BLITAR - Tidak semua orang menggemari batik karena motifnya yang monoton. Namun, perempuan asal Kelurahan Pakunden, Kecamatan Sukorejo, Kota Blitar ini dapat membuat inovasi dengan custom batik. Customer bisa memesan motif atau warna batik sesuai keinginannya sehingga lebih eksklusif.
Dia adalah Santika Mawar yang sudah 5 tahun menekuni dunia fashion designer. Berangkat dari latar belakang keluarga yang menekuni dunia batik, Santika berinovasi dengan mengombinasikan teknik tradisional dan desain digital untuk menciptakan karya unik yang diminatitre pasar hingga berhasil go internasional.
Padahal, Santika sebelumnya tidak memiliki ilmu fashion designer. Dia pun sempat bekerja di perbankan dan pemasaran. Dari hal itu, dia mendapatkan banyak relasi yang menguntungkannya. Dia mengamati gaya pakaian orang yang ditemuinya dan melihat tren fashion yang selalu dinamis.
“Sebelum saya di perbankan, saya pernah bekerja di brand fashion. Namun beralih ke perbankan karena untuk menambah ekonomi keluarga. Lalu, orang tua saya ada bisnis batik. Saya teruskan dan kembangkan sampai sekarang,” ujar Santika, Jumat (21/3/2025).
Meskipun Santika mengaku bahwa sebelumnya tidak pernah belajar membatik, dia sudah sejak kecil melihat sang ibu memegang canting. Hal itulah yang mendorongnya untuk melanjutkan bisnis keluarga tersebut.
Dari batik, dia bisa belajar memotong kain, ukuran pakaian, hingga memainkan warna. Menurutnya, batik memang tidak semudah yang dibayangkan.
Perempuan 40 tahun ini menceritakan bahwa awalnya hanya membuat batik dalam bentuk kain, bukan pakaian. Namun, semakin banyak permintaan pelanggan yang ingin batik dalam bentuk pakaian ready to wear membuatnya harus lebih banyak belajar.
Keinginan pasar yang tinggi membuatnya memutuskan untuk mendalami dunia desain lebih lanjut. Tidak tanggung-tanggung, dia kembali menempuh pendidikan secara online dengan fokus pada desain digital.
"Saya mulai dengan belajar menggambar manual, lalu berkembang ke desain digital yang lebih kompleks. Saya menempuh pendidikan di institusi berbasis di Surabaya dengan bimbingan tenaga pengajar lulusan Singapura dan Amerika Serikat,” ungkapnya.
Kini, Santika kerap mengikuti ajang fashion show di berbagai kota untuk memasarkan karya batik buatannya. Dengan begitu, target pasarnya bukan hanya pelanggan umum, melainkan juga sesama desainer.
Dia mengaku membuat kain sendiri dengan desain custom. Maka dari itu, banyak desainer senior yang tertarik dan ingin memesan kain dengan motif khas sesuai kebutuhan mereka.
Batik yang dibuatnya tidak hanya sekadar kain, tetapi juga memiliki konsep khusus sesuai dengan budaya dan karakter masing-masing desainer. Nantinya, ketika dipakai oleh customer, tidak ada yang menyamai. Karena itu, dia tidak sekadar menawarkan pakaian, tetapi juga pengalaman personal bagi pelanggan.
"Misalnya, desainer dari Kutai mempunyai motif durian khas daerah mereka, atau desainer dari Surabaya memiliki motif Tugu Pahlawan, saya siap membuatkan sesuai keinginan mereka," kata Santika.
Menurutnya, proses pembuatan busana batik tidak sederhana. Dimulai dari pembuatan desain kain, pemilihan warna, hingga menentukan ukuran dan model baju agar motif tidak terpotong. Setiap orang punya preferensi unik terhadap motif batik.
Ada yang tidak suka motif besar karena takut terlihat gemuk, ada juga yang ingin motif hanya di bagian bawah supaya tampak elegan. Santika ingin membebaskan customer memilih motif sendiri. "Saya ingin pelanggan merasakan pengalaman memiliki pakaian yang benar-benar mencerminkan diri mereka," tambahnya.
Meskipun sudah sukses dengan bisnisnya saat ini, Santika masih memiliki impian besar dengan menciptakan brand batik ready to wear. Namun, dia menyadari bahwa membangun brand besar tidak mudah, terutama dengan keterbatasan lokasi.
"Saya ingin suatu hari nanti memiliki brand batik sendiri yang ready to wear, sehingga saya bisa fokus mengembangkan desain lebih jauh. Mobilitas di Blitar masih menjadi tantangan. Tapi, suatu saat, saya yakin bisa mewujudkannya," pungkasnya. (jar/c1/ynu)
Editor : M. Subchan Abdullah