BLITAR - "Bidaah" bukan sekadar drama Malaysia biasa. Serial yang tayang di platform streaming ini langsung mencuri perhatian publik karena temanya yang berani dan ceritanya yang mengguncang batin. Mengusung kisah seputar penyimpangan ajaran agama dan fanatisme keagamaan, "Bidaah" tampil sebagai tontonan yang menggugah sekaligus memantik diskusi hangat di jagat maya.
Serial ini berfokus pada sosok Ustaz Walid, pemimpin spiritual karismatik yang memiliki pengaruh besar di komunitasnya. Namun, semakin jauh cerita berjalan, semakin terlihat bahwa ajaran yang ia sebarkan tak sepenuhnya lurus. Ada penyimpangan, ada manipulasi, dan yang paling menyeramkan: pengikut yang begitu patuh tanpa bertanya.
Narasi "Bidaah" menjelma menjadi kritik sosial yang tajam tentang betapa rentannya manusia terhadap figur pemimpin, terutama ketika agama dijadikan alat kekuasaan.
Dengan gaya sinematografi yang kelam dan naskah yang penuh lapisan makna, "Bidaah" berhasil menyampaikan pesannya tanpa harus menggurui. Setiap episode terasa intens, membuat penonton tak bisa lepas dari layar.
Drama ini bukan hanya menghibur, tapi juga menantang kita untuk bertanya: sejauh mana kita mengenal ajaran yang kita anut? Dan sejauh mana kita berani mempertanyakan sesuatu yang terasa "benar" tapi menyimpang?
Tak heran jika "Bidaah" menjadi perbincangan panas di media sosial. Tagar #BidaahSeries sempat trending, dengan banyak warganet membagikan potongan adegan, teori cerita, hingga refleksi pribadi mereka tentang tema yang diangkat.
Bahkan ada pula yang menyebut serial ini sebagai "terapi batin" yang menyadarkan mereka akan pentingnya berpikir kritis dalam beragama.
Serial ini juga tak lepas dari kontroversi. Otoritas agama setempat, termasuk JAKIM, sempat menyoroti dan meminta agar serial ini ditarik atau disensor karena dinilai bisa menyesatkan. Namun reaksi tersebut justru menambah daya tarik "Bidaah" dan membuat orang semakin penasaran. (*)
Editor : M. Subchan Abdullah