BLITAR - Tak pernah menyangka meraih juara satu Putri Batik Kota Blitar 2025, Audria Mikayla Rahmadina kini justru menuai banyak peluang baru dari pengalaman tersebut.
Remaja asal Kelurahan Bendogerit, Kecamatan Sananwetan, ini kini semakin percaya diri melangkah ke berbagai panggung, sebagai MC, volunter, maupun ajang pageant lain.
“Alhamdulillah ini semua tentu karena dukungan orang tua. Banyak ilmu dan pengalaman yang berharga usai mengikuti Putra-Putri Batik Kota Blitar. Bahkan setelah itu, saya dapat banyak tawaran pekerjaan,” tutur Mikayla, sapaan akrabnya.
Ajang Putra-Putri Batik ini, jelas dia, menjadi pengalaman tak terlupakan. Hal ini menjadi ajang pageant keduanya. Sebelumnya, dia juga mengikuti duta literasi di SMA 3 Blitar. Beberapa kali juga mengikuti kegiatan karnaval, PMR, dan english competition.
“Dari beberapa kegiatan yang saya ikut, banyak yang bilang ini tuh pengalaman sekali seumur hidup. Nanti kalau sudah dewasa pasti kangen ikut hal-hal seperti ini,” ujarnya.
Satu kalimat yang selalu melekat di pikirannya adalah bagaimana caranya berteman dengan seribu orang. Lewat ajang semacam ini, dia merasa mendapat ruang luas untuk menambah teman, ilmu, dan pengalaman hidup.
Menariknya, Mikayla ternyata tak selalu tampil percaya diri. Saat kecil, dia mengaku pendiam dan jarang dilibatkan dalam kegiatan yang menonjolkan diri.
Karena saat sekolah dasar, hanya anak yang memiliki prestasi yang diperhatikan oleh sekolah.
Namun, titik balik terjadi saat SMP, ketika dia mulai mengikuti lomba pidato dan story telling berbahasa Inggris.
Sejak kecil, Mikayla memang sudah diajari untuk berbahasa di kehidupan kesehariannya.
Baca Juga: Cuaca Tak Menentu, Petani Blitar Tunda Masa Panen
“Waktu SMP ingin nunjukin bisa berbahasa inggris. Dari situ, guru-guru mulai memperhatikan dan membina saya dengan mengikuti lomba-lomba. Saya memang ingin menonjolkan diri di sekolah, untuk bisa berkembang,” ujarnya.
Perjalanan Mikayla di dunia panggung pun berlanjut. Dia pernah menjadi pembawa acara di sekolah, bersih desa, dan kegiatan desa lainnya.
Namun, bergabung dalam ajang Putra-Putri Batik menjadi lompatan besar dalam kariernya.
Berawal dari ajakan pembina sekolah, Mikayla mendaftar bersama temannya tanpa ekspektasi tinggi. Sebab saingannya model. Syukurnya, saat malam grand final, dia keluar sebagai winner.
Menurut Mikayla, penilaian dalam ajang itu tak hanya soal pengetahuan batik, tapi juga penampilan, sikap, dan ketahanan mental. “Seharian kita dinilai. Harus tetap tampil bersih, segar, dan percaya diri,” ungkapnya.
Kini, setelah jadi Putri Batik, Mikayla mulai dilirik untuk berbagai kegiatan di dalam dan luar sekolah.
Dia pun membuka peluang untuk mengikuti ajang pageant lainnya. Tujuannya untuk menambah pengalaman dan mencoba tantangan baru.
“Mimpi saya yang paling dekat ini ingin bisa menguasai bahasa Mandarin. Ingin fasih komunikasi bahasa Mandarin. Soalnya itu salah satu modal utama buat melangkah ke masa depan,” pungkasnya. (jar/c1/ady)
Editor : M. Subchan Abdullah