Novel 18 Tahun Menantang Sensor: Kisah "Para Pelacur dalam Perahu" Seno Gumira Ajidarma
Rahma Nur Anisa• Minggu, 21 September 2025 | 03:00 WIB
Novel kontroversial Seno Gumira Ajidarma yang ditolak penerbit karena kata
BLITAR KAWENTAR - Setelah menunggu selama 18 tahun, novel "Para Pelacur dalam Perahu" karya Seno Gumira Ajidarma akhirnya menemukan pembacanya.
Karya yang mulai ditulis pada 2003 ini mengalami penolakan dari penerbit karena penggunaan kata "pelacur" dalam judulnya, sebelum diselesaikan pada masa pandemi 2021.
Novel ini bermula dari naskah sandiwara "Tum Mirah Sang Mucikari" yang berlatar Aceh. Seno mengisahkan bagaimana cerita berkembang menjadi perjalanan para perempuan dalam perahu menyusuri sungai-sungai di berbagai benua.
Inspirasi setting sungai berasal dari pengalaman penulis di pedalaman Kalimantan pada 1981, ketika melakukan perjalanan menuju kampung Dayak Kenyah.
"Ketika saya ke Kalimantan, ke pedalaman untuk menuju satu kampung Dayak Kenyah itu perlu 2-3 hari. Sungainya mau ke mana, di atas perahu 2-3 hari itu," kenang Seno dalam diskusi di Buku Akik, Yogyakarta.
Pengalaman tersebut memberikan gambaran kehidupan sungai yang kemudian menjadi latar perjalanan 29 tokoh dalam novel ini - 20 pelacur, satu mucikari, dan delapan pekerja lainnya.
Penolakan penerbit pada 2003 karena kata "pelacur" dalam judul mencerminkan sensitivitas terhadap terminologi tertentu. Namun Seno mempertahankan pilihannya dengan alasan estetis.
"Pelacur itu puitis makanya saya ada kutipan syairnya Bimbo. Bimbo memang itu inspiring sekali buat saya, jadi pelacur dihubungkan dengan cinta dan mendapat simpati yang besar," jelasnya.
Penulis menolak mengganti dengan istilah yang dianggap lebih "politis benar" seperti "pekerja seks" karena menurutnya kata "pelacur" memiliki dimensi puitis yang telah digunakan dalam tradisi sastra Indonesia oleh penyair-penyair seperti Chairil Anwar dan W.S. Rendra.
Novel ini ditulis dengan teknik unik dimana setiap bab dibagi menjadi tiga bagian pendek masing-masing 500-600 kata. Teknik ini digunakan Seno untuk mengatasi kebuntuan kreatif. "Kalau satu bab itu 2000 kata, saya bisa mandek. Ya sudah 2000 bagi 3, tinggal bertugas ngisi 600-500-600, cepat setelah itu ganti lagi," ungkapnya.
Periode panjang antara konsepsi awal (2003) dan penyelesaian (2021) memberikan perspektif yang lebih matang. Perbedaan gaya penulisan antara empat bab pertama yang ditulis pada 2003 dengan kelanjutannya terasa jelas, namun Seno memutuskan untuk mempertahankannya sebagai jejak perjalanan kreatif.
Novel ini bukan sekadar cerita perjalanan literal, melainkan kritik terhadap berbagai aspek sosial. Melalui tokoh-tokoh perempuan yang kuat, Seno mengeksplorasi tema survival, perjuangan hidup, dan ironi kehidupan. Ending yang melibatkan "orang-orang suci" yang justru menghancurkan para pelacur menjadi pertanyaan tentang siapa yang sebenarnya lebih suci.
"Saya memperlihatkan bagaimana orang yang mengaku suci itulah yang menghabiskan ini semua. Ini sebenarnya saya menantang kesucian, coba bandingkan sendiri mana yang lebih suci," tegas Seno.
Karya ini menunjukkan konsistensi Seno dalam mengeksplorasi tema-tema kontroversial melalui pendekatan naratif yang inovatif. Sebagai penulis yang telah melewati berbagai periode politik Indonesia, dari Orde Baru hingga era reformasi, pengalaman tersebut memberikan kedalaman perspektif dalam karyanya.
Novel "Para Pelacur dalam Perahu" akhirnya diterbitkan oleh Pabrik Tulisan, penerbit indie yang didirikan Seno sendiri sejak masa SMA. Hal ini mencerminkan semangat kemandirian dalam dunia penerbitan Indonesia, khususnya untuk karya-karya yang menantang konvensi.
Diskusi intim di Buku Akik ini mengungkap bahwa karya sastra tidak hanya soal estetika, tetapi juga tentang keberanian menghadapi sensor dan mempertahankan integritas artistik dalam jangka waktu yang panjang. (*)