BLITAR - Mengenakan seragam Dinas Perhubungan (Dishub) Kabupaten Blitar, Dinda Utari terlihat tak berbeda dengan ASN lain pada umumnya.
Namun siapa sangka, warga Desa Margomulyo, Kecamatan Panggungrejo, ini punya cerita tak biasa tentang perjalanan hidup dan kariernya.
Lulus dari Sekolah Tinggi Transportasi Darat (STTD), Dinda langsung mengantongi status ASN Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Blitar.
Dia diangkat pada awal Juni lalu. Menariknya, sekolahnya langsung menempatkan kariernya di kampung halaman.
“Saya sempat duduk di bangku Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Brawijaya. Namun begitu mendengar peluang pendaftaran sekolah kedinasan dibuka, saya langsung daftar dan mengikuti tes. Saya sudah siapkan dari awal kalau sewaktu-waktu bisa tes. Dan alhamdulillah, diterima. Saya mengundurkan diri dari kampus dan langsung pindah ke STTD,” kenangnya.
Perempuan 24 tahun ini masuk STTD bukan perkara mudah. Mulai tes administrasi, seleksi kompetensi dasar (SKD), kesehatan, psikotes, hingga uji fisik, semua dijalani dengan ketat. Bahkan kuotanya juga terbatas. Apalagi saat itu hanya empat orang dari Kabupaten Blitar
Namun, semua perjuangan itu terbayar lunas. Tak lama setelah lulus, Dinda resmi menjadi PNS dan langsung ditempatkan di Dishub Kabupaten Blitar.
Meski berseragam ASN di jam kerja, di luar kantor, Dinda ternyata memiliki bakat sebagai pembawa acara formal.
Bahkan, dia dipercaya membawakan acara protokoler hingga seremoni pedang pora, tradisi kehormatan khas taruna kedinasan.
Kemampuan pembawa acara atau master ceremony (MC) yang dimiliki Dinda diasah sejak masih kuliah. Dia tergabung dalam tim MC kampus STTD yang khusus bertugas untuk acara-acara besar.
“Ketika di kampus ada tim khusus MC pedang pora. Seleksinya ketat juga. Dari situ, saya mulai sering ditugasi jadi MC, termasuk untuk pedang pora taruna maupun alumni,” ungkapnya.
Kini, meski telah kembali ke kampung halaman, undangan MC terus berdatangan. Terutama dari rekan-rekan alumni STTD yang mengadakan pernikahan di Blitar.
Karena tidak mungkin alumni STTD Blitar meminta MC pedang pora langsung dari Bekasi.
Maka dari itu, alumni yang ada di Bumi Bung Karno yang harus membantu. Meski punya jam terbang tinggi di dunia MC, Dinda mengaku spesialisasinya ada di acara resmi.
“Kalau MC kondangan atau yang lucu-lucu itu saya kurang cocok. Saya lebih nyaman di acara formal. Kayak upacara, webinar, atau seremoni dinas,” pungkasnya.(jar/c1/sub)
Editor : M. Subchan Abdullah