BLITAR KAWENTAR- Jose Rizal Manua, seniman, sastrawan, dan deklamator, berbagi perjalanan hidupnya yang kaya di dunia seni dalam sebuah wawancara. Dikenal sebagai sosok yang identik dengan Taman Ismail Marzuki (TIM), ia telah menghabiskan lebih dari 51 tahun di pusat kesenian legendaris tersebut, menyaksikan berbagai perubahan dan pasang surutnya.
Awal Perjalanan dan Pilihan Hidup
Lahir di Padang dan dibesarkan dalam keluarga tentara, Jose Rizal Manua kecil telah akrab dengan kesenian sejak tinggal di Banjarmasin. Di sana, ia diperkenalkan pada teater, tari, dan musik di taman kanak-kanak, serta terlibat sebagai pemain wayang orang cilik.
Beranjak remaja di Jakarta, ia sempat menekuni sepak bola di klub ternama, bahkan masuk Persija Junior. Namun, karena kondisi ekonomi keluarga dan maraknya bahaya narkoba, ia memilih beralih ke dunia teater pada tahun 1971.
Keputusannya membawanya ke TIM, tempat ia bekerja serabutan sebelum akhirnya diterima dan memulai karir seninya secara intensif.
Ia kemudian menempuh pendidikan di Fakultas Teater IKJ, sambil bergabung dengan kelompok teater ternama seperti Teater Mandiri Putu Wijaya dan Bengkel Teater Rendra.
Perkembangan dan Pergeseran Seni
Jose Rizal Manua menyaksikan langsung masa keemasan TIM di era 70-an, di mana para seniman dari berbagai disiplin ilmu berkumpul dan berdiskusi di satu tempat. Suasana kolaboratif dan guyub tersebut, menurutnya, kini hilang dan tergantikan dengan sekat-sekat.
Ia juga memberikan pandangan kritis terhadap perubahan fisik TIM. Baginya, renovasi besar-besaran yang dilakukan telah menghilangkan keunikan dan arsitektur tradisional Indonesia yang dimiliki gedung-gedung teaternya.
Jose Rizal Manua menyayangkan keputusan tersebut karena konstruksi lama yang unik, seperti Teater Tertutup dan Teater Terbuka yang bisa digunakan bersamaan untuk pertunjukan wayang kulit, kini tidak ada lagi.
Di dunia puisi, ia menjelaskan perbedaan antara "deklamasi" dan "baca puisi". Deklamasi, yang populer di era 60-an, sering kali dilakukan secara teatrikal dan berlebihan. Rendra kemudian memperkenalkan istilah "poetry reading" atau "baca puisi" pada tahun 1968, yang lebih fokus pada penyampaian isi puisi itu sendiri.
Baca Juga: Terdampak Kerusakan, Rapat Paripurna DPRD Kabupaten Blitar Terancam Pindah Lokasi
Ia juga menyoroti penurunan minat masyarakat terhadap puisi saat ini, yang menurutnya disebabkan oleh minimnya maestro baru dan kecenderungan pembacaan yang lebih mementingkan aspek eksternal daripada makna puisi.
Dedikasi pada Teater Anak dan Dampaknya
Sejak tahun 1978, Jose Rizal Manua mulai fokus pada teater anak-anak. Hal ini berawal dari banyaknya permintaan orang tua yang ingin anak mereka belajar teater di TIM.
Ia mendirikan Teater Tanah Air pada tahun 1988, yang kini dikenal luas karena berhasil meraih berbagai penghargaan internasional, termasuk Juara Dunia di Festival Teater Anak-anak di Jerman pada tahun 2008.
Menurutnya, teater anak memiliki potensi besar untuk membentuk karakter, meningkatkan rasa percaya diri, dan menumbuhkan semangat gotong royong.
Namun, ia mengamati bahwa banyak pelatih teater anak yang kurang memahami psikologi anak dan cenderung "mengintervensi" mereka, sehingga pertunjukan terkesan seperti orang dewasa yang disuruh.
Jose Rizal Manua menekankan pentingnya menjaga suasana "bermain" dalam latihan teater anak-anak, karena pendekatan ini membuat mereka nyaman dan bersemangat.
Secara keseluruhan, perjalanan Jose Rizal Manua bukan hanya sekadar kisah pribadi, melainkan cerminan dari dinamika dan perubahan yang terjadi dalam dunia seni di Indonesia, khususnya teater dan puisi.
Dedikasinya pada teater anak telah membuktikan bahwa seni tidak hanya menjadi hiburan, tetapi juga alat pendidikan yang kuat. (*)
Editor : M. Subchan Abdullah