JAKARTA - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami tekanan tajam hingga turun 10,14 persen ke level 5.271 setelah perdagangan sempat dihentikan sementara atau mengalami trading halt. Pelemahan pasar saham Indonesia ini terjadi di tengah sorotan Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang mengusulkan penurunan klasifikasi pasar Indonesia dari emerging market menjadi standalone market. Usulan tersebut memicu perhatian pelaku pasar karena berpotensi memengaruhi posisi saham Indonesia dalam indeks global MSCI.
Berdasarkan pantauan yang disampaikan Kompas TV, IHSG sempat dibuka pada level 5.393, dengan level tertinggi 5.404 dan terendah 5.193. Setelah perdagangan kembali dibuka, indeks berada di posisi 5.271. Pergerakan tersebut menggambarkan tekanan besar yang melanda pasar saham domestik.
Data RTI Business yang dikutip dalam laporan itu menunjukkan hanya 13 saham bergerak menguat. Sebanyak 733 saham melemah, sementara 21 emiten tidak mengalami perubahan harga. Dominasi saham yang berada di zona merah memperlihatkan bahwa koreksi berlangsung secara luas, bukan hanya pada sejumlah saham tertentu.
Baca Juga: Review MSCI Indonesia Berlanjut, IHSG Dibayangi Ketidakpastian hingga 2027
IHSG Tertekan, Ratusan Saham Berada di Zona Merah
Penurunan IHSG hingga dua digit menjadi perhatian karena mencerminkan besarnya tekanan jual pada perdagangan saat itu. Dalam laporan tersebut, indeks disebut sempat mengalami penurunan hingga 14,76 persen ketika melihat pergerakan selama lima hari terakhir. Sementara itu, penurunan pada perdagangan yang sedang dipantau berada di kisaran 10–11 persen.
Perdagangan juga sempat dihentikan sementara melalui mekanisme trading halt, sebelum akhirnya dibuka kembali. Mekanisme ini berkaitan dengan kondisi penurunan pasar yang tajam dan bertujuan memberikan jeda ketika tekanan mencapai ambang yang ditentukan oleh ketentuan bursa.
Meski IHSG kembali diperdagangkan, data yang ditampilkan menunjukkan tekanan belum mereda sepenuhnya. Jumlah saham yang melemah jauh melampaui saham yang menguat, sehingga sentimen negatif terlihat menyebar ke berbagai emiten.
Namun, angka pergerakan indeks dan jumlah saham yang turun tidak dengan sendirinya menjelaskan seluruh penyebab koreksi. Laporan Kompas TV menyoroti perkembangan terkait MSCI sebagai salah satu faktor yang dikaitkan dengan tekanan pasar.
Usulan MSCI Jadi Sorotan Pasar Saham Indonesia
MSCI merupakan penyedia indeks global yang mengelompokkan pasar saham berdasarkan klasifikasi tertentu. Dalam laporan tersebut, kategori yang dijelaskan meliputi developed market, emerging market, dan frontier market. Indonesia selama ini berada dalam kelompok emerging market.
Adapun standalone market merupakan klasifikasi terpisah di luar tiga kelompok utama yang disebutkan dalam laporan. Jika usulan penurunan klasifikasi Indonesia menjadi standalone market diterapkan, pasar saham Indonesia akan keluar dari indeks MSCI emerging market.
Perubahan klasifikasi tersebut menjadi perhatian karena indeks MSCI digunakan sebagai acuan oleh sejumlah investor global dalam menyusun portofolio. Perubahan posisi suatu negara dalam indeks dapat memengaruhi pertimbangan investasi lembaga yang menggunakan indeks tersebut sebagai referensi.
Meski demikian, laporan yang menjadi dasar artikel ini membahas usulan penurunan klasifikasi, bukan keputusan final yang telah ditetapkan. Karena itu, status Indonesia tidak dapat disebut sudah resmi berubah menjadi standalone market hanya berdasarkan informasi tersebut.
Baca Juga: Review MSCI Indonesia Berlanjut, IHSG Dibayangi Ketidakpastian hingga 2027
Transparansi Pasar Menjadi Perhatian MSCI
Sorotan MSCI terhadap Indonesia disebut tidak hanya berkaitan dengan free float atau jumlah saham yang tersedia untuk diperdagangkan publik. Dalam laporan Kompas TV, persoalan transparansi juga disebut sebagai salah satu perhatian yang sebelumnya telah disampaikan.
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bursa Efek Indonesia (BEI) dikabarkan terus melakukan reformasi serta perubahan. Komunikasi dan koordinasi juga masih berlangsung untuk menanggapi berbagai persoalan yang menjadi perhatian MSCI.
Perbaikan transparansi dan kualitas pasar menjadi penting dalam menjaga kepercayaan investor. Namun, laporan tersebut belum merinci seluruh poin evaluasi MSCI maupun hasil akhir dari proses koordinasi yang sedang berjalan.
Dengan demikian, arah pemulihan IHSG masih perlu dicermati bersama perkembangan kebijakan dan evaluasi MSCI. Investor perlu membedakan antara usulan perubahan klasifikasi dan keputusan final, sembari mengikuti informasi resmi dari otoritas pasar modal.
Editor : Muhammad Rusdian Nuzula