Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Mengenal Bassed Hunt, Band Punk Lokal Blitar Tak Lengkang oleh Waktu

M. Subchan Abdullah • Senin, 14 Juli 2025 | 21:30 WIB
TETAP SEMANGAT: Gatot Wibowo bersama bandnya, Bassed Hunt saat tampil di Blitar Horregh #10 pada Minggu (6/7) pekan lalu.
TETAP SEMANGAT: Gatot Wibowo bersama bandnya, Bassed Hunt saat tampil di Blitar Horregh #10 pada Minggu (6/7) pekan lalu.

BLITAR - Parade musik bertajuk ”Blitar Horregh #10” yang diselenggarakan pada Minggu (6/7) lalu membangkitkan kembali band-band cadas lokal. Salah satunya adalah Bassed Hunt.

Sebuah band beraliran punk yang salah satu personelnya merupakan Aparatur Sipil Negara (ASN). Berikut ulasannya.

Dentuman musik keras terdengar dari kejauhan. Sumber suara musik itu berasal dari penampilan band di halaman Gedung Kesenian Aryo Blitar.

Parade musik underground tersebut bagian dari event bertajuk Blitar Horregh #10.

Sedikitnya ada puluhan band yang tampil dalam parade musik tersebut. Mulai band lokal sampai dari luar daerah.

Salah satunya adalah Bassed Hunt, band punk asli Blitar. Band ini turut memeriahkan Blitar Horregh di Gedung Kesenian Aryo Blitar pada Minggu (6/7/2025) lalu.

Siapakah Bassed Hunt ini dan bagaimana sejarah terbentuknya? Jawa Pos Radar Blitar pun berkesempatan untuk bertemu salah satu penggawa dari band punk ini.

Adalah Gatot Wibowo, salah satu personel berposisi sebagai gitaris melodi yang menceritakan awal berdirinya Bassed Hunt.

Dibentuk pada 2000 saat para personelnya masih duduk di bangku SMA, band punk asal Blitar, Bassed Hunt, jadi bukti bahwa semangat bawah tanah tak pernah lekang oleh waktu.

Di tengah usia yang kini sudah kepala empat ke atas, mereka masih tampil sangar di panggung Blitar Horregh #10.

Band ini digawangi empat personel: Handoko Prasetyo alias Ndok sebagai vokalis sekaligus gitaris rhythm, Gatot Wibowo di posisi gitar melodi, Tatuk di bass merangkap backing vokal, serta Eko Cahyono(Bebek) di drum.

Baca Juga: Kunci Efektif Public Speaking, Teknik Bicara yang Mempengaruhi Minat Audiens!

Dari atas panggung, energi mereka tak kalah dengan anak-anak muda yang baru belajar naik panggung.

Bowo, sang gitaris, menceritakan awal kecintaannya pada musik punk saat masih duduk di kelas 1 SMA, sekitar tahun 1998. Saat itu, warga Kelurahan Plosokerep, Kecamatan Sananwetan ini belajar memainkan gitar secara otodidak menggunakan kaset pita.

“Dulu kalau belajar gitar masih pakai kaset pita, diputer-puter buat nebak chord-nya. Seru sih, tapi ya penuh perjuangan,” ujar Bowo sambil tertawa.

Yang mencengangkan, kini Bowo juga aktif sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN) di Kabupaten Blitar. Meski disibukkan dengan rutinitas pekerjaan dan menjadi bapak dua anak, ia tetap setia dengan dunia musik underground.

Bassed Hunt bukan band yang mengejar popularitas. Mereka tumbuh bersama skena, dan tetap ada karena cinta. Tak peduli status atau usia, bagi mereka punk adalah sikap hidup. “Tua boleh, asal punk jangan hilang,” tutup pria 43 tahun ini. (mg2/sub)

Editor : M. Subchan Abdullah
#Cadas #Mengenal #punk #Bassed Hunt #band #melodi #kaset pita #musik #lokal #Blitar Horregh #gitaris #parade