BLITAR – Tak banyak yang tahu, di balik gelar juara dunia dan peringkat tiga dunia saat ini, pasangan ganda putra kebanggaan Indonesia Hendra Setiawan dan Mohammad Ahsan alias The Daddies ternyata pernah melewati masa-masa berat yang membuat mereka menangis.
Kisah ini terungkap dalam sebuah wawancara santai yang membahas perjalanan karier keduanya. Hendra, yang tahun ini menginjak usia 39 tahun, dan Ahsan yang kini berusia 36 tahun, masih aktif bertanding di level dunia. Namun perjuangan mereka ternyata tak semulus yang terlihat di layar kaca.
“Orang tahunya kita enak, sudah juara, sudah punya nama. Padahal, di belakang layar kita pernah nangis-nangis. Nangis karena sakit, kalah, atau karena merasa sudah habis,” ungkap Ahsan, mengenang momen jatuh-bangun mereka.
The Daddies sempat berpisah setelah Olimpiade 2016. Hendra memilih pasangan baru, begitu pula Ahsan. Namun, setahun kemudian keduanya memutuskan kembali bersama. Keputusan ini menjadi titik balik perjalanan mereka hingga akhirnya sukses meraih gelar juara All England 2019.
“Waktu memutuskan kembali itu kita mikir, ‘Bisa enggak ya masih bersaing? Sudah agak berat nih.’ Tapi ternyata masih bisa, malah juara All England dan lanjut juara dunia,” kata Hendra.
Perjalanan mereka menuju puncak tak hanya soal latihan di lapangan. Hendra dan Ahsan juga harus mengatur keuangan sendiri sejak memutuskan keluar dari Pelatnas. Mereka tetap boleh memakai fasilitas latihan, tetapi semua biaya kejuaraan ditanggung pribadi.
Untungnya, dukungan sponsor seperti usaha kuliner lokal membantu meringankan beban. “Kalau kejuaraan ya biaya sendiri. Hadiah pun kita nikmati sendiri. Jadi support sponsor itu penting banget,” ujar Ahsan.
Kisah Hendra bermula dari Palembang, kota yang saat itu belum dikenal sebagai pusat bulu tangkis. Ia harus hijrah ke Jakarta agar bisa bersaing. “Di Palembang susah kalau mau masuk level nasional, akhirnya keluarga putuskan saya pindah ke Keragunan, lalu ke klub Jaya Raya,” kata Hendra.
Sementara Ahsan berasal dari Pemalang. Ia juga harus menjalani seleksi ketat untuk bisa diterima di klub besar. “Saya ikut training tiga bulan di Jaya Raya baru diterima. Untung enggak harus bayar,” ujarnya.
Keduanya kemudian menjadi pasangan tetap pada 2012. Sejak saat itu, prestasi demi prestasi berhasil mereka raih, termasuk tiga gelar juara dunia dan medali emas Asian Games 2014.
Namun, bertambahnya usia membuat mereka harus mengubah gaya permainan. “Sekarang kita enggak bisa lagi andalkan tenaga. Harus lebih banyak main strategi, penempatan bola, dan atur tempo,” ujar Hendra.
Mereka pun menjaga kondisi dengan latihan teratur, dua kali sehari. Pagi latihan teknik, sore fokus fisik. Namun keduanya tak memaksakan diri jika tubuh sudah lelah. “Kalau dipaksa, besoknya sakit semua. Recovery lebih lama sekarang,” kata Ahsan.
Meski begitu, semangat mereka tak luntur. Mereka ingin terus bermain selama tubuh masih mampu. “Kalau bisa main, ya main terus. Sekuatnya,” tegas Hendra.
Kisah inspiratif ini membuat banyak penggemar semakin hormat pada keduanya. Mereka bukan hanya simbol prestasi, tetapi juga contoh ketekunan, kerja keras, dan kematangan mental.
Dengan persaingan ganda putra dunia yang semakin merata, The Daddies tetap berkomitmen untuk tampil kompetitif. Mereka juga berharap generasi muda bulu tangkis Indonesia siap melanjutkan estafet kejayaan.
“Regenerasi penting. Anak-anak harus serius dari kecil, kalau mau jadi juara dunia. Enggak bisa tiba-tiba,” pesan Ahsan.
Perjalanan Hendra dan Ahsan membuktikan bahwa menjadi juara bukan hanya soal bakat, tetapi juga tentang keteguhan hati. Bahkan juara dunia pun pernah menangis — dan dari air mata itulah lahir semangat untuk terus berjuang.
Editor : Anggi Septian A.P.