BLITAR - Konten kreator Willy Salim kembali menjadi sorotan setelah unggahan videonya berjudul ‘Rendang yang Hilang’ menuai kritik dan kecaman dari masyarakat Palembang. Video yang dianggap merendahkan warga Palembang ini akhirnya berujung pada laporan hukum.
Sejumlah perwakilan masyarakat Palembang melayangkan pengaduan ke Polda Sumatera Selatan, menilai konten tersebut menimbulkan kegaduhan dan mencoreng citra masyarakat setempat.
Tak hanya warga biasa, sejumlah tokoh ternama dan selebritas turut menanggapi kontroversi ini, termasuk Helmi Yahya, Anwar Fuad, dan Venita Ari. Mereka menyayangkan konten Willy Salim yang dianggap menyesatkan serta berpotensi menimbulkan kesalahpahaman di tengah masyarakat.
Permintaan Maaf yang Dinilai Kurang Tulus
Willy Salim sebenarnya telah menyampaikan permintaan maaf melalui akun media sosial pribadinya. Dalam pernyataannya, ia mengakui kesalahan dan mengklarifikasi bahwa narasi negatif yang berkembang bukanlah kesalahan warga Palembang, melainkan murni akibat kurangnya persiapan dari pihaknya.
Ia juga menegaskan bahwa tidak ada niatan buruk dalam pembuatan konten tersebut dan justru merasa senang melihat antusiasme warga terhadap acara masak besar yang diadakannya.
Namun, meskipun telah meminta maaf, hingga kemarin Willy belum menghapus video tersebut. Hal ini memicu desakan dari masyarakat Palembang agar ia segera menghapus kontennya serta kembali menyampaikan permintaan maaf yang lebih tulus.
Helmi Yahya, sebagai salah satu tokoh masyarakat Palembang di perantauan, menilai bahwa permintaan maaf Willy masih kurang menunjukkan ketulusan.
"Saya menerima permintaan maafnya, tetapi saya rasa dia harus menunjukkan kesungguhan dengan menghapus video itu dan mengklarifikasi lebih lanjut," ujar Helmi Yahya dalam sebuah wawancara.
Ia juga mengungkapkan bahwa Willy telah menemuinya secara langsung untuk meminta maaf dan berjanji tidak akan mengulangi kesalahan yang sama di masa depan.
Bobon Santoso Ikut Beri Komentar
Kontroversi ini juga menarik perhatian kreator kuliner lainnya, Bobon Santoso. Melalui akun media sosialnya, Bobon menegaskan bahwa penyelenggara acara masak besar harus bertanggung jawab penuh sejak awal hingga akhir. Ia menilai kegaduhan yang terjadi murni akibat kurangnya pengelolaan dari pihak Willy Salim, bukan karena kesalahan warga Palembang.
"Sebagai konten kreator, kita harus sadar akan dampak dari konten yang kita buat. Masak besar bukan sekadar untuk konten viral, tetapi harus ada perencanaan yang matang agar tidak menimbulkan masalah seperti ini," kata Bobon.
Bobon juga menyoroti bagaimana konten kreator saat ini berlomba-lomba membuat konten viral tanpa mempertimbangkan dampak luasnya.
Sebagai Ketua Asosiasi Content Creator Indonesia, ia menekankan pentingnya edukasi bagi para kreator agar lebih bertanggung jawab dalam membuat konten, terutama yang melibatkan banyak orang.
Masyarakat Palembang Tersinggung, Laporan Hukum Berlanjut
Kejadian ini semakin memanas setelah banyak masyarakat Palembang, baik di dalam maupun luar kota, mengaku tersinggung dengan framing yang ditampilkan dalam video tersebut. Mereka merasa bahwa citra masyarakat Palembang telah dirusak akibat konten yang dianggap tidak adil dan menyesatkan.
"Kami sangat kecewa. Seolah-olah kami ini tidak tahu tata krama, padahal sebenarnya kejadian di video itu terjadi karena kurangnya koordinasi dari pihak penyelenggara," ujar Anwar Fuad, salah satu tokoh masyarakat Palembang.
Hingga kini, laporan terhadap Willy Salim masih dalam proses di Polda Sumatera Selatan. Belum ada kepastian apakah Willy akan menghadapi konsekuensi hukum lebih lanjut atau tidak. Namun yang jelas, kontroversi ini menjadi pelajaran bagi para kreator konten untuk lebih berhati-hati dalam menyajikan informasi di media sosial. (*)
Editor : M. Subchan Abdullah