BLITAR - Bulan Ramadan selalu identik dengan berburu takjil segar dan manis untuk melepas dahaga setelah seharian berpuasa. Salah satu minuman yang sedang digandrungi adalah es durian kocok.
Perpaduan daging durian asli dengan susu, gula cair, dan es batu menciptakan sensasi segar dan legit yang begitu menggoda. Tidak heran, minuman ini menjadi salah satu takjil yang paling diburu di Pasar Ramadan.
Es durian kocok memiliki tekstur creamy dari durian yang dikocok bersama susu dan es batu, menghasilkan rasa manis dengan sedikit sentuhan pahit khas durian.
Beberapa penjual menambahkan topping seperti keju parut, cokelat, boba, atau bahkan daging durian utuh agar semakin menggugah selera.
Salah satu pedagang di Pasar Takjil Jalan Kenanga Blitar, Alfi Karimah, mengaku bahwa es durian kocok selalu laris manis setiap Ramadan. “Setiap hari bisa habis lebih dari puluhan porsi. Biasanya menjelang magrib, pembeli semakin ramai,” ujarnya, sambil meracik pesanan.
Menurut dia, minuman ini digemari karena selain segar juga cukup mengenyangkan. “Durian itu punya rasa yang khas dan banyak peminatnya. Apalagi kalau ditambah susu kental manis dan keju, makin enak,” bebernya.
Tidak hanya para pedagang yang antusias, para pembeli pun rela antre demi menikmati kesegaran es durian kocok. Salah seorang pengunjung, Lailatus Syafaah, mengaku selalu mencari es durian kocok saat berburu takjil.
“Setiap Ramadan, saya pasti cari ini. Rasanya creamy, manis, dan segar banget. Pas banget buat buka puasa,” jelasnya.
Harga es durian kocok bervariasi tergantung ukuran dan tambahan topping. Rata-rata dijual mulai dari Rp 10 ribu per porsi. Meskipun harganya sedikit lebih tinggi dibandingkan minuman segar lainnya, kualitas rasa dan kepuasan yang diberikan membuatnya tetap menjadi pilihan utama banyak orang.
Bagi Anda yang ingin berbuka dengan minuman segar, manis, dan mengenyangkan, es durian kocok adalah pilihan yang tidak boleh dilewatkan. Dengan rasa khas durian yang lezat serta tambahan topping yang bervariasi, minuman ini menjadi favorit banyak orang saat Ramadan. (ham/c1/ady)
Editor : M. Subchan Abdullah