BLITAR KAWENTAR - Di tengah modernisasi yang kian pesat, masyarakat Desa Wajak, Tulungagung, Jawa Timur, masih setia melestarikan kesenian Tiban.
Tradisi ini bukan sekadar pertunjukan cambuk, tetapi menyimpan makna mendalam: doa kolektif memohon hujan, sejarah perjuangan, hingga simbol kearifan lokal yang terus hidup lintas generasi.
Tiban berasal dari kata “tiba” yang berarti jatuh, melambangkan turunnya hujan secara tiba-tiba. Sejak dahulu, ritual ini dipentaskan masyarakat saat kemarau panjang sebagai permohonan hujan, sejalan dengan tradisi Islam berupa salat istisqa.
Dalam pertunjukan, dua pemain saling mencambuk dengan rotan atau bambu, masing-masing mendapat tiga kesempatan, lalu menutupnya dengan saling berjabat tangan sebagai tanda damai.
Dari sisi sejarah, Tiban tidak hanya berkaitan dengan ritual hujan. Catatan lisan menyebutkan bahwa Tumenggung Surontani II dari Wajak pernah menggunakan kesenian ini untuk mengumpulkan jawara menghadapi Mataram.
Konflik itu berujung pertempuran yang menewaskan banyak prajurit, dan meninggalkan jejak Tiban sebagai simbol keberanian sekaligus alat pemersatu masyarakat.
Kini, kesenian Tiban berkembang sebagai seni pertunjukan yang kerap diundang ke Blitar, Trenggalek, Kediri, hingga Ponorogo. Menurut Kepala Desa Wajak Lor, Aris Febrianto, serta Ketua Paguyuban Tiban Setiaki, kesenian ini juga mengalami penyesuaian. Jika dahulu dimainkan di tanah lapang, kini lebih sering dipentaskan di panggung demi keamanan penonton dan pemain.
Pemerintah memandang Tiban sebagai aset budaya lokal yang layak dijaga, sejalan dengan upaya pelestarian warisan budaya takbenda.
Masyarakat Wajak menilai Tiban bukan hanya hiburan, melainkan identitas desa yang menumbuhkan rasa bangga dan solidaritas.
Akademisi/pengamat budaya melihat Tiban sebagai contoh sinkretisme: perpaduan nilai religi, agraris, dan historis. Selain itu, Tiban mencerminkan fungsi kesenian rakyat sebagai sarana ritual, hiburan, dan politik sosial.
Dampak sosial–ekonomi tampak dari meningkatnya daya tarik wisata budaya, yang berpotensi mendukung UMKM lokal dan pariwisata daerah. Dari sisi politik, pelestarian Tiban juga menjadi simbol komitmen pemerintah daerah terhadap kearifan lokal.
Kesenian Tiban bukan sekadar tradisi saling mencambuk. Ia adalah doa, sejarah perjuangan, sekaligus identitas budaya masyarakat Wajak. Di era modern, transformasi Tiban dari ritual agraris menjadi seni pertunjukan menunjukkan bahwa budaya bisa bertahan jika diwariskan dengan adaptasi. Dengan dukungan pemerintah, masyarakat, dan penggiat budaya, Tiban berpeluang besar menjadi ikon budaya Jawa Timur yang mendunia. (*)