Mengapa Lukisan Dapat "Berhantu": Analisis Psikologi di Balik Fenomena Seni Supernatural
Rahma Nur Anisa• Jumat, 26 September 2025 | 15:00 WIB
Pareidolia, Sugesti, dan Trauma: Penjelasan Ilmiah Mengenai Lukisan Terkutuk
BLITAR KAWENTAR - Fenomena lukisan berhantu telah menarik perhatian publik selama berabad-abad, dari The Crying Boy yang tidak terbakar hingga The Anguished Man yang konon menyebabkan kerasukan.
Namun, apakah benar-benar ada kekuatan supernatural dalam karya seni, ataukah ini merupakan manifestasi dari proses psikologis yang kompleks? Para ahli psikologi dan neurosains memberikan perspektif ilmiah yang mengungkap misteri di balik lukisan-lukisan terkutuk.
Pareidolia: Ketika Otak Menciptakan Realitas Sendiri
Dr. Michael Gazzaniga, neurosaintis dari University of California, menjelaskan bahwa fenomena lukisan berhantu sering kali berkaitan dengan pareidolia, kecenderungan otak manusia untuk mengenali pola atau wajah pada objek yang sebenarnya tidak memiliki struktur tersebut.
"Mata manusia secara evolusioner diprogram untuk mendeteksi wajah sebagai mekanisme survival," jelas Dr. Gazzaniga. "Ketika melihat lukisan dengan komposisi tertentu, otak otomatis mencari pola wajah dan bahkan menciptakan interaksi imaginer dengan subjek lukisan."
Kasus Portrait of Bernardo de Galvez di Hotel Galvez Texas menunjukkan contoh klasik pareidolia. Tamu hotel melaporkan bahwa mata Jenderal Galvez "mengikuti" mereka saat berjalan. Secara ilmiah, ini terjadi karena teknik melukis yang menempatkan pupil mata menghadap langsung ke depan, menciptakan ilusi optik bahwa mata terus menatap pengamat dari berbagai sudut.
Sugesti Kolektif dan Pengaruh Media
Penelitian Dr. Elizabeth Loftus dari University of California Irvine menunjukkan bahwa ingatan manusia sangat mudah dipengaruhi sugesti eksternal. Dalam konteks lukisan berhantu, cerita-cerita supernatural yang beredar menciptakan ekspektasi psikologis yang dapat mempengaruhi persepsi seseorang.
Kasus The Crying Boy menjadi fenomenal setelah tabloid The Sun menerbitkan artikel tentang kebal api lukisan tersebut pada 1985. "Media massa memiliki kekuatan luar biasa dalam membentuk kepercayaan kolektif," ungkap Prof. Dr. Amanda Pustaka, psikolog sosial dari Universitas Indonesia.
Ketika seseorang telah mendengar cerita supernatural tentang suatu lukisan, otak akan cenderung menginterpretasikan pengalaman normal sebagai hal yang supernatural. Suara angin bisa dianggap bisikan, bayangan bisa dilihat sebagai penampakan, dan perubahan suhu ruangan bisa dirasa sebagai kehadiran entitas gaib.
Trauma dan Proyeksi Emosional
Death and the Child karya Edvard Munch (1899) menggambarkan anak kecil menutup telinga dengan sosok perempuan terbujur di ranjang. Lukisan ini lahir dari trauma pribadi Munch yang kehilangan ibunya karena tuberkulosis saat kecil.
Dr. Carl Jung, psikolog Swiss, menjelaskan konsep proyeksi psikologis di mana individu memproyeksikan perasaan internal mereka pada objek eksternal. "Lukisan yang menggambarkan trauma atau emosi intens dapat menjadi wadah proyeksi bagi pengamat yang memiliki pengalaman serupa," jelas Dr. Sarah Mitchell, art therapist dari London Art Institute.
Pengunjung yang melihat lukisan Munch sering merasa terganggu karena karya tersebut memicu respons emosional yang terkait dengan pengalaman kehilangan atau trauma masa kecil mereka sendiri.
Efek Nocebo dan Ekspektasi Negatif
Kebalikan dari efek plasebo, efek nocebo terjadi ketika ekspektasi negatif menciptakan dampak fisik yang nyata. Dalam konteks lukisan berhantu, ketika seseorang percaya bahwa suatu lukisan terkutuk, tubuh mereka dapat merespons dengan gejala fisik seperti merasa dingin, mual, atau cemas.
The Rain Woman karya Zoel Lana Tellets menunjukkan efek ini dengan jelas. Setiap pembeli yang mengetahui reputasi supernatural lukisan tersebut melaporkan gangguan tidur dan perasaan diawasi. Namun, tidak ada laporan gangguan dari orang yang tidak mengetahui latar belakang lukisan.
"Efek nocebo dapat menciptakan pengalaman supernatural yang terasa sangat nyata, meskipun akar penyebabnya adalah psikologis," ungkap Dr. Arie Sutrisno, psikiater dari RS Cipto Mangunkusumo.
Apophenia dan Pencarian Makna
Apophenia adalah kecenderungan manusia untuk mencari pola atau makna dalam kejadian acak. Dalam kasus The Anguished Man, pemilik Sean Robinson menginterpretasikan berbagai kejadian normal di rumahnya sebagai aktivitas supernatural setelah mengetahui sejarah lukisan.
Pintu yang terbuka karena angin, suara gedung yang mengembang karena perubahan suhu, atau refleksi cahaya yang tidak biasa, semuanya dapat diinterpretasikan sebagai fenomena supernatural ketika pikiran sudah terkondisisi untuk mencari bukti aktivitas hantu.
Terapi Seni dan Dampak Psikologis Positif
Meski beberapa lukisan menciptakan respons negatif, penelitian menunjukkan bahwa seni visual umumnya memiliki dampak terapeutik. Dr. Marygrace Berberian dari New York University menjelaskan bahwa melihat karya seni dapat menurunkan kadar kortisol (hormon stres) dan meningkatkan produksi dopamin.
"Lukisan yang dianggap berhantu sebenarnya berfungsi sebagai katalisator emosional yang membantu individu menghadapi ketakutan atau trauma mereka," jelasnya.
Penelitian ilmiah menunjukkan bahwa lukisan terkutuk tidak memiliki kekuatan supernatural dalam arti harfiah. Namun, dampak psikologisnya sangat nyata dan dapat mempengaruhi kesehatan mental serta perilaku seseorang.
Fenomena ini membuktikan kekuatan luar biasa dari persepsi manusia dan bagaimana pikiran dapat menciptakan realitas alternatif. Bagi pecinta seni, memahami aspek psikologis ini dapat membantu menikmati karya seni dengan perspektif yang lebih objektif sambil tetap mengapresiasi dampak emosional yang ditimbulkannya. (*)