BLITAR KAWENTAR - Selama 51 tahun mengabdi di Taman Ismail Marzuki (TIM), Jose Rizal Manua telah menjadi saksi sekaligus pelaku utama perkembangan teater Indonesia.
Sastrawan dan deklamator yang akrab disapa Bang Yos ini tidak hanya berkontribusi dalam panggung domestik, tetapi juga membawa teater anak Indonesia meraih prestasi di kancah internasional.
Perjalanan seni Bang Yos dimulai dari masa kecil yang dihabiskan di Kalimantan Selatan, tempat ayahnya yang berprofesi tentara bertugas.
"Di sana saya pertama kali mengenal kesenian melalui komunitas wayang orang yang sering melibatkan anak-anak kecil seperti saya," kenang pria kelahiran Padang ini dalam sebuah wawancara.
Dari Pemain Sepak Bola Menjadi Seniman
Sebelum terjun ke dunia seni, Bang Yos sempat menekuni sepak bola secara serius. Ia bergabung dengan Persija Junior pada tahun 1970 bersama Sulaiman dan Dedek Sulaiman, yang kelak menjadi pemain nasional. Namun kondisi ekonomi keluarga yang sulit memaksanya meninggalkan karier sepak bola.
"Saya anak tertua dari tujuh bersaudara. Ketika biaya sepak bola tidak bisa dipenuhi, saya memutuskan pindah haluan," ungkapnya. Tahun 1971-1972, ia bergabung dengan Teater Wijaya Kusuma pimpinan Rendra Karno, yang kemudian memperkenalkannya dengan dunia TIM.
Era Keemasan Seni di TIM
Bang Yos menyaksikan era keemasan TIM pada dekade 1970-an, ketika para maestro seperti W.S. Rendra, Teguh Karya, Taufik Ismail, hingga Affandi sering berkumpul di warung kopi Dewi Indah. "Mereka berdiskusi lintas disiplin tanpa sekat-sekat seperti sekarang. Atmosfer itu sangat guyub dan menginspirasi," kenangnya.
Fasilitas TIM pada era tersebut juga tidak ada bandingannya di dunia. Teater tertutup dan terbuka yang saling berhubungan memungkinkan pertunjukan wayang kulit dapat dinikmati dari dua sisi sekaligus. "Gedung seperti itu tidak ada lagi sekarang. Sayang sekali renovasi tidak mempertahankan keunikan arsitektur Indonesia tersebut," sesalnya.
Juara Deklamasi Nasional Beruntun
Dalam bidang deklamasi, Bang Yos mencatatkan prestasi gemilang dengan meraih juara pertama lomba baca puisi nasional dari tahun 1981 hingga 1986 secara beruntun. Dominasinya begitu kuat hingga Rendra dan Taufik Ismail memintanya berhenti berkompetisi dan beralih menjadi juri.
"Tahun 2017, saya kembali ikut lomba setelah 34 tahun karena hadiah 5 juta rupiah. Saya menang lagi, dan juri bertanya mengapa tidak ada perkembangan dalam dunia baca puisi," ceritanya.
Bang Yos mengidentifikasi masalah utama deklamasi modern: tidak lagi bertolak dari isi puisi, melainkan terlalu fokus pada aspek eksternal yang berlebihan.
Teater Tanah Air dan Prestasi Internasional
Sejak mendirikan Teater Tanah Air pada 1988, Bang Yos memfokuskan diri pada teater anak-anak. Grup teaternya telah meraih berbagai prestasi internasional, termasuk juara dunia di Festival Teater Anak-Anak Sedunia di Jerman (2008), Rusia, dan India.
Kerjasama dengan penulis Danarto dan Putu Wijaya menghasilkan karya-karya unik yang menampilkan simbol-simbol universal tanpa dialog verbal. "Pertunjukan 'Bumi di Tangan Anak-Anak' hanya menggunakan gerak, tarian, dan nyanyian, namun berhasil menyentuh penonton internasional," jelasnya.
Tantangan dan Harapan Masa Depan
Bang Yos mengidentifikasi beberapa tantangan dalam dunia teater Indonesia saat ini. Pertama, kurangnya regenerasi maestro di bidang puisi dan deklamasi. Kedua, minimnya pemahaman sutradara tentang konsep teater anak yang seharusnya dilihat dari kacamata anak-anak, bukan dewasa.
"Teater anak harus mengedepankan unsur bermain dan pendekatan rekreatif. Guru-guru TK sangat memahami ini, tapi begitu anak masuk SD, unsur teater hilang," kritiknya terhadap sistem pendidikan.
Dampak Sosial dan Budaya
Dedikasi Bang Yos selama lima dekade telah memberikan dampak signifikan bagi dunia seni Indonesia. Ia tidak hanya melestarikan tradisi deklamasi dan teater, tetapi juga membuktikan bahwa karya Indonesia mampu bersaing di tingkat internasional.
Melalui teater anak-anak, ia telah membentuk karakter generasi muda dengan nilai-nilai positif seperti kepercayaan diri, gotong royong, dan kreativitas. "Ketika anak-anak berteater dengan benar, mereka akan memiliki kepribadian yang kuat," tegasnya.
Jose Rizal Manua tetap aktif sebagai juri berbagai kompetisi seni dan terus mengelola Teater Tanah Air, membuktikan bahwa dedikasi terhadap seni tidak mengenal batas usia. Kontribusinya menjadi inspirasi bagi seniman muda untuk terus berkarya dan mengharumkan nama Indonesia di kancah internasional. (*)
Editor : M. Subchan Abdullah