BLITAR – Dunia politik di Indonesia kembali diwarnai dengan cara unik dari generasi muda. Seorang Gen Z berusia 25 tahun viral di media sosial karena kontennya yang berani membandingkan presiden Indonesia dengan karakter Hokage dalam serial anime Jepang, Naruto.
Fenomena ini mencuat setelah konten kreator tersebut hadir di podcast Raditya Dika. Dalam obrolan santai, ia menjelaskan bagaimana dirinya melihat ideologi para presiden Indonesia melalui kacamata pop culture.
“Yang saya lakukan itu sederhana, saya membandingkan personal ideologi tiap presiden dengan Hokage di Naruto. Ternyata orang-orang suka dan rame banget di media sosial,” ujarnya.
Konten satir politik ini dianggap segar sekaligus kontroversial. Sebab, politik yang biasanya dianggap kaku dan penuh ketegangan, dibalut dengan humor serta referensi anime yang digemari anak muda.
Raditya Dika sendiri mengaku terkejut dengan gaya satir yang ditampilkan tamunya tersebut. “Gua merasa ini ada anak muda ngomongin politik yang ngehe banget, jadi inget zaman gua diundang Panji isi acara provokatif proaktif,” kata Radit.
Selain membandingkan presiden dengan Hokage, konten kreator ini juga menyinggung isu serius lain, seperti budaya korupsi di Indonesia. Dengan gaya jenaka, ia menyebut bahwa negeri ini sangat “family friendly”.
“Indonesia is a family friendly place karena semua orang yang ada di atas sana berkeluarga semua,” ujarnya disambut tawa.
Meskipun tampak ringan, materi politik yang ia bawakan bukan tanpa riset. Sejak SMP, dirinya sudah terbiasa mengikuti lomba pidato bahasa Inggris yang sering mengangkat tema politik. Bahkan, ia mengaku pernah meneliti gaya orasi tokoh dunia seperti Abraham Lincoln, Barack Obama, hingga Ronald Reagan.
“Dulu saya totalitas banget, sampai nonton video pidato Lincoln, Obama, dan bahkan Hitler. Tapi hanya untuk mempelajari flow pidato mereka, bukan yang lain. Dari situ saya belajar cara delivery yang bisa menghipnotis pendengar,” ungkapnya.
Pengalaman ini membuatnya terbiasa menyajikan isu politik dengan cara kreatif. Tidak heran jika konten yang ia buat di media sosial mudah viral, terutama karena mampu menghubungkan politik dengan dunia hiburan yang akrab bagi Gen Z.
Salah satu yang paling mencuri perhatian adalah ketika ia mengaitkan politik luar negeri Indonesia dengan Jepang, Thailand, hingga Inggris. Analisis ringan tapi tajam ini membuat audiens mudah memahami isu yang sering kali dianggap rumit.
Namun, gaya satir ini juga mengundang pro dan kontra. Sebagian netizen menganggap perbandingan presiden dengan karakter fiksi terlalu berlebihan. Sementara lainnya menganggap cara ini efektif untuk menarik perhatian generasi muda agar peduli politik.
“Kalau bicara politik pakai bahasa formal saja orang bisa bosan. Tapi kalau disampaikan lewat Naruto, semua langsung kebayang dan relate,” tulis salah satu komentar di media sosial.
Fenomena ini memperlihatkan bagaimana Gen Z mencoba mendobrak cara lama dalam membicarakan politik. Dengan memanfaatkan media sosial, mereka mengemas topik serius menjadi hiburan yang mudah dicerna.
Bagi sebagian orang, mungkin satir ini terkesan nyeleneh. Namun bagi banyak anak muda, pendekatan seperti ini justru relevan dan menginspirasi.
Konten satir politik ala Gen Z ini menegaskan bahwa politik tidak harus selalu tegang dan penuh jargon. Dengan kreativitas, bahkan isu seberat presiden dan ideologi bisa dipahami dengan cara yang lebih sederhana.
“Yang penting bukan cuma soal lucu-lucuan. Tapi bagaimana kita bisa bikin orang mikir, ‘oh ternyata politik bisa dibahas dengan cara kayak gini’,” pungkasnya.
Editor : Anggi Septian A.P.