Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

⁠Kisah Penulis Skenario Film Papan Atas Nasional yang Kini Pilih Hidup Menepi di Pantai Serang Blitar, Ini Alasannya

Muhamad Yusuf Zulkarnain • Kamis, 14 Agustus 2025 | 22:00 WIB

 

⁠Kisah Penulis Skenario Film Papan Atas Nasional yang Kini Pilih Hidup Menepi di Pantai Serang Blitar, Ini Alasannya
⁠Kisah Penulis Skenario Film Papan Atas Nasional yang Kini Pilih Hidup Menepi di Pantai Serang Blitar, Ini Alasannya

BLITAR - Pesisir Pantai Serang, Kabupaten Blitar, menjadi saksi bisu pasangan suami istri yang lama di Jakarta. Namun, Endik Koeswoyo, sang suami yang juga penulis skenario banyak judul sinetron hingga film layar lebar ini, akhirnya memilih menyepi di Blitar.

 

Di sebuah sudut tenang Pantai Serang, di tempat itulah Endik Koeswoyo menjalani hidup yang mungkin menjadi mimpinya, memilih slow living.

Jauh dari ingar bingar ibu kota, dia justru menemukan produktivitas tanpa batas. Kisah suksesnya hari ini bukanlah keajaiban semalam, melainkan buah dari perjuangan dan kerja keras.

Pria kelahiran 1982 ini adalah otak di balik naskah-naskah populer seperti Me & You vs The World, Kesurupan Setan, Erau Kota Raja, hingga ratusan film dan sinetron lainnya. Terbaru, ada film Dukun Magang yang siap menyapa penonton.

Uniknya, sebagian besar naskah tersebut ia tulis bukan atas keinginan pribadi, melainkan permintaan dari rumah produksi seperti Starvision. "Saya menulis berdasarkan permintaan. Ada kebutuhan cerita seperti ini, ya saya kerjakan," tuturnya rendah hati.

Jalan hidup Endik tak pernah mulus. Lahir dari keluarga sederhana sebagai anak buruh tani, dia kemudian diasuh oleh mbahnya. Masa kecilnya dihabiskan untuk bekerja membantu kakeknya, seorang tukang pijat dan asisten rumah tangga di rumah kepala desa.

Suatu ketika, karena lelah bekerja, dia bersembunyi di gudang usai pulang sekolah. Siapa sangka, gudang itu adalah perpustakaan pertamanya.

"Di dalam gudang itu ternyata banyak majalah lama mulai dari Intisari, Joyoboyo, dan beberapa koran Panjebar Semangat. Saya baca semua cerpen dan novel di dalamnya. Rasanya senang sekali," kenangnya.

Masa remajanya diwarnai pengembaraan. Dia sempat ikut sang ibu ke Banjarmasin, lalu menyusul ayahnya ke Lampung, hingga akhirnya kembali ke Blitar. Di tanah kelahirannya, dia bersekolah di SMA Sutojayan sambil bekerja membantu penjual bakso di Alun-Alun Lodoyo.

Baca Juga: Jejak Keagungan Majapahit di Candi Simping: Dari Arca Siwa Wisnu hingga Tirta Parakewa

Sebuah nasihat dari guru bahasa Jawa-nya di SMA menjadi pegangan hidupnya.

"Beliau bilang, 'Le, kuncine wong urip iku boso' (Nak, kuncinya orang hidup itu bahasa, bahasa Jawa, Red). Sejak saat itu, saya berusaha belajar berbagai bahasa mulai dari Jawa, Inggris, Arab, hingga Jepang, meskipun tidak sampai mahir semua," tuturnya.

Lulus SMA, Endik dihadapkan pada dua pilihan kota untuk berkuliah di Jogja atau Malang. Pilihannya jatuh ke Jogja dengan pertimbangan yang sangat sederhana. "Di Jogja, ada nasi kucing yang harganya terjangkau kantong," akunya tertawa.

Dia masuk ke Akademi Komunikasi Indonesia (AKINDO) jurusan Broadcasting. Dengan segala keterbatasan, dia hanya mampu membayar uang kuliah untuk semester pertama. Namun, semangat belajarnya tak pernah padam.

Selama empat tahun, dia tetap rajin masuk kelas, bahkan menyelinap ke berbagai kelas berbeda untuk menyerap ilmu sebanyak-banyaknya.

"Prinsip saya, kuliah itu cari ilmu, bukan ijazah. Pernah hampir diusir dosen, tapi lama-lama mungkin beliau kasihan dan membiarkan saya ikut kelasnya," kenang Endik.

Kegigihannya berbuah manis. Di kampus, dia menguasai banyak keahlian: menjadi sutradara, penulis naskah, content creator, host, hingga desain grafis. Untuk bertahan hidup, dia mengerjakan proyek-proyek tugas kuliah teman-temannya dan bekerja di sebuah event organizer.

Titik balik kariernya datang saat Fajar Nugros menawarinya kontrak CinemArt untuk menulis naskah seperti film Tendangan dari Langit. "Saya langsung iyakan. Yang penting dapat tempat untuk berkarya," ujarnya. Sejak saat itu, tawaran terus mengalir deras.

Untuk menjaga produktivitas, Endik menerapkan disiplin waktu yang ketat. Sebelum menikah, dia bisa menulis sejak subuh hingga malam. Kini, setelah berkeluarga, dia membagi waktunya dengan cermat.

"Pagi setelah salat Subuh, saya luangkan waktu untuk anak. Jam 7 sampai jam 10 pagi, saya kembali ke ruang kerja. Nanti siang mengasuh anak lagi, begitu seterusnya. Malam saat istri dan anak tidur, saya lanjut menulis lagi," jelasnya.

Baginya, rutinitas ini adalah keharusan. "Saya tidak terlahir dari keluarga sultan dan tidak punya warisan. Satu-satunya modal saya ya keahlian menulis ini," tegasnya. (*/c1/ady) (*)

Editor : M. Subchan Abdullah
#pantai serang blitar #penulis skenario #Endik Koeswoyo