Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Jejak Blitar Underground Community: Komunitas Musik Ekstrem Sejak 1998 yang Tetap Menyala

Fajar Rahmad Ali Wardana • Jumat, 4 Juli 2025 | 19:05 WIB
KOMPAK TERUS: Para anggota BUC yang berkesempatan kopi darat beberapa waktu lalu dan bersiap menggelar event di Kota Blitar pada Minggu (6/7/2025) mendatang.
KOMPAK TERUS: Para anggota BUC yang berkesempatan kopi darat beberapa waktu lalu dan bersiap menggelar event di Kota Blitar pada Minggu (6/7/2025) mendatang.

BLITAR - Meski dikenal luas sebagai komunitas pencinta musik metal, BUC atau Blitar Underground Community ternyata menyimpan semangat lebih luas.

Menurut Heri, istilah underground kini tak lagi semata tentang kerasnya distorsi gitar, tapi lebih pada nilai kebebasan berekspresi dan independensi.

Gemuruh musik cadas dan kaus hitam mungkin asing pada sebagian orang yang baru mengenal musik di Blitar.

“Kami berdiri dari obrolan santai lintas komunitas. Awalnya malah banyak gap antarwilayah, dari Wlingi, Kesamben, dan Garum. Tapi akhirnya sepakat, disatukan saja lewat nama besar: Blitar Underground Comunity,” kata Heri, di kantor Jawa Pos Radar Blitar, Jumat (4/7/2025).

Komunitas ini tidak hanya mewadahi musisi underground, tetapi juga penikmat musik ekstrem. Penggemarnya juga cukup besar di setiap kota, termasuk di Blitar.

Apalagi setiap tahun mereka memiliki agenda tahunan yang sebentar lagi digelar.

 “Orang masih mikirnya kalau underground pasti metal, padahal enggak. Musik pop, dangdut sekalipun, kalau dia bergerak sendiri tanpa industri besar, itu ya semangat underground. Tapi biar enggak salah paham, sekarang lebih enak kami sebut ‘musik ekstrem’,” jelasnya.

Di tengah stigma masyarakat, BUC tetap eksis. Bahkan, dari waktu ke waktu, animo makin besar.

Tak sedikit anak-anak SMP dan SMA mulai bergabung. Ada yang membentuk band, ada yang sekadar penikmat.

Heri menyebut bahwa awalnya masyarakat kaget dengan atribut serbahitam dan musik yang keras.

Namun, setelah sering lihat acara yang dibuat BUC, banyak yang jadi mengerti dan justru mendukung. Itu karena BUC memiliki semangat sosial yang tinggi.

“Masyarakat banyak yang memberikan respons positif. Untuk saat ini, kami tidak bisa menghitung anggota. Karena banyak sekali pelaku dan penikmat musik ekstrem di Blitar Raya ini,” ungkap Heri.

Kegiatan BUC tak hanya nongkrong atau latihan. Komunitas ini aktif merilis rekaman secara independen, menjual merchandise, hingga menggelar konser kecil.

Meski tak memiliki agenda rutin karena berbagai keterbatasan, semangat tetap menyala.

Beberapa band yang bernaung di bawah BUC bahkan pernah tampil di panggung internasional. Tur ke Malaysia dan Singapura jadi bukti bahwa semangat dari Blitar bisa menembus batas.

“Itu mimpi yang tercapai. Tapi masih banyak lagi yang belum. Mungkin suatu hari, kami bisa punya festival sendiri, punya studio sendiri, atau bahkan label independen resmi,” kata Heri, penuh harapan.

BUC memang bukan organisasi dengan struktur baku atau dana besar. Namun dari komunitas ini tumbuh semangat kolaborasi dan kebebasan.

Di tengah dunia yang serbainstan, BUC memilih jalur DIY (do it yourself), jalur yang penuh idealisme dan kadang harus ditebus dengan pengorbanan.

“Banyak yang serius di sini. Bukan hanya hobi. Tapi ya balik lagi, tantangannya biasanya di waktu dan biaya. Tapi selama semangat masih ada, kita jalan terus,” pungkasnya.(*/c1/sub)

Editor : M. Subchan Abdullah
#Beberapa #komunitas #blitar #semangat #bersiap #mendatang #jejak #Menyala #kota #Menggelar #kopi #Blitar Underground Community #anggota #waktu #darat #musik #Para #Ekstrem #Minggu