Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Dualisme Arema Kembali Disorot, Ini Akar Masalah Dualisme Arema Versi Samsinyo yang Bikin Aremania Terpecah

Axsha Zazhika • Kamis, 19 Februari 2026 | 18:40 WIB

Dualisme Arema Kembali Disorot, Ini Akar Masalah Dualisme Arema Versi Samsinyo yang Bikin Aremania Terpecah
Dualisme Arema Kembali Disorot, Ini Akar Masalah Dualisme Arema Versi Samsinyo yang Bikin Aremania Terpecah
 

BLITAR - dualisme Arema kembali menjadi sorotan publik setelah perbincangan panjang di kanal YouTube ASK TV menghadirkan tokoh Aremania dari MMGA, Samsinyo. Dalam dialog tersebut, akar masalah dualisme Arema dikupas secara runtut, mulai dari sejarah perpindahan liga hingga polemik legalitas yayasan yang hingga kini belum menemukan titik temu.

Di awal diskusi, Samsinyo menegaskan bahwa dualisme Arema bukan sekadar konflik biasa, melainkan persoalan struktural yang berdampak panjang terhadap soliditas Aremania. Bahkan menurutnya, dualisme Arema menjadi penyebab utama menurunnya jumlah penonton dan antusiasme suporter dalam beberapa tahun terakhir.

“Dulu 2010, okupansi penonton Arema bisa tembus ratusan ribu dalam satu musim. Sekarang trennya menurun drastis,” ujar Samsinyo dalam perbincangan tersebut.

Baca Juga: Viral Kabar Rapel dan Kenaikan Pensiun 2026, TASPEN Kediri Tegaskan Belum Ada Keputusan Pemerintah

Awal Mula Dualisme Arema

Menurut penjelasannya, akar dualisme Arema bermula pada periode 2010–2011. Saat itu Arema Indonesia sukses menjuarai ISL 2009/2010 dan menjadi runner-up musim berikutnya di era pelatih Miroslav Janu.

Namun, konflik liga nasional yang memunculkan Indonesian Premier League (IPL) menjadi titik awal perpecahan. Arema Indonesia saat itu memilih pindah ke IPL yang telah diakui sebagai liga resmi PSSI.

“Arema yang pindah ke IPL itu secara klub dan legalitas yayasan masih sah. Ketua yayasannya M. Nur dan masih diakui Kemenkumham,” tegasnya.

Persoalan muncul ketika di saat bersamaan, muncul Arema versi ISL yang kemudian dikelola oleh Rendra Kresna. Sejak titik inilah dualisme Arema resmi terjadi.

Yayasan dan Legalitas Jadi Titik Krusial

Dalam dialog tersebut, pembahasan mengerucut pada aspek legalitas yayasan. Samsinyo menyebut, perpecahan terjadi antara pengurus yayasan, khususnya antara ketua dan bendahara, yang kemudian berujung pada munculnya dua kubu.

Ia juga menyinggung munculnya akta-akta baru yang berhenti di tingkat notaris tanpa pengesahan final di Kemenkumham. Menurutnya, inilah yang memperkeruh dualisme Arema hingga sekarang.

Baca Juga: Hasil BRI Super League 2026: Persija Jakarta Bungkam Bali United, Arema FC Pesta Gol di Kanjuruhan

“Kalau mau menyelesaikan dualisme Arema, harus jujur melihat legalitas. Bukan fanatik pada figur,” ujarnya.

Ia mengingatkan bahwa konflik berkepanjangan ini berdampak pada generasi muda Aremania yang kehilangan edukasi dan identitas bersama. Polarisasi suporter semakin tajam, bahkan muncul istilah “berkubu-kubu” di internal Aremania sendiri.

Dampak Dualisme: Citra dan Soliditas Menurun

Tak hanya soal hukum, dualisme Arema juga berdampak pada citra klub di mata nasional. Samsinyo mengakui, rival suporter kerap menjadikan konflik internal Arema sebagai bahan sindiran.

Menurutnya, kondisi ini membuat brand image Arema merosot. Jika dahulu Arema dikenal sebagai simbol persatuan dan kebanggaan Malang, kini justru identik dengan konflik internal.

“Elek nang njero, suwe-suwe elek nang njobo,” katanya menggambarkan dampak konflik internal terhadap citra eksternal klub.

Selain itu, tragedi Kanjuruhan juga disebut sebagai faktor yang memperdalam luka Aremania. Namun ia menegaskan, tragedi tersebut bukan akar dualisme, melainkan memperparah situasi yang sudah rapuh sebelumnya.

Baca Juga: Persib Bandung Naikkan Derajat Liga Indonesia di Asia, Marc Klok Pulih dari Doha, hingga Misteri Kompensasi Robert Alberts

Ajakan Objektif dan Tidak Fanatik

Samsinyo menekankan pentingnya bersikap objektif terhadap subjek dan objek persoalan. Ia mengkritik budaya fanatik buta yang membela figur tanpa melihat aspek legal dan historis secara utuh.

“Yang dibenahi itu objeknya, Aremanya. Bukan terus terjebak permusuhan antar figur,” tegasnya.

Ia juga mendorong agar penyelesaian dualisme Arema mengacu pada yayasan yang sah menurut negara, bukan sekadar klaim atau loyalitas personal.

Menurutnya, selama Aremania masih terjebak pada konflik personal dan simbol seperti logo, maka sulit mencapai rekonsiliasi.

Baca Juga: Jadwal BRI Super League Pekan ke-22: Persib Bandung Nyaman di Puncak, Bomber Persija Maxwell Souza Makin Gacor

Harapan Rekonsiliasi

Di akhir dialog, Samsinyo berharap seluruh elemen Aremania, baik dari kubu FC maupun AI, bisa menurunkan ego dan membuka ruang diskusi yang lebih jernih.

Ia menegaskan bahwa kritik terhadap kebijakan bukan berarti membenci figur tertentu. Justru, kritik diperlukan agar konflik tidak diwariskan ke generasi berikutnya.

“Kalau mau bersatu, harus berani jujur pada sejarah dan hukum,” pungkasnya.

Dualisme Arema hingga kini memang belum menemukan solusi final. Namun diskusi terbuka seperti ini dinilai menjadi langkah awal untuk membangun kembali kesadaran bersama bahwa Arema lebih besar dari konflik personal.

Editor : Axsha Zazhika
#dualisme arema #Yayasan Arema #liga indonesia #aremania #Arema FC