Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Dari Warnet ke Sound System: Transformasi Bisnis Mas Bre, Pendiri Brewog Audio Blitar

Dimas Galih Nur Hendra Saputra • Sabtu, 12 Juli 2025 | 00:00 WIB

Sound Horeg Audio Blitar
Sound Horeg Audio Blitar

Blitar, jawatimur — Nama Mas Bre mungkin sudah tidak asing lagi di kalangan pecinta sound horeg di Jawa Timur, khususnya wilayah Blitar, Tulungagung, dan Malang.

Lewat bendera Brewog Audio, Mas Bre berhasil mencuri perhatian publik lewat dentuman subwoofer-nya yang legendaris di arena karnaval.

Namun, siapa sangka, pria yang kini dikenal sebagai “artis sound horeg” itu dulunya bukan siapa-siapa—hanya pemuda biasa yang menjual komputer bekas dan membuka warnet kecil di kampung.

Baca Juga: Jejak Freemason di Perkebunan Karanganyar Blitar: Misteri Simbol dan Nama-Nama dari Masa Kolonial

Kisah transformasi Mas Bre dari penjaja CPU ke penggagas Brewog Audio layak disimak, karena menyimpan banyak pelajaran tentang ketekunan, adaptasi zaman, dan keberanian mengambil risiko.

Era Aldonet: Warnet Lokal yang Jadi Primadona

Awal 2000-an, ketika era internet baru mulai masuk desa, Mas Bre—yang bernama asli Mujahidin—melihat peluang besar di dunia digital.

Bermodal pengetahuan dari bangku SMK Elektronika di Blitar, ia mulai berjualan komputer bekas. Tak puas hanya menjadi reseller, ia nekat membuka usaha warnet yang ia beri nama Aldonet.

Baca Juga: Sejarah Rumah Loji dan Misteri di Baliknya: Menelusuri Jejak Spiritual di Blitar

Warnet tersebut berdiri di kawasan Poluan, Udanawu, Blitar. “Dulu Aldonet sempat jadi tempat nongkrong anak-anak sekolah. Game Point Blank masih booming. Kita jualan paket 3 ribu untuk 3 jam, sudah sama kopi saset,” kenangnya sambil tertawa.

Brewog muda ini tak hanya jadi operator billing warnet, tapi juga teknisi sekaligus pemilik. Aldonet berjalan selama hampir empat tahun, dari 2010 hingga sekitar 2014.

Namun, perubahan zaman tak bisa ditolak. Smartphone dan internet seluler mulai menggerus bisnis warnet tradisional.

Jatuh Bangun: Dari Ditutupnya Warnet ke Dunia Trading

Tak ingin menyerah begitu saja, Mas Bre mencoba peruntungan lain: trading dan bisnis online. Namun, seperti banyak pemula lainnya, ia harus mengalami kerugian.

Baca Juga: Jejak Bung Karno, Theosofi, dan Larangan Freemason: Ketegangan Ideologis Sang Proklamator

“Namanya juga coba-coba. Dulu saya main semacam saham-saham. Gagal. Malah sempat nganggur, hidup dari sisa-sisa penjualan alat warnet,” ujarnya.

Kegagalan itu bukan kali pertama. Bahkan pada tahun 2008, Mas Bre sempat mengalami masa kelam ketika “diamankan” aparat karena urusan yang tak banyak ia ceritakan. Dua tahun hidup dalam tekanan, justru menjadi titik baliknya untuk bangkit.

“Hikmahnya besar. Dari sana saya jadi lebih mikir masa depan dan nggak mau hidup asal-asalan,” kata Mas Bre.

Baca Juga: Dari Freemason ke Kopi Arabika Blitar: Transformasi Mistis Jadi Destinasi Edukasi dan Wisata

Terpikat Karnaval: Lahirnya Brewog Audio dan Dunia Sound Horeg

Titik terang mulai muncul saat Mas Bre menyaksikan karnaval-karnaval lokal di Malang dan Blitar.

Ia bukan hanya menikmati pawai, tapi memperhatikan detail teknis: posisi speaker, susunan subwoofer, hingga respons massa terhadap dentuman suara.

“Dari situ saya sadar, bahwa ada peluang besar di dunia sound system untuk karnaval, atau yang orang-orang sekarang sebut sound horeg,” ujar Mas Bre. Ia kemudian mulai mengumpulkan modal dari menjual sisa-sisa aset lamanya.

Tanpa pelatihan formal, ia mulai membeli satu per satu komponen: speaker, box, kabel, amplifier, hingga rangka truk modifikasi. Semua ia rakit sendiri di rumahnya.

Baca Juga: Makam W. Smith dan Simbol Latin Misterius: Jejak Tersembunyi di Perkebunan Karanganyar Blitar

Beberapa kali gagal, speakernya gosong, bahkan sempat bikin genteng rumah tetangga rontok karena getaran subwoofer. Tapi dari situ, justru ia banyak belajar.

“Awal-awal ya ngawur, penting kenceng. Tapi lama-lama mulai paham soal frekuensi, clarity, gain, dan sebagainya,” ujarnya.

Branding Lokal: Sound Horeg, Brewog Audio, dan Cinta Blitar

Nama Brewog Audio lahir dari karakter fisiknya sendiri yang berjenggot lebat. Nama itu melekat di masyarakat, terutama anak-anak muda pecinta musik keras dan visual karnaval. “Brewog itu ya saya. Sekalian branding. Biar gampang diingat,” katanya.

Baca Juga: WC Bukan Warkop: Bahaya Duduk Lama Sambil Ngerokok dan Main Game

Tahun 2018 jadi tonggak sejarah. Tanggapan pertamanya di desa sendiri hanya bawa 8 sub, tapi efeknya luar biasa.

Beberapa bulan kemudian, ia tampil di Ringinanom dengan 12 sub dan mulai dikenal. Tahun 2019, job mulai mengalir dari Malang dan daerah lainnya.

Kini, Brewog Audio telah memiliki lebih dari 24 sub, puluhan line array, kru tetap, hingga kendaraan logistik khusus. Job bisa datang dari berbagai daerah, bahkan hingga Jawa Tengah.

Namun, ia tetap menolak tanggapan untuk acara dangdutan atau hajatan kecil. Fokusnya tetap di jalur karnaval horek.

Baca Juga: Bau Badan Bukan Kutukan Genetik, Tapi Gaya Hidup Kemproh

“Karena saya ngerti karakter pasar saya. Bukan sekadar keras-kerasan suara, tapi juga strategi marketing. Saya jual ‘pengalaman’ dan ‘emosi massa’, bukan sekadar speaker,” jelasnya.

Penutup: Dari Desa untuk Desa, Ekonomi Berputar

Kisah Mas Bre dan Brewog Audio membuktikan bahwa transformasi bisnis bisa lahir dari ketekunan membaca zaman.

Dari era warnet ke sound system, dari ditolak hingga ditanggap, dari speaker gosong hingga panggung megah—semua butuh proses dan semangat untuk terus belajar.

“Yang penting ekonomi berputar. Saya senang teman-teman juga senang. Masyarakat juga terhibur. Itu saja,” tutup Mas Bre dengan senyum.

Editor : Anggi Septian A.P.
#sound #audio #blitar #bisnis #transformasi #pendiri #system #Mas Brewok