BLITAR - Di tengah hiruk pikuk Kota Blitar yang kian modern, aroma manis dan segar keluar dari sebuah gerobak sederhana. Di balik gerobak itu, Pairin (68) seorang penjual es pleret khas Blitar dengan cekatan meracik es pleret, minuman tradisional yang telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kota Blitar. Ia berasal dari Dusun Banjarrejo Desa Bangsri ini telah berjualan sejak tahun 2002.
Es Pleret yang ia jual memiliki rasa tersendiri, dengan resep dan bumbu rahasia yang ia punya, menjadikan es pleretnya banyak disukai oleh pelanggannya. Pandan ayu menjadi bagian dari racikan es pleret yang ia buat. selain itu ada santan dan juruh menjadi bagian pelengkap dari manisnya es pleret satu ini.
Biasanya ia berjualan mulai dari pukul 10 pagi sampai jam 2 siang tergantung esnya sudah sudah laku semua. di berjualan secara berkeliling di pasar-pasar dan mangkal di depan perpustakaan makam Bung Karno. Dulunya iia menjual es pleret hanya dengan harga Rp.3000-an saja . akan tetapi ada wisatan asal Bojonegoro memberikan saran agar ia menaikan harga es pleretnya menjadi Rp.5000 karena menjualnya di tempat pariwisata.
Baca Juga: Rumah Makan di Kota Blitar Ini Punya Cara Unik Semarakkan Imlek, Sajikan Kuliner Khas Lombok
“ Pak, Kamu kalo jualan jangan terlalu murah, ditempat wisata biasanya 5000an” pungkas penjual es pleret tersebut.
Sebelum menjadi penjual es Pleret. Pairin hanyalah seorang pekerja buruh. Saat wawancara bersama Pairin, ia menceritakan awal mula terinspirasi berjualan es pleret khas blitar ini.
“Tahun 2002 mas, Awalnya saya itu mampir di sebelah pasar dimoro, disitu ada penjual es pleret saya coba beli. dan terus saya mencoba untuk membuatnya sendiri di rumah.”
Di Usia Tuanya, Ia hidup sendiri setelah ditinggal oleh anak dan istrinya. Walaupun begitu, Pairin tetap bersemangat untuk berjualan es pleret. dengan es pleret racikan ia sendiri ia mampu menjual sekitar 50-60 gelas per harinya. dengan omset sekitar 225 per harinya.Baca Juga: Komunitas Unik di Kota Blitar: Hubungkan Kuliner, Seni, dan Kreativitas Anak Muda
“Saya dirumah engga ada yang bantu, biasanya kalo laku semua dapat 250 ribu itu kotornya. kalau bersihnya 125 ribu. 100 ribu-nya modal buat beli bahan es Pleret.
Suka dan duka dalam berjualan es dawet telah ia lalui selama 23 tahun. ia pernah mengalami hal yang tidak terduga. Saat berjualan es pleret ia pernah kemalingan Handphone kesayangannya. “waktu saya belanja gelas plastik, saya taruh hp di etalase gerobak. setelah saya tinggal sebentar. hp saya dicuri oleh orang yang mau membeli es pleret saya. (*)
Editor : M. Subchan Abdullah