebih meyakinkan.
Editor : Muhammad Rusdian Nuzula