Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Facial Wash Enggak Bisa Bikin Putih!” Dokter Tirta Bongkar Bisnis Skincare Para Dokter

Findika Pratama • Jumat, 26 September 2025 | 03:50 WIB
Facial Wash Enggak Bisa Bikin Putih!” Dokter Tirta Bongkar Bisnis Skincare Para Dokter
Facial Wash Enggak Bisa Bikin Putih!” Dokter Tirta Bongkar Bisnis Skincare Para Dokter

BLITAR – Fenomena dokter yang menjual skincare semakin marak di Indonesia. Mulai dari membuka klinik kecantikan hingga memasarkan produk sendiri, tren ini dinilai sebagai jalan pintas meraih keuntungan. Namun, Dokter Tirta memberikan peringatan keras terkait etika yang harus dijaga.

Dalam sebuah podcast, ia menegaskan bahwa tidak semua klaim produk benar. Banyak skincare overclaim hingga menyesatkan konsumen. “Facial wash enggak bisa bikin putih. Kalau ada yang bilang begitu, itu bohong. Kulit itu ditentukan genetik, bukan sabun,” kata Tirta blak-blakan.

Bisnis Skincare Lebih Cepat Untung

Menurutnya, bisnis skincare dan treatment non-resep tumbuh pesat karena lebih cepat menghasilkan. Jika membuka klinik medis murni, dokter harus mengeluarkan biaya besar untuk alat, obat, hingga laboratorium, sementara balik modal bisa memakan waktu bertahun-tahun.

“Kalau hanya mengandalkan jasa konsultasi dan alat, break even point bisa empat tahun. Tapi skincare tanpa resep, setengah tahun sudah balik modal,” ungkapnya.

Hal ini membuat banyak dokter, terutama yang masih muda, tergoda masuk ke industri kecantikan. Namun, fenomena tersebut menimbulkan polemik karena tidak semua dokter punya kompetensi di bidang dermatologi.

Etika Profesi Jadi Taruhan

Dokter Tirta tidak mempersalahkan dokter yang berbisnis. Baginya, menjual produk apapun sah-sah saja, asalkan jujur dan tidak menyesatkan pasien.

“Kalau dokter mau jualan makanan, sepatu, atau bahkan skincare, silakan. Tapi jangan overclaim. Jangan bilang produk bisa memutihkan atau menyembuhkan penyakit tertentu tanpa dasar medis,” tegasnya.

Ia menambahkan, klaim berlebihan bukan hanya melanggar etika profesi, tapi juga merusak kepercayaan publik terhadap dokter. “Kalau skincare saja sudah ngawur, orang bisa ragu ketika dokter itu kasih resep obat serius. Bahaya,” katanya.

Baca Juga: Hampir Mati Lampu! Pria Ini Panik Beli Token Listrik di Alfamart, Begini Cara Masukkannya

Regulasi Masih Longgar

Masalah lain adalah lemahnya pengawasan. Produk kecantikan sering lolos edar meski tidak memiliki bukti ilmiah kuat. Regulasi juga tidak seketat obat resep, sehingga produsen dan tenaga medis yang terlibat bisa lebih leluasa.

“Kalau pengawasan skincare masih kacau, bagaimana dengan obat kanker atau penyakit berat lain? Publik bisa dirugikan,” ujar Tirta.

Pesan untuk Generasi Dokter Muda

Kepada para dokter muda, Tirta menekankan pentingnya menjaga integritas. Ia mengingatkan bahwa gelar dokter tidak hanya soal kompetensi medis, tetapi juga kepercayaan masyarakat.

“Belajar jadi dokter bisa sampai 11 tahun. Jangan rusak reputasi dengan satu klaim skincare yang menyesatkan. Jadi dokter itu profesi mulia, jangan dikerdilkan hanya karena ingin cepat kaya,” pesannya.

Publik Diminta Lebih Kritis

Selain menyoroti dokter, Tirta juga mengimbau masyarakat agar lebih kritis dalam memilih produk. Jangan mudah percaya pada iklan yang menggunakan gelar dokter sebagai daya tarik.

“Kalau ada yang bilang facial wash bisa memutihkan, langsung kritis saja. Tanyakan dasar ilmiahnya. Jangan telan mentah-mentah hanya karena yang ngomong pakai jas putih,” ujarnya.

Dengan pernyataannya yang tegas, dokter Tirta membuka mata publik akan sisi lain industri kecantikan yang kerap luput dari perhatian. Ia berharap, etika medis tetap dijunjung tinggi meski tren bisnis skincare semakin menggoda.

Editor : Anggi Septian A.P.
#skincare #klinik kecantikan #Dokter Tirta