BLITAR - Di pedesaan Jawa, tradisi Kejawen masih menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Namun, kisah seorang nenek di Mojokerto memperlihatkan bagaimana beratnya menjaga warisan leluhur yang penuh mistis.
Sang nenek dikenal sebagai penjaga tradisi yang disiplin. Sejak muda, ia memimpin ritual-ritual Kejawen yang berkaitan dengan sesaji, larungan, hingga pemanggilan leluhur. Baginya, semua itu bukan sekadar ritual, melainkan kewajiban untuk menjaga keseimbangan kampung dan ketenangan warga.
Namun, di balik kesetiaan itu, sang nenek ternyata memikul beban yang tidak ringan. Setiap kali ada ritual, ia harus menyediakan sesaji, berpantang makanan tertentu, bahkan mengasingkan diri untuk berpuasa. Beban spiritual ini semakin terasa berat seiring bertambahnya usia.
“Saya jalani karena ini sudah jadi warisan keluarga. Dari mbah buyut, turun ke ibu, lalu ke saya. Tapi semakin tua, rasanya capek sekali,” tutur sang nenek kepada warga yang sering mendengar curahan hatinya.
Ketika tiba saatnya estafet warisan diberikan, anak-anak sang nenek justru menolak. Mereka mengaku tidak sanggup melanjutkan tradisi tersebut. Alasannya sederhana: zaman sudah berubah, dan mereka ingin menjalani hidup lebih normal tanpa dibebani ritual mistis yang mengikat.
“Bukan berarti kami tidak menghormati leluhur, tapi kami tidak mau terikat. Bebannya terlalu berat. Harus siap dengan larangan ini-itu, harus jalani puasa dan tirakat yang tidak semua orang kuat,” ungkap sang anak.
Keputusan ini tentu menimbulkan dilema. Bagi sang nenek, menghentikan tradisi sama saja dengan memutus ikatan dengan leluhur. Namun, ia juga memahami kondisi anak-anaknya. Dunia modern membuat generasi muda lebih memilih rasionalitas dibanding dunia mistis.
Di kampung, kabar penghentian tradisi ini sempat menimbulkan bisik-bisik. Sebagian warga khawatir, tanpa penjaga ritual, kampung akan kembali diganggu makhluk halus seperti lampor atau pocong yang kerap diceritakan di masa lalu. Namun sebagian lagi justru mendukung keputusan keluarga tersebut.
“Sekarang zaman sudah beda. Anak-anak muda lebih mikir kerja, sekolah, dan masa depan. Kalau terus terikat tradisi berat, mereka bisa susah berkembang,” kata seorang warga yang mendukung langkah keluarga itu.
Fenomena ini menggambarkan benturan antara tradisi dan modernisasi. Di satu sisi, ada kepercayaan turun-temurun yang diyakini menjaga harmoni desa. Di sisi lain, ada generasi muda yang lebih memilih jalur praktis dan rasional.
Sang nenek pun akhirnya merelakan. Ia berhenti menjalankan beberapa ritual besar, meski masih sesekali membuat sesaji sederhana untuk menghormati leluhur. “Yang penting hati tetap hormat, walau caranya berbeda,” ujarnya pasrah.
Kisah ini menunjukkan bagaimana warisan budaya tidak selalu mudah dilanjutkan. Terkadang, generasi penerus merasa terlalu berat untuk menjaga tradisi, apalagi jika berbenturan dengan cara hidup modern.
Kini, tradisi Kejawen yang dijalani sang nenek praktis terhenti. Namun, cerita tentang perjuangannya tetap menjadi bagian dari memori warga Mojokerto. Sebuah kisah tentang cinta leluhur, benturan generasi, dan pilihan hidup yang tidak mudah.
Editor : Anggi Septian A.P.