BLITAR KAWENTAR - Game daring Roblox, yang populer di kalangan anak-anak hingga dewasa, kini menghadapi ancaman pemblokiran dari pemerintah Indonesia. Di balik keseruannya, platform ini menyimpan serangkaian kontroversi serius yang menjadikannya celah bagi para pelaku kejahatan siber.
Roblox, dengan jutaan pengguna aktif setiap bulan, telah menjadi fenomena global. Namun, tingginya interaksi di platform ini juga membuka ruang bagi oknum tak bertanggung jawab untuk melancarkan aksinya.
Pemerintah Indonesia melihat situasi ini sebagai ancaman dan sedang mempertimbangkan untuk memblokir game tersebut demi keselamatan pemain. Lantas, kejahatan apa saja yang terjadi di balik dunia virtual Roblox?
Perjudian Anak dan Kehilangan Miliaran Rupiah
Salah satu kontroversi terbesar adalah adanya platform perjudian di dalam Roblox. Meskipun tidak dipublikasikan secara terang-terangan, kasino-kasino virtual ini dapat diakses oleh semua pengguna yang memiliki akun, tanpa verifikasi usia.
Hal ini dimanfaatkan oleh anak-anak di bawah umur, seperti kasus seorang remaja 14 tahun asal Amerika Serikat bernama Robert, yang kehilangan hingga Rp3 miliar akibat kecanduan berjudi di game ini.
Kasino-kasino seperti Block Flip, Block Moon, dan RBLX Wild diketahui menggunakan Roblox untuk menjaring pelanggan. Sebuah laporan menyebutkan ketiga kasino ini menghasilkan 2,8 juta pengunjung per bulan dan menerima taruhan hingga jutaan pound sterling.
Total kerugian pengguna dari salah satu kasino, Blues Moon, dilaporkan mencapai sekitar Rp13 miliar.
Ancaman Pelecehan hingga Penculikan
Roblox juga menjadi wadah bagi kasus pelecehan dan pemerasan daring. Seorang pria berinisial AMZ (20) asal Balikpapan, Kalimantan Timur, ditangkap atas dugaan pemerasan terhadap gadis 15 tahun asal Swedia.
Keduanya berkenalan di Roblox, kemudian komunikasi mereka berlanjut ke platform lain. Pelaku mengancam korban dengan foto-foto tidak senonoh yang pernah dikirimnya, dan meminta uang senilai Rp800.000.
Kasus ini berakhir setelah keluarga korban melapor ke otoritas Swedia, yang berkoordinasi dengan kepolisian Indonesia untuk menangkap pelaku.
Ruang Terbuka untuk Konten Berbahaya
Penelitian dari lembaga Revealing Reality menemukan bahwa anak-anak dan orang dewasa bisa dengan mudah berinteraksi di ruang virtual yang sama tanpa verifikasi usia yang memadai.
Bahkan, anak di bawah umur bisa mengakses lingkungan yang tidak pantas, seperti hotel virtual dengan karakter berpakaian minim, atau "klub malam" virtual yang disebut Boys and Girls Club Role Play.
Roblox, sebagai platform yang seharusnya menjadi tempat hiburan, kini menghadapi tantangan besar dalam melindungi penggunanya.
Meskipun secara mendasar game ini dapat digunakan untuk mengajarkan pemrograman dan kewirausahaan, kasus-kasus kriminal dan konten berbahaya menunjukkan perlunya pengawasan ketat, baik dari platform itu sendiri maupun dari orang tua.
Rencana pemblokiran oleh pemerintah Indonesia menjadi respons atas urgensi ini. Apakah langkah ini akan efektif dalam melindungi anak-anak dari bahaya digital? (*)