BLITAR – Polemik penghentian audisi bulu tangkis PB Djarum oleh Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) sempat mengguncang dunia olahraga Tanah Air. Keputusan itu dinilai bisa mengancam regenerasi atlet bulu tangkis Indonesia.
Pasangan ganda putra senior Hendra Setiawan dan Mohammad Ahsan, yang akrab disapa The Daddies, angkat bicara soal dampak penghentian tersebut. Menurut mereka, jika audisi benar-benar berhenti, bibit atlet di daerah akan kehilangan kesempatan emas untuk mengembangkan bakatnya.
“Kalau itu diputus ya sangat rugi. Anak-anak di daerah kehilangan kesempatan. PB Djarum itu jemput bola sampai pelosok,” kata Ahsan.
PB Djarum selama ini dikenal sebagai salah satu klub yang paling konsisten melakukan penjaringan atlet muda. Klub yang berbasis di Kudus itu tidak hanya mencari talenta di kota besar, tetapi juga turun langsung ke daerah untuk menggelar audisi.
Hendra menambahkan, keberadaan audisi sangat membantu keluarga yang tidak memiliki akses atau dana untuk membawa anak mereka ke pusat pelatihan. “Tidak semua orang mampu ke Jakarta atau kota besar. PB Djarum datang langsung dan memberi fasilitas terbaik. Itu yang bikin kami prihatin kalau sampai berhenti,” ujarnya.
Kontroversi sempat muncul ketika KPAI menilai audisi tersebut sarat promosi rokok karena menggunakan nama brand perusahaan. PB Djarum sempat menghentikan audisi pada 2019 sebelum akhirnya menemukan solusi agar program tetap berjalan tanpa melanggar aturan.
Menurut The Daddies, peran klub swasta seperti PB Djarum sangat krusial untuk menjaga tradisi bulu tangkis Indonesia. “Kalau tidak ada audisi, jumlah atlet yang bisa bersaing di level dunia pasti makin sedikit,” kata Hendra.
Selain membahas soal audisi, Hendra dan Ahsan juga menyinggung pentingnya pembinaan sejak usia dini. Mereka mengaku mulai serius berlatih sejak usia 6–7 tahun. “Kalau mulai terlambat, sulit bersaing di level internasional. Latihan itu harus dari kecil,” ucap Ahsan.
Pasangan ini juga menyoroti ketatnya persaingan ganda putra dunia saat ini. Mereka menyebut negara seperti India, Jepang, hingga Taipei kini punya pasangan yang mampu bersaing di level top. “Sekarang semua negara punya juara. Jadi kami harus lebih cerdas main, bukan hanya mengandalkan tenaga,” kata Hendra.
Meski usia mereka tak lagi muda – Hendra 39 tahun dan Ahsan 36 tahun – keduanya masih bertahan di papan atas ranking dunia. Mereka mengaku tetap latihan dua kali sehari untuk menjaga performa. “Kalau sudah terlalu capek, kita istirahat. Recovery penting supaya tidak cedera,” tambah Hendra.
The Daddies berharap regenerasi bulu tangkis di Indonesia terus berjalan lancar. Mereka mendorong agar klub-klub daerah tetap diberi ruang mengembangkan bibit. “Kalau ada dukungan dari semua pihak, prestasi bulu tangkis Indonesia bisa bertahan lama,” kata Ahsan menutup.
Editor : Anggi Septian A.P.