BLITAR - Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Blitar, dr Christine Indrawati, punya cara unik untuk menghilangkan penat selepas bekerja. Bukan jalan-jalan atau sekadar bersantai, melainkan membaca. Baginya, membaca bukan sekadar hobi, melainkan kebutuhan yang harus dipenuhi setiap hari.
Kebiasaan membaca sudah tertanam dalam diri Christine sejak kecil. Orang tuanya memang gemar membaca. Koran tidak ketinggalan, selalu hadir setiap pagi di rumah mereka.
Sejak belia, Christine telah akrab dengan lembaran berita yang terbuka di meja makan atau ruang keluarga. Tanpa sadar, dia meniru kebiasaan itu.
"Sejak kecil, saya selalu melihat orang tua membaca koran setiap pagi. Lama-kelamaan, saya ikut tertarik dan mulai membaca juga," ujar warga Kelurahan Bendogerit, Kecamatan Sananwetan, Kota Blitar ini.
Tidak hanya koran, Christine juga mendapatkan hadiah spesial dari orang tuanya setiap ulang tahun berupa buku. Hadiah itu membuatnya semakin jatuh cinta pada dunia literasi. Hingga remaja, dia mulai berlangganan majalah seperti Gadis, kemudian beralih ke Femina dan berbagai bacaan lainnya.
Bagi Christine, membaca lebih dari sekadar mengisi waktu luang. Ini adalah perjalanan ke dunia lain, yang bisa hanyut dalam narasi yang disajikan.
Seiring waktu, kecintaannya pada membaca semakin berkembang. Saat ini, setidaknya 2 jam dalam sehari didedikasikannya khusus untuk membaca. Bisa pagi sebelum berangkat kerja, sore sepulang dari kantor, atau malam menjelang tidur.
"Bacaan saya bervariasi. Bisa buku, novel, koran, majalah, atau bahan bacaan lain yang konvensional," katanya.
Namun, ada satu hal yang tidak bisa dia kompromikan, yakni e-book. Baginya, membaca buku fisik jauh lebih nyaman dibandingkan membaca melalui layar gawai.
"Saya kurang nyaman membaca e-book. Mata cepat lelah, dan sensasi memegang buku fisik itu berbeda," jelasnya.
Berkat kegemarannya ini, koleksi bukunya terus bertambah. Christine bahkan mengalokasikan sebagian lantai dua rumahnya sebagai perpustakaan pribadi. Rak-rak besar berjajar rapi, menampung ribuan buku dari berbagai genre dan tema.
"Dalam sebulan, paling tidak ada dua buku baru yang saya beli untuk koleksi pribadi," ungkapnya.
Sebagai Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Blitar, tugas Christine tidak ringan. Rutinitas yang padat dan tanggung jawab besar sering kali membuatnya merasa penat. Namun, alih-alih mencari hiburan yang lain, dia memilih kembali ke buku-bukunya.
"Membaca adalah cara saya untuk menenangkan diri. Saat sudah mulai membaca, saya bisa hanyut dalam dunia lain dan melupakan rasa lelah," katanya.
Begitu asyiknya, Christine bahkan bisa menjadi pribadi yang tampak antisosial saat membaca. Dia benar-benar fokus dan tenggelam dalam cerita yang ada di tangannya.
"Kalau sudah membaca, saya bisa lupa segalanya. Orang sekitar mungkin merasa saya cuek, padahal saya hanya terlalu menikmati bacaan saya," ujarnya sambil tersenyum.
Christine tidak hanya menikmati membaca untuk dirinya sendiri, tetapi juga ingin menularkan kebiasaan ini kepada orang-orang di sekitarnya, terutama anak-anak muda.
Menurut dia, membaca adalah kebiasaan positif yang bisa membuka wawasan dan memperkaya pemikiran.
"Dengan membaca, ada tambahan pengetahuan. Paling tidak menjadi gampang nyambung saat ngobrol dengan orang,” tuturnya.
Membaca menjadi ruang berimajinasi bagi Christine. Karena itu pula, dia tidak suka dengan novel-novel yang difilmkan.
“Saya tidak suka nonton film, karena pasti berbeda dengan yang ada dalam novel dan imajinasi saya,” terangnya.
Di tengah perkembangan teknologi dan digitalisasi yang semakin masif, banyak orang beralih ke media digital untuk mendapatkan informasi dan hiburan. Namun, bagi Christine, membaca buku fisik tetap menjadi pilihan utama.
"Saya yakin buku fisik tidak akan tergantikan. Ada kehangatan dan kedekatan tersendiri saat membaca dari lembaran kertas," katanya.
Baginya, membaca bukan sekadar kegiatan, melainkan gaya hidup yang terus dijaga. Tak peduli seberapa sibuk pekerjaannya, dia selalu menyempatkan diri untuk tenggelam dalam dunia kata-kata.
"Membaca sudah menjadi bagian dari hidup saya. Ini bukan lagi sekadar hobi, melainkan kebutuhan," pungkasnya.
Ada satu pengalaman yang hingga kini terngiang dalam rutinitas membaca perempuan 55 tahun ini. Yakni saat dia membaca buku berjudul Musasi. Buku yang bercerita tentang prajurit Jepang itu diselesaikan dalam 3 tahun. Padahal biasanya, dia paling lama menyelesaikan membaca buku dalam dua pekan. (hai/c1/din)
Editor : M. Subchan Abdullah