Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Mengenal Pendiri Komunitas Blitz Popstar, Sosok yang Bikin Perkumpulan Penyuka Drakor dari Blitar

Fajar Rahmad Ali Wardana • Senin, 17 Februari 2025 | 04:00 WIB
MANDIRI: Laura Margareta semakin asyik dengan komunitas K-Pop nya.
MANDIRI: Laura Margareta semakin asyik dengan komunitas K-Pop nya.

 

BLITAR - Terkadang background pendidikan seseorang tak mesti seiring dengan hobi yang dimiliki. Seperti Laura Margareta, seorang calon ahli gizi. Dara ayu asal Kelurahan Gedog, Kecamatan Sananwetan, ini ternyata memiliki hobi menari. Sejak kecil, dia sudah mengenal tari tradisional, lalu menginjak remaja mendalami tarian K-pop dan menekuninya hingga membuat komunitas.

Meskipun tak sejalan dengan cita-citanya, ternyata kemampuan menari K-pop telah diasahnya ketika mengikuti ekstrakulikuler menari di SMAN 4 Blitar. Selain itu, dia juga mengikuti lomba-lomba dance khas Korea Selatan. Kini, di usia 20 tahun, dia tak hanya menjadi penari K-pop, tetapi juga pelatih sekaligus pendiri komunitas tari K-pop di Blitar yang bernama Blitz Popstar.

"Waktu kuliah, saya malah jadi pelatih di UKM tari kampus. Karena awalnya teman-teman sendiri yang ikut, jadi saya ajarin mereka. Dari situ, saya berpikir untuk membentuk komunitas di Blitar," ujar Laura.

Blitz Popstar ini baru berdiri sejak Februari. Meski masih terbilang baru, komunitas ini telah memiliki beberapa anggota yang aktif dalam latihan rutin setiap Sabtu. Bahkan dalam waktu dekat ini, komunitas tersebut akan mengadakan berbagai acara mulai kompetisi dance, fashion idol, dan noraebang party yang mirip dengan konser mini khas Korea.

Meski kini lebih fokus pada tari K-pop, Laura mengaku bahwa latar belakangnya di tari tradisional sangat membantunya dalam mempelajari gerakan tari modern. Menurutnya, lebih mudah belajar tari tradisional dulu, setelah itu baru ke K-pop dance.

“Soalnya dari situ saya bisa belajar keluwesan dulu. Kalau langsung ke modern dance, biasanya badan sudah kaku. Saya belajar K-pop secara otodidak dari YouTube, sanggar tari ketika SMA, hingga ikut dance class di Surabaya," jelasnya.

Perjalanannya sebagai penari tidak selalu mulus. Dia menghadapi berbagai tantangan, termasuk kondisi kesehatan. Apalagi, gadis 20 tahun ini mengidap penyakit bawaan vertigo dan asam lambung yang kadang kambuh. Selain itu, sebagai mahasiswa, dia juga harus pintar-pintar membagi waktu antara kuliah dan komunitas.

Namun, tantangan tersebut tidak menghentikannya untuk tetap aktif.  Bahkan, dia bisa menjalankan beberapa usaha sampingan seperti menjual aksesori manik-manik, membuat buket, serta menyediakan jasa make-up. 

Mahasiswa semester empat jurusan gizi di Institut Kesehatan dan Bisnis (IKB) Surabaya ini memiliki impian besar untuk dunia tari di Blitar. Selain ingin menjadi ahli gizi sesuai dengan jurusannya, dia juga bercita-cita mendirikan studio tari sendiri di Bumi Bung Karno.

"Saya ingin melihat dulu potensinya di Blitar. Kalau komunitasnya sudah berkembang, nantinya akan lebih mudah untuk mendirikan tempat latihan yang lebih profesional," ungkap gadis ramah ini.

Meski sibuk membagi waktu antara kuliah, bisnis, dan komunitas, Laura tetap optimistis bahwa mimpinya akan terwujud. Dengan kegigihannya, bukan tidak mungkin Blitz Popstar kelak menjadi komunitas tari yang diperhitungkan di Blitar dan sekitarnya. Dengan semangatnya yang tinggi, Laura berharap komunitas Blitz Popstar dapat menjadi wadah bagi anak muda Blitar yang ingin menyalurkan bakat mereka di dunia tari, khususnya K-pop dance.

 "Saya ingin menciptakan ruang bagi mereka yang punya passion di bidang ini supaya bisa berkembang bersama. Apalagi jarang sekali komunitas dance K-pop, maka dari itu saya membuat wadah ini," pungkasnya. (jar/c1/ady)

 

Editor : M. Subchan Abdullah
#blitar #drakor #k pop #tari #korea selatan #Komunitas Blitz Popstar