IHSG di Bawah 6.000, Valuasi Termurah Sejak 2011 tapi Investor Asing Belum Kembali

Muhammad Rusdian Nuzula • Dipublikasikan Jumat, 16 Oktober 2026 | 18:45 WIB
IHSG di bawah 6.000 dengan valuasi terendah sejak 2011. Simak penyebab penurunan dan strategi investor. (PINTEREST)
IHSG di bawah 6.000 dengan valuasi terendah sejak 2011. Simak penyebab penurunan dan strategi investor. (PINTEREST)

JAKARTA - IHSG di bawah 6.000 menjadi perhatian pelaku pasar setelah indeks saham Indonesia mengalami penurunan lebih dari 30 persen sepanjang 2026. Kondisi ini membuat valuasi saham domestik terlihat semakin murah dibandingkan rata-rata historis. Namun, investor masih perlu berhati-hati karena tekanan jual asing, pelemahan rupiah, dan pertumbuhan laba yang tertinggal dari sejumlah negara lain berpotensi menghambat pemulihan pasar saham.

Dalam pembahasan Market Minute bersama Martha, penurunan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dinilai tidak bisa dilepaskan dari kombinasi faktor domestik dan global. Meski harga saham sudah terkoreksi dalam, kondisi tersebut belum cukup untuk memastikan bahwa pasar telah mencapai titik terendah.

Investor perlu memperhatikan sejumlah indikator sebelum memutuskan menambah investasi. Pemulihan aliran dana asing, stabilitas nilai tukar, dan prospek laba perusahaan menjadi faktor penting untuk menilai apakah pelemahan IHSG mulai membuka peluang pembelian.

Baca Juga: Review MSCI Memanas, Benix Ungkap Alasan Saham Bron Bisa Anjlok ke Rp1.200

Kinerja IHSG Tertinggal Jauh dari Bursa Global

Sepanjang 2026, pasar saham Indonesia mencatatkan kinerja yang jauh tertinggal dibandingkan sejumlah bursa internasional. Hingga September, indeks Taiwan dilaporkan meningkat 65 persen, sedangkan indeks Korea Selatan atau KOSPI melonjak 62 persen.

Kinerja positif juga terlihat di kawasan Asia Tenggara. Indeks Thailand naik 23,8 persen dan Singapura menguat 22 persen. Di Amerika Serikat, Nasdaq dan S&P 500 masing-masing mencatatkan kenaikan 15 persen dan 11 persen.

India menjadi salah satu pasar yang mengalami tekanan serupa dengan Indonesia. Indeks saham negara tersebut turun sekitar 15 persen, seiring keluarnya dana asing.

Salah satu faktor yang mendorong penguatan Taiwan dan Korea Selatan adalah perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Taiwan memiliki Taiwan Semiconductor Manufacturing Company (TSMC), sedangkan Korea Selatan mempunyai Samsung dan SK Hynix yang bergerak dalam industri teknologi dan semikonduktor.

Perkembangan AI membuat industri tersebut menjadi perhatian investor global dan mendorong aliran modal ke perusahaan terkait. Indonesia dinilai belum memiliki perusahaan semikonduktor berskala global yang sebanding dengan pemain utama di kedua negara tersebut.

Di dalam negeri, tekanan juga berasal dari pelemahan rupiah dan persoalan terkait MSCI yang memengaruhi perhatian investor terhadap pasar modal Indonesia.

Saham DSSA hingga Perbankan Menekan IHSG

Penurunan IHSG sepanjang 2026 turut dipengaruhi oleh sejumlah saham yang memberikan kontribusi besar terhadap pelemahan indeks. Dalam pemaparan tersebut, sepuluh saham dengan tekanan terbesar disebut menyumbang penurunan sekitar 1.400 poin.

Saham DSSA menjadi salah satu kontributor utama dengan sumbangan penurunan sekitar 263 poin, setara 19 persen dari total tekanan sepuluh saham tersebut.

Sementara itu, kelompok saham yang disebut sebagai grup PP, termasuk TPIA dan BRPT, secara keseluruhan menyumbang penurunan 467 poin. Kontribusi itu mencapai sekitar 33 persen dari total penurunan yang berasal dari sepuluh saham tersebut.

Sektor perbankan juga memberikan tekanan cukup besar. Saham BCA, BRI, dan Bank Mandiri secara gabungan menyumbang penurunan sekitar 362 poin atau 26 persen dari total kontribusi sepuluh saham.

Tekanan terhadap ketiga saham perbankan tersebut sejalan dengan besarnya penjualan bersih investor asing. Nilai net sell asing pada ketiga saham itu disebut telah melampaui Rp60 triliun, sedangkan total net sell asing di pasar mencapai sekitar Rp111 triliun.

Pelemahan tidak hanya terjadi pada indeks utama. Sebelas indeks sektoral juga dilaporkan mengalami penurunan, memperlihatkan luasnya tekanan di pasar saham domestik.

Baca Juga: Review MSCI Memanas, Benix Ungkap Alasan Saham Bron Bisa Anjlok ke Rp1.200

Valuasi Murah Belum Cukup untuk Menarik Investor

Dari sisi valuasi, PER IHSG berada di sekitar 13,2 kali. Angka tersebut lebih rendah dibandingkan median sepuluh tahun terakhir sebesar 19,1 kali dan disebut sebagai level terendah sejak 2011.

Sementara itu, pertumbuhan laba perusahaan dalam IHSG masih diperkirakan sekitar 9,6 persen per tahun. Untuk 2027, pertumbuhan laba indeks diproyeksikan mencapai 13 persen.

Angka tersebut masih di bawah proyeksi Taiwan sebesar 31 persen dan Korea Selatan sebesar 36 persen. Perbedaan prospek pertumbuhan ini menjadi salah satu pertimbangan investor global dalam menentukan tujuan investasi.

Dengan demikian, valuasi murah belum tentu langsung diikuti masuknya modal asing. Investor tetap mempertimbangkan potensi keuntungan, risiko nilai tukar, dan kepastian pertumbuhan laba perusahaan.

Strategi Menghadapi Risiko Penurunan IHSG

Ada tiga indikator yang perlu dicermati sebelum investor meningkatkan eksposur terhadap saham Indonesia. Pertama, aliran dana asing perlu menunjukkan perubahan dari tekanan jual menuju pembelian bersih. Meski net sell asing disebut mulai berkurang dalam tiga hari terakhir, arus modal tersebut masih berada di zona negatif.

Kedua, stabilitas rupiah perlu membaik karena pergerakan mata uang memengaruhi hasil investasi investor asing. Ketiga, prospek pertumbuhan laba perusahaan perlu menunjukkan perbaikan yang lebih meyakinkan.

Investor juga disarankan melakukan diversifikasi melalui instrumen seperti reksa dana pasar uang, reksa dana pendapatan tetap, atau obligasi sesuai profil risiko masing-masing. Untuk saham, pembelian bertahap dapat menjadi pilihan dibandingkan menggunakan seluruh dana sekaligus.

Selain itu, pemilihan saham perlu dilakukan secara selektif. Investor yang telah memperoleh keuntungan dapat mempertimbangkan realisasi laba berdasarkan tujuan keuangan dan strategi investasinya.

Pada akhirnya, IHSG di bawah 6.000 bukan alasan untuk langsung panik ataupun membeli semua saham yang terkoreksi. Valuasi yang rendah dapat menjadi awal peluang, tetapi pemulihan sentimen, arus dana asing, nilai tukar, dan kinerja perusahaan tetap perlu diperhatikan sebelum mengambil keputusan investasi.

Editor : Muhammad Rusdian Nuzula
nilai tukar rupiah Saham Indonesia saham DSSA IHSG investor asing