JAKARTA - IHSG mengalami kejatuhan tajam pada sesi pertama perdagangan Jumat, 16 Oktober 2026. Indeks Harga Saham Gabungan merosot 630,77 poin atau 10,76 persen ke level 5.233. Tekanan jual meluas ke mayoritas saham di Bursa Efek Indonesia (BEI), dengan 30 saham menyentuh batas auto rejection bawah (ARB) dan indeks LQ45 ikut terkoreksi sekitar 12 persen.
Berdasarkan data perdagangan, IHSG bergerak di rentang 5.193 hingga 5.404 sebelum berada di level 5.233 pada sesi pertama. Penurunan tersebut menunjukkan tekanan besar yang terjadi di pasar saham Indonesia, terutama karena jumlah saham yang melemah jauh lebih banyak dibandingkan saham yang menguat.
Sejumlah saham yang masuk dalam daftar penurunan harga terdalam atau top losers antara lain AKRA, SSIA, FORU, dan CBDK. Beberapa saham lainnya juga mencatatkan koreksi mendekati 15 persen dalam sesi perdagangan yang sama.
Baca Juga: Review MSCI Jadi Sorotan, IHSG Anjlok 2,59 Persen dan Bobot Indonesia Disorot
Mayoritas Saham BEI Berada di Zona Merah
Data BEI mencatat sebanyak 771 saham mengalami penurunan harga pada sesi pertama perdagangan. Sementara itu, hanya 14 saham yang berhasil menguat dan tiga saham lainnya tidak mengalami perubahan harga.
Dominasi saham yang melemah memperlihatkan bahwa tekanan pasar terjadi secara luas, bukan hanya pada segelintir emiten. Kondisi ini turut membebani IHSG yang mencerminkan pergerakan harga saham di pasar modal Indonesia.
Aktivitas transaksi juga tercatat tinggi. Sebanyak 38,67 miliar lembar saham berpindah tangan dengan nilai transaksi mencapai Rp17,83 triliun. Frekuensi perdagangan mencapai 1.354.139 kali transaksi sepanjang sesi pertama.
Besarnya aktivitas perdagangan tersebut berlangsung di tengah penurunan indeks yang tajam. Meski demikian, angka volume dan nilai transaksi belum cukup untuk memastikan apakah tekanan terutama berasal dari investor domestik, investor asing, atau kombinasi keduanya.
Indeks saham unggulan LQ45 juga tidak luput dari koreksi. Indeks tersebut turun sekitar 12 persen, menunjukkan bahwa saham-saham berkapitalisasi besar yang menjadi bagian dari indeks tersebut turut menghadapi tekanan.
AKRA, SSIA, FORU, dan CBDK Masuk Top Losers
Sebanyak 30 saham dilaporkan menyentuh batas ARB dan masuk daftar saham dengan penurunan harga terdalam. AKRA, SSIA, FORU, dan CBDK termasuk di antara saham yang disebut mengalami tekanan jual.
Penurunan sejumlah saham hingga mendekati 15 persen terjadi bersamaan dengan anjloknya IHSG. Situasi ini memperlihatkan kuatnya tekanan terhadap harga saham selama sesi pertama, meskipun tingkat penurunan setiap emiten dapat berbeda.
ARB atau auto rejection bawah merupakan mekanisme BEI untuk membatasi penurunan harga saham dalam satu hari perdagangan sesuai ketentuan yang berlaku. Ketika harga saham mencapai batas tersebut, penurunan lebih lanjut dibatasi berdasarkan aturan bursa.
Mekanisme ini tidak berarti saham yang terkena ARB langsung pulih atau terbebas dari risiko. Sebaliknya, kondisi tersebut menunjukkan bahwa harga telah mencapai ambang penurunan harian yang ditetapkan.
Karena itu, investor perlu mencermati pergerakan harga dan informasi masing-masing emiten, bukan hanya melihat persentase penurunannya. Saham yang sama-sama melemah dapat memiliki kondisi bisnis dan fundamental yang berbeda.
Baca Juga: Review MSCI Jadi Sorotan, IHSG Anjlok 2,59 Persen dan Bobot Indonesia Disorot
Arah Pasar Berikutnya Masih Perlu Dicermati
Koreksi IHSG sebesar 10,76 persen, penurunan LQ45 sekitar 12 persen, serta dominasi 771 saham yang melemah menjadi gambaran tekanan pasar pada sesi pertama perdagangan Jumat tersebut.
Namun, data perdagangan yang tersedia belum menjelaskan penyebab utama kejatuhan indeks secara menyeluruh. Informasi itu juga belum dapat memastikan apakah tekanan jual akan berlanjut pada sesi berikutnya atau kapan IHSG berpotensi pulih.
Investor sebaiknya tidak menjadikan penurunan tajam sebagai satu-satunya dasar dalam mengambil keputusan. Perkembangan harga, keterbukaan informasi perusahaan, dan kondisi fundamental emiten tetap perlu diperhatikan sebelum melakukan transaksi.
Pergerakan perdagangan selanjutnya akan menjadi salah satu hal penting untuk dicermati guna melihat perkembangan tekanan di pasar saham Indonesia.
Editor : Muhammad Rusdian Nuzula