BLITAR KAWENTAR - Tiban, kesenian tradisional yang mengalami transformasi makna dari ritual permohonan hujan menjadi pertunjukan seni budaya. Kesenian yang tersebar di wilayah Trenggalek, Blitar, Kediri, dan Ponorogo ini memiliki akar sejarah yang terkait dengan periode pemerintahan Sultan Mataram pada abad ke-17.
Nama "Tiban" berasal dari kata Jawa "tiba" yang berarti jatuh, merujuk pada harapan turunnya hujan secara mendadak. Ritual ini pada awalnya dilaksanakan sebagai bentuk permohonan kepada Tuhan untuk menurunkan hujan saat musim kemarau panjang, serupa dengan salat istisqa dalam tradisi Islam.
Asal-Usul Historis: Dari Perlawanan hingga Tradisi
Menurut penuturan Muhadikasbun Hirokarso, tokoh sesepuh Wajak, Tari Tiban memiliki akar sejarah yang terkait dengan konflik antara Tumenggung Surontani II Kertokusumo dengan Kesultanan Mataram. Dalam versi ini, Tumenggung Surontani menggunakan pertunjukan Tiban untuk mengumpulkan para jawara guna menghadapi peperangan dengan Mataram.
Kepala Desa Wajak Lor, Aris Febrianto, memberikan versi yang sedikit berbeda. Menurutnya, Tari Tiban bermula dari sayembara yang diadakan Tumenggung Kertokusumo untuk mencari bibit unggul yang memiliki kesaktian untuk menjaga keamanan wilayah Wajak setelah periode pemulihan pascakonflik dengan Mataram.
"Kronologi awalnya Tiban itu untuk sayembara mengambil orang sakti yang berada di Desa Wajak Lor ini untuk menjaga keamanan," jelas Aris Febrianto.
Ritual dan Makna Simbolis
Dalam praktik tradisionalnya, Tari Tiban melibatkan dua pemain yang saling berbalas cambuk menggunakan cambuk bambu yang menyerupai rotan.
Setiap pemain mendapat kesempatan yang sama untuk melepaskan tiga kali cambukan, dan pertunjukan diakhiri dengan jabat tangan sebagai simbol pemaafan.
Ansori, ketua Paguyuban Kesenian Tiban Sentiyaki, menjelaskan bahwa makna di balik ritual ini bukan kekerasan, melainkan nilai-nilai luhur tentang menjaga keseimbangan alam dan harmoni sosial. "Bukanlah kekerasan yang ditonjolkan melainkan nilai-nilai luhur atau sebuah pesan untuk menjaga keseimbangan alam," ungkapnya.
Transformasi Modern dan Pelestarian
Dalam perkembangannya, Tari Tiban mengalami adaptasi untuk menyesuaikan dengan kondisi modern. Jika dahulu pertunjukan dilakukan di tanah lapang, kini sering dipentaskan di atas panggung demi keamanan dan antisipasi konflik yang tidak diinginkan.
Perubahan makna juga terjadi dari ritual permohonan hujan menjadi pertunjukan kesenian murni. "Kalau sekarang ini tradisional kesenian Tiban itu bukan mendatangkan hujan, cuman buat kesenian aja," kata Aris Febrianto.
Grup Sentiyaki dari Wajak telah menjadi terkenal dan sering diundang tampil di berbagai daerah seperti Blitar dan Trenggalek, menunjukkan eksistensi kesenian ini di tingkat regional.
Perspektif Akademis dan Budaya
Dari sudut pandang antropologi budaya, Tari Tiban merepresentasikan adaptasi kesenian tradisional terhadap perubahan zaman. Dr. Soedarso, pengamat budaya Jawa dari Universitas Brawijaya, melihat transformasi ini sebagai bentuk resiliensi budaya lokal dalam mempertahankan eksistensi.
"Perubahan dari ritual sakral menjadi pertunjukan seni menunjukkan kemampuan budaya lokal beradaptasi tanpa kehilangan identitas," ungkap Soedarso.
Dampak Sosial dan Ekonomi
Secara sosial, pelestarian Tari Tiban memperkuat identitas budaya masyarakat Jawa Timur dan menjadi media pembelajaran nilai-nilai tradisional bagi generasi muda. Dari aspek ekonomi, kesenian ini membuka peluang ekonomi kreatif melalui pertunjukan dan pariwisata budaya.
Pemerintah Kabupaten Tulungagung telah memasukkan Tari Tiban dalam program pelestarian warisan budaya daerah, dengan harapan dapat menjadi daya tarik wisata budaya yang berkelanjutan.
Meski masih eksis, Tari Tiban menghadapi tantangan regenerasi pelaku seni dan kompetisi dengan hiburan modern. Perubahan gaya hidup masyarakat dan urbanisasi menjadi ancaman bagi keberlangsungan tradisi ini.
Tari Tiban Wajak menunjukkan dinamika budaya tradisional yang mampu bertransformasi sambil mempertahankan esensi nilai-nilai luhurnya. Dari ritual permohonan hujan hingga menjadi seni pertunjukan, kesenian ini membuktikan bahwa tradisi dapat bertahan dengan melakukan adaptasi yang bijaksana terhadap perkembangan zaman, sambil tetap menjaga makna filosofis tentang keseimbangan alam dan harmoni sosial. (*)
Editor : M. Subchan Abdullah