BLITAR – Sejarah panjang peradaban manusia selalu ditandai dengan perubahan besar akibat teknologi. Jika dulu revolusi industri mengubah nasib petani, kini revolusi AI membuat banyak pekerja modern resah menghadapi ancaman kehilangan pekerjaan.
Sejak 1750-an, revolusi industri menggeser pola hidup masyarakat dari agraris ke industri. Undang-undang enclosure acts di Inggris memaksa petani kecil meninggalkan tanahnya dan mencari kerja di kota. Mereka berbondong-bondong menjadi buruh pabrik dengan upah murah. “Sejarah mencatat, perubahan teknologi tidak hanya membawa kemajuan, tapi juga menimbulkan korban sosial,” ujar seorang pengamat sejarah dalam narasi yang diunggah di YouTube.
Kini, di abad ke-21, revolusi teknologi bergeser ke era kecerdasan buatan (AI). Sama seperti 200 tahun lalu, perkembangan ini membawa dua sisi mata uang: kemudahan sekaligus ketakutan. Digitalisasi, otomatisasi, dan AI membuat banyak pekerjaan bisa digantikan oleh mesin pintar.
Fenomena ini membuat kekhawatiran meningkat di kalangan pekerja. Dari sektor industri hingga kreatif, banyak yang bertanya-tanya apakah profesi mereka masih relevan. “Dulu petani terusir dari tanah, sekarang buruh pabrik dan karyawan kantoran takut digantikan mesin,” tambah narasi tersebut.
Sejarah sebenarnya sudah menunjukkan pola berulang. Setiap kali teknologi maju pesat, lapangan kerja lama tergeser, sementara jenis pekerjaan baru bermunculan. Di masa revolusi industri pertama, mesin tenun dan mesin uap mengurangi kebutuhan tenaga manusia di bidang tekstil. Namun, industri transportasi, logistik, dan permesinan kemudian lahir sebagai sektor baru.
Hal serupa juga terjadi pada revolusi industri kedua di akhir abad ke-19. Kehadiran listrik, baja, dan telepon mengubah cara manusia bekerja. Di satu sisi, muncul masalah sosial seperti kemiskinan dan sanitasi buruk di kota. Di sisi lain, lahir pula peluang di sektor energi, komunikasi, dan transportasi modern.
Kini, revolusi AI tengah menjadi babak baru dalam sejarah. Teknologi ini mampu menulis artikel, mendesain grafis, menganalisis data, hingga mengemudi kendaraan. Tak heran, profesi jurnalis, desainer, sopir, bahkan tenaga medis ikut merasa terancam.
Namun, para ahli menilai ketakutan ini harus disikapi dengan bijak. AI tidak hanya menghapus pekerjaan lama, tapi juga membuka peluang kerja baru yang sebelumnya tak pernah ada. Misalnya, kebutuhan tenaga ahli AI, analis data, hingga pengembang perangkat lunak semakin meningkat.
Selain itu, adaptasi menjadi kunci. Seperti petani yang dulu beralih profesi menjadi buruh pabrik, pekerja modern pun perlu meningkatkan keterampilan digital. Pelatihan teknologi, literasi AI, hingga kreativitas manusia yang tak bisa ditiru mesin akan menjadi modal utama bertahan di era ini.
Meski begitu, kecepatan perubahan di era digital memang jauh lebih cepat dibanding revolusi industri. Jika dulu butuh puluhan tahun agar mesin tenun menggantikan pekerja, kini AI bisa mengambil alih pekerjaan dalam hitungan bulan. Hal ini membuat rasa was-was pekerja semakin besar.
Kekhawatiran lain muncul pada sisi etika dan sosial. Bagaimana nasib pekerja yang kehilangan pekerjaan? Apakah pemerintah siap memberi perlindungan sosial? Bagaimana agar perkembangan AI tidak hanya menguntungkan perusahaan besar, tapi juga memberi manfaat bagi masyarakat luas?
Sejarah memberi pelajaran bahwa teknologi tidak bisa dihentikan. Namun, manusia bisa mengendalikan arah pemanfaatannya. Dengan kebijakan tepat, revolusi AI bisa menjadi peluang, bukan ancaman.
“Teknologi harus ditempatkan sebagai alat, bukan penguasa. Manusia tetap pemegang kendali,” tegas narasi dalam video.
Pada akhirnya, perjalanan sejarah dari revolusi industri hingga revolusi AI menunjukkan bahwa perubahan adalah keniscayaan. Pilihannya, apakah kita hanya jadi korban perubahan, atau justru mengambil peran aktif menciptakan masa depan
Editor : Anggi Septian A.P.