Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Kutukan Liverpool: 30 Tahun Puasa Gelar Premier League Usai Karena Klopp

Ichaa Melinda Putri • Sabtu, 20 September 2025 | 18:00 WIB
Kutukan Liverpool: 30 Tahun Puasa Gelar Premier League Usai Karena Klopp
Kutukan Liverpool: 30 Tahun Puasa Gelar Premier League Usai Karena Klopp

BLITAR-Liverpool FC dikenal sebagai klub besar Inggris dengan tradisi juara. Namun, ada satu babak kelam dalam sejarah mereka: puasa gelar liga selama 30 tahun. Sejak 1990, The Reds tak pernah lagi merasakan trofi liga, hingga akhirnya Jurgen Klopp datang dan mematahkan kutukan itu pada musim 2019/20.

Awal Puasa Gelar

Liverpool terakhir kali menjuarai Liga Inggris pada musim 1989/90 di bawah manajer Kenny Dalglish. Saat itu, mereka menjadi klub tersukses dengan koleksi 18 gelar liga. Namun, setelah era Dalglish, performa Liverpool menurun.

Kejatuhan ini sering dikaitkan dengan dua tragedi besar: Heysel 1985 dan Hillsborough 1989. Kedua peristiwa itu tidak hanya melukai para fans, tetapi juga memengaruhi mentalitas dan atmosfer klub. Sejumlah pengamat bahkan menyebutnya sebagai “kutukan Liverpool”.

Hampir Saja Berakhir

Selama 30 tahun, Liverpool berkali-kali nyaris mengakhiri puasa gelar. Musim 2008/09, skuad Rafael Benitez tampil luar biasa dengan duet Steven Gerrard dan Fernando Torres, tapi gagal menyalip Manchester United.

Yang paling menyakitkan tentu musim 2013/14, ketika Liverpool asuhan Brendan Rodgers hampir juara. Namun, insiden ikonik Steven Gerrard yang tergelincir saat melawan Chelsea membuat asa juara runtuh. Fans rival masih sering mengejek momen ini dengan sebutan “the slip”.

Klopp Datang Membawa Harapan

Segalanya berubah ketika Jurgen Klopp ditunjuk sebagai manajer pada Oktober 2015. Pelatih asal Jerman ini membawa filosofi gegenpressing dan semangat kolektif.

Dalam beberapa musim, Klopp membangun skuad impian dengan Mohamed Salah, Sadio Mané, Roberto Firmino, dan Virgil van Dijk. Hasilnya, Liverpool kembali menjuarai Liga Champions pada 2019. Itu menjadi pertanda kebangkitan.

Akhir Kutukan 30 Tahun

Penantian panjang akhirnya berakhir pada musim 2019/20. Liverpool tampil dominan sejak awal musim dan memastikan gelar Premier League meski kompetisi sempat tertunda akibat pandemi Covid-19.

Dengan 99 poin, The Reds mengakhiri kutukan 30 tahun tanpa gelar liga. Para Kopites di seluruh dunia pun merayakan momen bersejarah ini, meski harus menahan diri dari pesta besar karena pandemi.

Sejarawan sepak bola, Simon Hughes, mengatakan, “Kemenangan Liverpool pada 2020 bukan sekadar soal trofi, tapi simbol bahwa klub ini mampu bangkit dari trauma masa lalu.”

Lebih dari Sekadar Gelar

Bagi banyak fans, gelar 2020 terasa istimewa. Bukan hanya karena memutus penantian tiga dekade, tetapi juga karena mempertegas identitas Liverpool sebagai klub yang tak pernah menyerah.

Meski sempat jatuh ke titik terendah, termasuk gagal menembus Liga Champions di era 1990-an, Liverpool selalu punya basis fans setia yang tetap bernyanyi, You’ll Never Walk Alone.

Kini, setelah Klopp membuka jalan, banyak yang percaya bahwa Liverpool sudah keluar dari bayang-bayang kutukan. Klub ini kembali masuk jajaran elit dunia, bersaing ketat dengan Manchester City, Arsenal, dan Chelsea.

Kutukan yang Jadi Legenda

Kutukan 30 tahun ini kini justru menjadi bagian dari cerita besar Liverpool. Dari tragedi, kegagalan pahit, hingga akhirnya bangkit bersama Klopp, semua membentuk kisah epik yang akan selalu diceritakan dari generasi ke generasi.

Editor : Anggi Septian A.P.
#liverpool fc #kutukan #tahun #30