Bahaya di Balik Layar Roblox: Mengapa Pemerintah Berencana Memblokir?
Rahma Nur Anisa• Jumat, 12 September 2025 | 17:00 WIB
Platform game online yang digemari oleh jutaan orang dari berbagai usia, kini menjadi sorotan tajam.
BLITAR KAWENTAR - Roblox, platform game online yang digemari oleh jutaan orang dari berbagai usia, kini menjadi sorotan tajam. Di balik popularitasnya, game ini menyimpan celah berbahaya yang dimanfaatkan oleh oknum tak bertanggung jawab.
Serangkaian kasus kriminal, mulai dari perjudian, pelecehan, hingga penculikan, telah memicu rencana pemerintah untuk memblokir akses ke game ini.
Perjudian dan Kekerasan Tersembunyi
Salah satu kekhawatiran terbesar terhadap Roblox adalah kemudahan aksesnya ke konten-konten negatif, bahkan bagi anak di bawah umur. Sebuah laporan menemukan adanya kasino-kasino virtual, seperti
Block Flip dan RBLX Wild, yang beroperasi di dalam game ini. Tanpa verifikasi usia yang ketat, anak-anak dapat dengan mudah terlibat dalam aktivitas perjudian.
Hal ini terbukti dari kasus seorang remaja 14 tahun di Amerika yang kehilangan uang hingga Rp3 miliar akibat kecanduan judi di platform ini. Total kerugian yang diderita pemain di salah satu kasino virtual bahkan mencapai Rp13 miliar.
Selain itu, sebuah studi oleh lembaga Revealing Reality menemukan bahwa anak-anak dapat dengan mudah berinteraksi dengan orang dewasa dan mengakses lingkungan yang tidak pantas, seperti klub malam virtual.
Terdapat juga kelompok-kelompok di Roblox yang membuat konten ekstrem dan berbahaya, misalnya simulasi penembakan massal. Konten semacam ini dinilai dapat menormalisasi kekerasan dan menyebarkan ideologi ekstremis di kalangan pemain muda.
Rentan Terhadap Pemerasan dan Kejahatan Daring Lainnya
Keamanan di Roblox juga dipertanyakan karena platform ini menjadi sarana bagi kejahatan siber. Kasus pelecehan dan pemerasan yang menimpa seorang gadis 15 tahun asal Swedia oleh pria asal Balikpapan menjadi bukti nyata.
Pelaku memanfaatkan perkenalan di Roblox untuk memeras korban, yang berujung pada penangkapan setelah keluarga korban melapor ke polisi Swedia.
Kasus serupa juga terjadi di Amerika Serikat. Seorang pria di California ditangkap karena menculik anak di bawah umur yang dikenalnya dari Roblox. Dalam kasus lain, seorang pria di Florida menyamar sebagai anak perempuan 13 tahun untuk memeras foto dan video tak senonoh dari seorang anak laki-laki.
Meskipun Roblox memiliki sisi positif, seperti membantu anak-anak belajar pemrograman dan kewirausahaan, platform ini perlu diawasi lebih ketat. Dengan lebih dari 200 juta pengguna aktif setiap bulan, keamanan digital anak-anak menjadi isu krusial yang tidak bisa diabaikan.
Keputusan pemerintah Indonesia untuk mempertimbangkan pemblokiran Roblox adalah respons terhadap kekhawatiran ini. Langkah ini menunjukkan bahwa perlindungan anak di ranah digital kini menjadi prioritas, dan orang tua diharapkan dapat lebih proaktif dalam mengawasi aktivitas daring buah hatinya. (*)